from nusantaraku to mang ojo

Berdasarkan UU 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum DPR, DPD, dan DPRD tahun 2009 pasal 202 yang berbunyi : * Pasal 202 ayat (1) : Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara sekurang-kurangnya 2,5% (dua koma lima perseratus) dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR. * Pasal 202 ayat (2) : Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam penentuan perolehan kursi DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. * Pasal 203 ayat (1) : Partai Politik Peserta Pemilu yang tidak memenuhi ambang batas perolehan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 202 ayat (1), tidak disertakan pada penghitungan perolehan kursi DPR di masing-masing daerah pemilihan. Maka, secara jelas memutuskan bahwa “Partai Politik Peserta Pemilu 2009 yang memiliki perolehan suara nasional (kumulatif) kurang dari 2,5%, maka suara partai politik tersebut hangus atau dengan kata lain tidak ada kursi di Senayan DPR. Jadi, meskipun ada partai tersebut (suara nasional kecil 2.5%) unggul di urutan pertama di salah satu provinsi, maka para caleg DPR mereka tidak berhak mendapat kursi di DPR RI. Jadi, dari 38 partai politik (Parpol) nasional, berapakah partai yang memenuhi batas ambang suara (threshold) 2.5% dan berapa banyak partai yang tidak memenuhi threshold 2.5% suara nasional.? Hasil Survei Quick Count (Arti 1) Dari situs detikpemilu (akses 10 April 2009), terdapat hasil Quick Count dari beberapa lembaga survei yakni Lembaga Survei Indonesia (LSI 1), Lembaga Survei Nasional (LSN), Lingkaran Survei Indonesia (LSI 2), dan Cirus. Rank LSI (1) LSN LSI (2) CIRUS 1 Demokrat 20,41% Demokrat 20,22% Demokrat 20,34% Demokrat 20,71% 2 PDIP 14,58% Golkar 14,79% Golkar 14,85% Golkar 14,46% 3 Golkar 13,98% PDIP 13,98% PDIP 14,07% PDIP 14,32% 4 PKS 7,76% PKS 7,37% PKS 7,82% PKS 7,5% 5 PAN 5,77% Gerindra 6,51% PAN 6,07% PAN 5,73% 6 PPP 5,22% PPPP 5,33% PPP 5,29% PKB 5,62% 7 PKB 5,17% PAN 4,97% PKB 5,20% PPP 5,34% 8 Gerindra 4,59% PKB 4,62% Gerindra 4,20% Gerindra 4,29% 9 Hanura 3,73% Hanura 3,43% Hanura 3,49% Hanura 3,5% 10 PKNU 1,44% PKNU 1,85% PBB 1,65% PKNU 1,57% Dari hasil Quick Count 4 lembaga survei di atas, maka dapat disimpulkan sementara : * Hanya ada 9 Parpol yang memenuhi ambang batas 2.5% seperti pada pasal 202 ayat 1 UU 10/2008. Artinya hanya caleg-caleg 9 partai inilah yang memiliki hak untuk mengirimkan caleg DPR RInya di Senayan. * Sisanya yakni 29 partai politik tidak memiliki kursi sama sekali di DPR RI. Jadi, meskipun partai-partai tersebut memiliki sekitar 1% suara nasional, semua suara caleg mereka akan hangus di tingkat DPR RI. Partai-partai tersebut yakni PBB (pemenang 2004), PKNU, PKPB, PDS (pemenang 2004), PBR (pemenang 2004), PDP, PPRN, PDK dan lainnya. Hasil Survei Quick Count (Arti 2) Berdasarkan hasil Quick Count beberapa lembaga survei di atas, dan dengan didasarkan UU 10/2008, maka dapat diperkirakan jumlah caleg DPR RI yang menduduki Senayan dari segi asal partai. Berikut ini landasan UU 10/2008 yang mengatur perolehan kursi DPR RI. * Pasal 202 (lihat bagian awal) * Pasal 21 : Jumlah kursi anggota DPR ditetapkan sebanyak 560 (lima ratus enam puluh). * Pasal 203 ayat (2) : Suara untuk penghitungan perolehan kursi DPR di suatu daerah pemilihan ialah jumlah suara sah seluruh Partai Politik Peserta Pemilu dikurangi jumlah suara sah Partai Politik Peserta Pemilu yang tidak memenuhi ambang batas perolehan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 202 ayat (1). * Pasal 203 ayat (3) : Dari hasil penghitungan suara sah yang diperoleh partai politik peserta pemilu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di suatu daerah pemilihan ditetapkan angka BPP DPR dengan cara membagi jumlah suara sah Partai Politik Peserta Pemilu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dengan jumlah kursi di satu daerah pemilihan. Jadi, dari UU tersebut dan didasarkan hasil survei lembaga tersebut, berikut prakiraan porsi kursi DPR RI. Partai Nasional (%) Kalibrasi (%) * 2009-2014 * 2004-2009** Demokrat 20.4 25.2 141 56 PDIP 14.6 18.1 101 109 Golkar 14 17.3 99 127 PKS 7.5 9.3 52 45 PAN 5.9 7.3 41 53 PPP 5.3 6.6 37 58 PKB 5.2 6.4 35 52 Gerindra 4.3 5.3 30 New Hanura 3.6 4.5 25 New Total 80.8% 100% 560 550 NB * : sekitar 20% suara nasional untuk caleg dari 29 partai politik yang tidak memenuhi ambang batas 2.5% akan hangus. Sedangkan sekitar 80.8 suara nasional 9 parpol pemenang pemilu ini akan mendapat “kalibrasi” suara menjadi 100% untuk pembagian kursi di DPR RI. Jumlah kursi tersebut hanya angka perkiraan dengan toleransi sekitar 10%. Perlu diperhatikan bahwa perolehan suara/kursi di Jawa lebih besar di banding non-Jawa. Jadi 10 juta suara di Jawa akan memiliki kursi yang lebih sedikit dibanding 10 juta kursi di Sumatera. NB ** : jumlah kursi DPR RI tahun 2004-2009 adalah 550 kursi dan 2009-2014 adalah 560 kursi. Dari data tersebut, terlihat semua partai besar 2004 kecuali Demokrat dan PKS mengalami pengurangan jumlah kursi di DPR. Partai Demokrat akan menggantongi sekitar 141 kursi di DPR, naik drastis dari tahun 2004 yakni hanya 56 kursi. Sedangkan Gerindra dan Hanura mampu menulang masing-masing 30 dan 25 kursi atau setara 5.3% dan 4.5% kursi DPR RI. Hasil Survei Quick Count (Arti 3) Berdasarkan hasil Quick Count beberapa lembaga survei di atas dan angka golput sekitar 30%, maka perolehan suara nasional yang sebenarnya dari suara rakyat adalah 1. Partai Golput : 30% suara 2. P Demokrat : 14.3% 3. PDI P : 10.3 % 4. Golkar : 9.8 % 5. PKS : 5.3% 6. PAN : 4.1% 7. PPP : 3.7 % 8. PKB : 3.6 % 9. Gerindra : 3.0% 10. Hanura : 2.5 % NB : Cara perhitungan = % suara nasional partai X (100% – 30% golput) Dengan menghitung suara absolut (suara pemilih + golput), maka pemenang pemilu 2009 adalah golput dan melebihi batas ambang nasional untuk capres yakni 25%. Ini bisa berarti “Capres Independen” perlu dipertimbangkan, mengingat 30% adalah non-partai atau golput. Sehingga, jika ada capres independen, maka ada kemungkinan suara golput dapat dikurangi. Penutup Dari data-data tersebut, ternyata pemenang pemilu 2009 adalah golongan putih atau golput. Angka absolut Golput 2 kali lebih banyak dari suara partai Demokrat. Bahkan angka absolut Golongan Putih 3 kali lebih banyak dari angka Golongan Karya. Sama-sama golongan, namun putih unggul dibanding kuning-karya. Semoga melalui Pemilu 2009, caleg-caleg yang terpilih benar-benar berkualitas baik moral maupun skill. Dan bila para caleg tersebut masih mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan tidak sesuai janjinya, maka siap-siaplah dikutuk hidup tidak tenang. Dan semoga para caleg ambisius maupun berdedikasi yang tidak memenangi Pemilu ini, jadilah ini sebagai pelajaran dan semoga dapat menerima kekalahan ini secara rasional. Kita tidak mengharapkan Anda-Anda para caleg mengalami gangguan kejiawaan. Dari hasil pemilu 2009 ini, yakinkah Anda ada perubahan yang berarti? Dan bagaimana nasib para caleg yang gagal?

Budi Arianto adalah mantan anggota Walhi nasional dan saat ini bekerja dengan Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh. Pak Yurian, ketua JKMA, dan Budi menyampaikan presentasi kepada LRWG pada tanggal 15 Juli 2005 dan beliau menjelaskan garis besar struktur sistem adat dan tokoh adat di Aceh. JKMA didirikan tahun 1999 yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dari system sistem adat ini dan JKMA merupakan salah satu dari organisasi lokal yang paling aktif di Aceh dalam melatih tokoh masyarakat, kader desa dan fasilitator masyarakat untuk LSM lokal (dan beberapa LSM internasional). Budi memulai presentasinya dengan mengatakan bahwa ia telah belajar banyak dari Pak Chris dan Lorna. Ia ingin mengilustrasikan elemen penting dari kerja fasilitasi masyarakat ini dengan menceritakan dua buah cerita kepada kelompok rapat: _ Sebuah masyarakat yang tidak mempunyai sumber air bersih di dekat desa mereka menerima bantuan dari sebuah organisasi besar dan dari pemerintah. Maka dipasanglah sebuah system yang baru dan agak canggih. Kemudian ada peresmian besar yang dihadiri oleh orang-orang terkemuka dan para perwakilan dari organisasi tersebut. Pada hari itu ada penyambutan yang semarak, kemudian hadirinpun pulang. Masyarakat setempat gembira…tapi itu hanya sementara, karena air tadi tak mengalir lagi dan bantuan selanjutnyapun tak kunjung datang. _ Seorang anak muda sedang melintas di sebuah desa dan ia melihat ada sekolompok pemuda sedang jongkok mengelilingi sebuah sepeda motor yang rusak. Anak muda ini berhenti dan membantu mereka memperbaiki sepeda motor itu sambil menjelaskan kepada mereka tentang seluk beluk sepeda motor dan bagaimana cara kerjanya. Kemudian dia melanjutkan perjalanannya. Beberapa minggu kemudian sepeda motor tadi rusak lagi. Pemuda-pemuda tadi menyangka bahwa mereka kembali ke masalah yang sama lagi, tapi itu tidak lama. Mereka tidak hanya tahu bagaimana cara memperbaiki sepeda motor tetapi sekarang mereka sudah mampu memfungsikannya kembali. Ini, jelas Budi, menggambarkan betapa pentingnya untuk mendekati masalah pengembangan masyarakat dengan memperhatikan apa yang paling diinginkan masyarakat. Banyak pihak yang saat ini tengah bekerja di Aceh percaya bahwa apa yang mereka lakukan adalah menolong masyarakat tetapi bagaimana caranya kita membantu agar masyarakat itu yakin bahwa mereka bisa menolong diri mereka sendiri? Tanya nya kepada peserta rapat. Mengapa begitu banyak perahu yang disumbangkan oleh berbagai pihak yang berniat baik itu ditinggal begitu saja? Jawabannya sederhana: karena sejak awal lembaga donor tidak sepenuhnya melibatkan masyarakat. Budi menjelaskan lagi bahwa memang benar beberapa organisasi – kalau bukan sebagian besar organisasi – melaksanakan pengumpulan informasi. ’Fasilitator’ atau petugas lapangan tiba di desa lengkap dengan formulir untuk diisi masyarakat, atau konsultasi masyarakat dikurangi sedemikian rupa sampai tinggal ’mencentang kotak’ saja. Memang, ini bias menghemat waktu tapi ini kan bukan mencerminkan apa yang paling diinginkan masyarakat.

Pendekatan JKMA

JKMA telah mengembangkan sistemnya sesuai dengan elemen-elemen utama dari pendekatan pendekatan yang telah dijelaskan oleh Pak Chris dan Lorna dan sistem ini dikelompokkan ke dalam empat bagian:

· Kontak

· Tindakan

· Permanen

· Ekspansi

Kontak: ‘Kontak pertama’ dengan masyarakat pada dasarnya merupakan suatu tahap yang pasif dimana para fasilitator perlu mengenal dahulu masyarakat tersebut – dimana dan kapan mereka berkumpul, mendengarkan masalah-masalah mereka dan memahami potensi dan sumber daya yang mereka miliki serta hambatan yang mereka hadapi. Acap kali LSM ‘terjun ke masyarakat’ dengan sebuah agenda yang mendiktekan tindakantindakan mereka, kata Budi. Misalnya, Mereka punya sebuah proyek tertentu untuk diterapkan, kemudian mereka mengatur rapat yang jadwalnya sesuai dengan kehendak organisasi. Sebaliknya, JKMA mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan masyarakat setempat menurut waktu dan tempat yang disukai masyarakat dan mereka bisa membincangkan semua permasalahan secara terbuka. Dalam tahap ini, JKMA juga mengidentifikasi siapa saja tokoh masyarakat di tempat itu dan JKMA berupaya membangun rasa percaya diri dari tokoh masyarakat ini dan rasa percaya diri masyarakat secara umum. Tindakan: Tindakan difokuskan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan masyarakat dan pendekatan Penilaian Pedesaan Partisipatif bisa digunakan jika masyarakat sudah siap, jelas Budi. Mereka lebih memfokuskan pada sumber daya yang ada daripada menyelesaikan masalah yang ‘mendesak’, tambahnya. Konflik dalam masyarakat itu ada dan akan tetap ada. Jadi, sebelum bertindak kita harus sudah benar-benar memahami hal ini. Pada tahap ini, fasilitator masyarakat menetap bersama masyarakat setempat. Pelatihan digunakan untuk mendukung kebutuhan apa saja yang sudah diidentifikasi masyarakat. Permanen: Ketika momentumnya sudah mulai terbangun, JKMA mulai berkonsentrasi pada permasalahan pokoknya: membangun sistem-sistem adat masyarakat yang sudah ada dan meningkatkan peran kepemimpinan mereka. Pembentukan ‘lembaga-lembaga’ baru untuk bekerja sama dengan LSM dalam program-program mereka telah menjadi perhatian utama JKMA sejak terjadinya tsunami dan JKMA sudah mengetahui bahwa lembaga-lembaga baru ini jarang yang bisa memenuhi harapan. Bahkan ketika ada pemilihan perwakilan, lembaga-lembaga baru ini menimbulkan dinamika baru dalam konflik yang sudah ada dan mereka menarik dukungan mereka dari mekanismemekanisme yang dulunya sudah berjalan. Mengapa organisasi-organisasi tidak memperhatikan hal ini? Tanya Budi. “Karena indikator-indikatornya tidak jelas,” lanjutnya. Para fasilitator JKMA tidak terus menerus hadir di desa/gampong pada tahap ini. Mereka mulai menarik diri ketika tugas mereka dianggap sudah cukup mapan supaya bisa bersiap ketahap berikutnya: Ekspansi: Tahap ini adalah puncak dari kegiatan-kegiatan yang dijalankan sebelumnya. Pada tahap ini ada perencanaan lebih lanjut dan membimbing masyarakat agar bisa memainkan peran penting dalam pengembangan mereka. Karena JKMA juga tidak ‘membawa uang ke masyarakat’, JKMA mengajak masyarakat untuk memikirkan tentang desa mereka lima sampai sepuluh tahun ke depan. Yang penting, tokoh masyarakat perlu mensosialisasikan program tersebut, melakukan pendekatan dengan masyarakat lainnya dan mengundang mereka untuk bekerja sama serta mengundang para fasilitator JKMA untuk memulai siklus program tersebut di suatu tempat yang baru.

Lorna dari Australia – Indonesia Partnership for Reconstruction and Development (AIPRD) malah kebalikan dari Pak Chris. Ia besar di Indonesia dan menghabiskan banyak masa mudanya bekerja di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa program AIPRD di Aceh terdiri dari tiga elemen:

1. Membangun kembali infrastruktur (rekonstruksi fisik)

2. Pemetaan tanah masyarakat, dan

3. Pembangunan masyarakat

Komponen yang terakhir, dimana Lorna terlibat langsung di dalamnya, melihat pada penyertaan masyarakat dalam arti yang seluas-luasnya, dan program pemerintah ini akan mengikutsertakan dan meningkatkan kemampuan aparatur pemerintah yang ada di desa sampai ke tingkat kecamatan. Filosofi dari program AIPRD ini sangat mirip dengan filosofi yang dipegang Pak Chris, ungkap Lorna, meskipun ada perbedaan pada modul pelatihannya serta cara disusunnya pelatihan itu agar bisa berhubungan dengan elemen-elemen lain dari program AIPRD dan agar bias mendukung kerja yang lain yang dilaksanakan dalam sebuah masyarakat . AIPRD yakin bahwa struktur untuk mendukung pemberdayaan, rekonstruksi dan pengembangan masyarakat itu sudah ada dan mereka mencari mekanisme ini dan ingin memperbaiki performanya. Di sini, AIPRD menggunakan manual yang dikembangkan oleh Kementerian Dalam Negeri dan Bapenas sebagai tuntunan asasnya. Manual ********* ini dibuat tahun 2004 tetapi dalam prakteknya belum diperkenalkan, jelas Lorna. Manual ini merupakan tuntunan sederhana tentang filosofi meningkatkan peran serta masyarakat dalam perencanaan dan dalam manual ini ada tabel-tabel dan lembar kerja sederhana yang bias digunakan untuk mencatat perkembangan (Versi manual dalam Bahasa Indonesia yang sudah di-scan bisa anda lihat di website).

Sebagaimana dijelaskan dalam Manual itu, pendekatan AIPRD dimulai dari dusun tempat pertama kalinya informasi dikumpulkan, kemudian di tingkat desa digunakan pendekatan Penilaian Pedesaan Partisipatif (participatory rural appraisal :P RA) yang menjelaskan semua faktor yang mempengaruhi kehidupan di desa tersebut, termasuk semua rencana pemerintah. ‘Kita perlu melihat bagaimana semuanya bisa saling berhubungan, jelas Lorna.

“AIPRD hanya membawa fasilitator” untuk mengadakan pemetaan masyarakat serta mengidentifikasi ‘kader desa’ yang potensial yang mempunyai inisiatif dan ada kemauan belajar yang penting artinya agar tercipta kepemimpinan yang berkualitas di masyarakat, kata Lorna. Ini penting, tambahnya, karena banyak kerja kader itu berputar sekitar bagaimana ‘melobi’ pemerintah, LSM dan para penyedia bantuan lainnya supaya semua kebutuhan yang telah diidentifikasi oleh masyarakat itu bisa terpenuhi. AIPRD sadar benar bahwa banyak LSM yang mengikuti model asas ini tetapi Lorna menekankan bahwa para kader AIPRD ini bukan ‘milik’ program AIPRD tetapi mereka semua disebut ‘kader membangun desa’. AIPRD mengajak LSM lain agar menggunakan pendekatan ini untuk memompa semangat rasa ikut serta dan untuk tetap menjaga agar kerja mereka sejalan dengan program pemerintah sebagaimana yang tertuang dalam Manual tersebut. AIPRD sangat membuka diri untuk bekerja sama dengan organisasi lain. AIPRD tidak mengadakan pemetaan masyarakat di suatu tempat jika LSM lain sudah membuat pemetaan masyarakat di tempat itu tetapi akan berupaya mendukung agar pemetaan yang dibuat itu terlaksana dengan baik. Dalam satu kasus, Mercy Corps menawarkan pelatihan microfinance di desa-desa dimana para kader AIPRD bekerja dan para pegawai lapangan MC ikut serta dalam pelatihan pengembangan masyarakat dan kepemimpinan yang diadakan oleh AIPRD. Lorna mengakui bahwa program ini adalah tugas berat dan ia juga mengakui bahwa masyarakat menginginkan jawaban pasti tentang penerimaan bantuan yang mereka butuhkan. Namun, AIPRD lebih ingin membantu mereka untuk mendapatkan akses terhadap sumber daya – membantu mereka ‘mempelajari sistemnya dan bagaimana mengejar tujuan mereka’ dalam konteks yang ada.

Sejumlah LSM bertanya kepada Lorna tentang pendekatan tersebut secara umum dan tentang pokok-pokok dari program tersebut dan ternyata mereka memiliki banyak persamaan, kecuali satu: LSM local sudah mulai menyelenggarakan pelatihan di bidang keuangan desa dan pengelolaan usaha lokal serta pengelolaan microfinance/dana bergulir. Pak Nuzul dari Asosiasi Penyedia Layanan Pengembangan Usaha (Korwil BDS) bertanya apakah kader desa itu bukannya semata-mata ‘perpanjangan tangan’ dari program AIPRD, beliau menyebutkan persepsi ini adalah persepsi umum yang berkembang dimasyarakat tentang organisasi-organisasi lain yang melakukan kerja serupa.Lorna menjelaskan bahwa sifat penyertaan dari proyek ini dan kenyataan bahwa proyek ini didasarkan pada Manual pemerintah mengindikasikan komitmen AIPRD untuk memberdayakan masyarakat setempat agar nantinya bias mengambil alih proses, karena LSM tidak akan beradadi sini selamanya.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Chris Lee dari DAI Menjelaskan Garis Besar Pendekatan Pelatihan yang Digunakannya

Pak Chris Lee lahir di Bandung, Jawa Barat “kira-kira 60 tahun yang lalu”, tetapi selama hidupnya lebih banyak tinggal dan bekerja di berbagai tempat kecuali di Indonesia. Pak Chris adalah warga negara Australia dan telah bekerja di banyak tempat di Filipina dan Kamboja. Di negara ini beliau mendirikan institut pelatihan HEDC. Daftar pelatihan ‘Operasi’ yang disesuaikan untuk program DAIUSAID yang sekarang tengah dikembangkannya di Aceh diedarkan dalam rapat ini (dan anda juga bisa melihatnya di website). Tugas beliau adalah mendukung program pemulihan berbasis masyarakat (CBR) DAI-USAID yang sedang berjalan di Pidie, Aceh Besar dan Aceh Jaya, dan akan mendukung keikutsertaan masyarakat dan inisiatif hak milik yang direncanakan untuk Bireuen, Aceh Utara dan Aceh Timur.

Tujuan program ini secara umum adalah:

Untuk memberdayakan masyarakat sipil dengan cara meningkatkan kemampuan mereka agar mereka bisa menentukan, merencanakan, menerapkan dan mengelola pemulihan dan pengembangan masyarakat mereka selanjutnya. Hasil yang diharapkan:

· Peningkatan penghidupan yang substansial dan berkelanjutan.

· Diterapkan dan didukungnya tata pemerintahan yang baik

· Adanya proses untuk pemulihan, re-integrasi dan pengembangan terpadu yang digerakkan oleh masyarakat yang bisa diadopsi dan disesuaikan. Pak Chris diminta untuk menjelaskan kepada LRWG tentang ‘filosofi pelatihan’ tersebut. Beliau meringkas pendekatan yang digunakannya itu dengan mengutip ucapan dari John Stuart Mill (1806-1873): Manusia tak mungkin bisa berkembang sebelum mereka mengubah pola pikir dasar mereka. “Mengapa orang yang sudah kita latih itu tidak menerapkan apa yang sudah mereka pelajari dalam kursus pelatihan tersebut?” tanya Pak Chris pada peserta rapat. Masalahnya adalah bahwa sebagian besar kursus pelatihan mengedepankan logika daripada perasaan dan motivasi. Masyarakat harus terlebih dahulu ‘memahami apa yang mereka pelajari’ baru mereka bisa percaya diri untuk mempraktekkannya. Filosofi ini disajikan dalam bentuk rumus berikut ini:

Pak Chris ingin membedakan secara jelas apa itu kecakapan dan apa itu kemampuan:

Kemampuan adalah daya untuk memahami informasi agar bisa menyelesaikan konflik sehingga pengembangan, ekspansi dan kemandirian bisa berjalan.

Kecakapan adalah kesanggupan untuk merealisasikannya.

Di sini hubungan ‘Kemandirian Masyarakat’ kita klasifikasikan seperti di bawah ini:

1. Sosial (manusia-manusia)

2. Lingkungan (manusia-bumi)

3. Sumber daya (uang, waktu, kenderaan)

Pak Chris menekankan bahwa kursus-kursus pelatihan yang dijalankannya menjunjung tinggi prinsip bahwa…Tujuan awal dan tujuan akhir dari pengembangan masyarakat adalah untuk mengembangkan para pemimpin…dan yang dimaksud dengan kepemimpinan itu adalah:

1. Menentukan arah

2. Mengarahkan masyarakat

3. Memberdayakan masyarakat

4. Menangani konflik

Kesimpulannya, pemimpin adalah sosok yang dihormati yang memberikan pelayanan kepada masyarakat, bukan sosok yang hanya memberi perintah. Saat ini program DAI memiliki 100 orang fasilitator/staf dan rencananya akan direkrut sebanyak 100 orang lagi. Menurut Pak Chris, fasilitator biasanya tidak menerapkan apa yang sudah mereka pelajari dalam latihan sampai mereka benar-benar mulai memberi pelajaran kepada orang lain. Karena itu, susunan kursus operacy ini menitikberatkan pada menggalakkan kepemimpinan yang efektif dan manajemen yang efisien: Kepemimpinan -> Pemberdayaan -> Perencanaan Masyarakat, Dep. SDM, Operasi Lapangan, Monitoring & Evaluasi (M&E)

E = MC2

Empowerment = Motivation + Capability + Capacity

Pemberdayaan = Motivasi + Kecakapan + Kemampuan

_ Motivasi adalah keinginan untuk menerapkan apa yang sudah kita ketahui.

_ Capability (Kecakapan) adalah keterampilan untuk melakukan sesuatu dengan benar (efisiensi)

_ Capacity (Kemampuan) adalah kesanggupan untuk melakukan hal yang benar (efektif)

Tata Pemerintahan yang baik = Kepemimpinan yang efektif + Manajemen yang efisien

Manajemen -> Kontrol -> Manajemen Keuangan, Manajemen SDM, Manajemen Perkantoran, Auditing

Kepemimpinan yang Efektif

Pemberdayaan diri

Kepemimpinan

Komunikasi/Fasilitasi

Perencanaan Partisipatif

Pemikiran kreatif

Monitoring & Evaluasi

Penanganan Konflik

Manajemen yang Efisien

Pengembangan CSO

Pengelolaan Hibah

Pinjaman Bergulir

Tata Buku

Pembuatan proposal

Manajemen Pelatihan

Membuat laporan

Jika anda mengajar orang cara memancing, maka orang itu bisa makan ikan sepanjang hayatnya

- Kuang Tzu – Abad ke-5 SM

Jika anda mengajar orang untuk berfikir maka mereka tak perlu lagi memancing sepanjang hayat

mereka.

- Paradigma CBR/CEO

Oleh: sutardjo70 | Maret 25, 2009

Mang Ojo Menjebak Tikus

tikus-cill

Oleh: sutardjo70 | Maret 25, 2009

Meningkatnya kemitraan dengan swasta dan masyarakat

Dari NN ke mang Ojo center

Peningkatan sarana dan prasarana pelayanan aparatur guna mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dengan lebih memberdayakan masyarakat dan seluruh kekuatan melalui hubungan kemitraan dalam usaha saling menunjang dan menguntungkan antara pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan organisasi kemasyarakatan dalam pengelolaan sumber daya alam serta sumber daya manusia. Sasaran tersebut dilaksanakan melalui program utama yaitu Program Pemberdayaan Masyarakat. Meningkatnya kemitraan dengan swasta dan masyarakat melalui enam indikator dapat disimpulkan bahwa sasaran ini telah sangat berhasil. Adapun indikator-indikator yang mewakili dan tingkat capaian kinerja sasaran tersebut adalah sebagai berikut : 1. Terealisasinya pembangunan prasarana fisik desa mencapai 100% dari target yang ditetapkan sebanyak 86 desa. 2. Terselenggaranya penyelenggaraan ibadah haji mencapai 100 %. 3. Tercapainya peningkatan bantuan keimanan dan ketaqwaan pejabat dan PNS di lingkungan Kabupaten Sleman sebesar 100%. 4. Tercapainya peningkatan swadaya masyarakat sebesar 100%. 5. Meningkatnya kemandirian BKM dalam program penanggulangan kemiskinan mencapai 100 %. 6. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa mencapai 100%. Sasaran ini diimplementasikan dalam Program Pemberdayaan Masyarakat, dengan beberapa kegiatan pendukung : 1. Bantuan gotong royong dan fasilitasi operasional bantuan gotong royong 2. Fasilitasi penyelenggaraan haji 3. Fasilitasi kegiatan hari besar keagamaan dan pembinaan rohani pejabat 4. Fasilitasi penunjang kegiatan KKN dan monitoring KKN Kecamatan 5. Pelaksanaan paket P2KP Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berbagai upaya untuk lebih memberdayakan masyarakat dalam rangka mensukseskan jalannya pembangunan antara lain melalui pemberian stimulan dana gotong royong sebesar Rp. 5.000.000.000,00, meningkat 35% dibandingkan tahun 2004 yang hanya sebesar Rp. 3.250.000.000,00. Sedangkan jumlah kegiatan dana gotong royong 1.355 kegiatan dengan menyerap swadaya masyarakat sebesar Rp 30.606.649.780,00. Peningkatan hubungan kemitraan dengan perguruan tinggi diberikan fasilitasi penunjang kegiatan KKN untuk 183 kelompok di 17 Kecamatan sebesar Rp 127.400.000,00 (99.53%) dari target sebesar Rp 128.000.000,00 Dalam rangka menumbuhkan minat usaha masyarakat di 32 desa diberikan stimulan bantuan pendampingan P2KP sebesar Rp 640.530.000,00 dan exit strategi untuk 1 lembaga sebesar Rp 47.100.000,00 Dalam bidang keagamaan telah dilakukan beberapa upaya yaitu fasilitasi penyelenggaraan haji sebesar Rp 303.608.415,00 dengan beberapa kegiatan antara lain : 1. Bantuan ONH bagi pembimbing dan petugas haji 8 orang. 2. Manasik haji (klasikal dan praktek) dilaksanakan 4 kali. 3. Pelatihan petugas haji satu kali sebanyak 15 peserta. 4. Ta’aruf calon jemaah haji sebanyak 1.191 orang. Disamping itu juga dilakukan pemberian bantuan kegiatan keagamaan, sebesar Rp 466.620.000,00 dengan beberapa kegiatan antara lain : 1. Penyelenggaraan STQ satu kali dan pengiriman kalifah MTQ sebanyak 55 orang. 2. Sarasehan kerukunan umat beragama sebanyak empat kali dengan peserta 100 orang. 3. Pembinaan tempat ibadah tiga kali dan kegiatan keagamaan 5 kali. 4. Pembinaan Desa Binaan Keluarga Sakinah (DBKS) menunjuk satu keluarga sembilan desa untuk satu RT. 5. Pembinaan kebersihan pondok pesantren 14 pondok pesantren. 6. Pembinaan dan pemberian bantuan Kaum Ro’is 2.300 orang @ Rp 100.000,00. Untuk mewujudkan meningkatkan kemitraan dengan swasta dan masyarakat ditempuh dengan kebijakan: 1. Meningkatkan iman dan taqwa serta kerukunan antar umat beragama; 2. Meningkatkan ketahanan sosial dan pemberdayaan penyandang masalah sosial; 3. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam penanganan masalah sosial dan penanggulangan kemiskinan.

Oleh: sutardjo70 | Maret 6, 2009

Evaluasi Dampak Program Berbasis Masyarakat

kartun-laptop_(disarikan Hand Book Community-Base Impact Evaluation AusAid – Indonesia )

Dalam evaluasi dampak berbasis masyarakat diamati hal-hal sbb:

Perubahan yang dialami pada tingkat individu dan keluarga, antara lain menyangkut perubahan ketrampilan dan pengetahuan, perubahan pendapatan (peningkatan atau penurunan), kesejahteraan hidup serta relasi antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Perubahan yang terkait keterlibatan orang miskin dan perempuan dalam komunitasnya (masyarakat desa, kelompok-kelompok) dan peran perempuan dan orang miskin dalam pengambilan keputusan di tingkat desa/ komunitas sekaligus sejauh mana ada perubahan pada para penguasa terkait mempertimbangkan keterlibatan dan kepentingan kelompok orang miskin dan tujuan. Perubahan yang terkait dengan kerja sama dengan pihak luar terutama yang terkait dengan perubahan hubungan, perubahan posisi tawar dan kemampuan untuk mencari dukungan dari pihak lain bagi pengembangan komunitas. Pertanyaan kunci terkait keberlanjutan hasil program maupun proses, terutama menyangkut kemampuan untuk memelihara dan mengembangkan program.

Penilaian terhadap pelayanan yang diberikan oleh fasilitator/lembaga pendamping Pandangan masyarakat miskin dan perempuan tentang keuntungan atau kerugian ikutserta dalam program baik dari segi ekonomi, pembelajaran, dsb. Peserta Peserta utama yang terlibat dalam proses evaluasi adalah masyarakat yang berpartisipasi di dalam program, yaitu masyarakat miskin pada umumnya dan perempuan pada khususnya. Untuk memastikan perempuan dan laki-laki mendapat kesempatan yang sama dalam diskusi maka kita pisahkan kelompok diskusi laki-laki dan perempuan agar supaya masing-masing kelompok bisa memberikan pandangan tentang capaian dan dampak program. Kemudian tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka di dalam pleno. Tim Fasilitator Evaluasi dampak dilakukan melalui proses diskusi dengan kelompok penerima manfaat. Diharapkan bahwa diskusi ini dipandu oleh fasilitator yang tidak berpihak dan obyektif, misalnya anggota badan pengurus LSM, fasilitator luar atau oleh staf LSM yang tidak langsung terlibat dalam program. Ini diperlukan agar informasi yang diperoleh, pembelajaran yang dipetik dan rekomendasi yang disusun, bisa lebih tajam dan bermanfaat ke depan. Karena diskusi diadakan di dalam kelompok terpisah dan juga diperlukan pendokumentasian proses maka perlu dibentuk ‘Tim fasilitator” dengan uraian tugas yang jelas sehingga proses fasilitasi dan proses pendokumentasian terjamin mutunya. Peran Fasilitator Seperti biasa seorang fasilitator perlu menyiapkan diri sebelum kegiatan dimulai agar proses evaluasi dampak ini fokus pada upaya pemberdayaan. Fasilitator tidak secara cepat mencari jawaban masyarakat atas pertanyaan yang ada, namun dia bisa dikatakan berhasil apabila jawaban itu lahir dari sebuah proses yang menarik dan memberdayakan. Jadi ia bertanggungjawab pada proses, bukan pada hasil dari jawaban – apabila proses membosankan, proses dirasa panjang, ada yang tinggalkan ruangan, diskusi didominasi oleh beberapa orang atau orang tertentu, dsb maka fasilitator tidak melakukan perannya dengan baik. Persiapan Fasilitator sebelum kegiatan Tim fasilitator menyatukan pemahaman tentang tujuan dan proses evaluasi dampak berbasis masyarakat Tim fasilitator menyatukan pemahaman tentang inti tiap pertanyaan dan merumuskan bersama beberapa pertanyaan penggali (probing question) yang akan membantu melancarkan dan memfokuskan proses diskusi di kelompok. Tim fasilitator membagi peran agar terjamin bahwa proses berjalan dengan baik – perlu orang yang memfasilitasi di tiap kelompok dan perlu orang yang mendokumentasikan ungkapan masyarakat (baik tentang perubahan yang dialami serta buktinya maupun tentang penyebab perubahan tersebut).

Oleh: sutardjo70 | Februari 12, 2009

KIAT MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL

kick-andy

Anda dapat meningkatkan kemampuan memahami diri sendiri dengan cara sebagai berikut:

a. Belajarlah membedakan antara berpikir dan merasakan sesuatu. Benar-benar tahu bedanya “saya berpikir” dan “saya merasakan” jika anda ingin lebih tahu tentang diri anda sendiri. Bertanyalah selalu pada diri anda. Apakah kesimpulan yang anda ungkapkan berangkat dari pikiran atau perasaan? Contohnya: “saya pikir biaya kegiatan pelatihan ini terlalu mahal” dan “saya merasa peduli melakukan sesuatu yang berbeda sekarang”.

b. Bertanyalah pada diri sendiri bagaimana perasaan anda sepanjang hari dan jujurlah. Detak jantung yang cepat atau wajah anda yang menjadi merah karena malu atau bernafas pun sulit karena tertekan, semua ini adalah reaksi spontan. Tanyalah pada diri sendiri: “Apa perasaan sebenarnya dibelakang semua tersebut?” Inilah perasaan takut gelisah, semangat. Walaupun perasaan ini bisa menyakitkan, tapi jangan menyerah karena lebih baik hadapi sakitnya sekarang daripada berfikir rasional dan mengabaikannya, kemungkinan sewaktu-waktu kembali serta selalu menghantui diri Anda.

c. Terbukalah dengan berbagai masukan dari orang lain. Teman-teman Anda bias menjadi nara sumber untuk pencerahan tentang perilaku kita. Mintalah umpan balik dari rekan kerja bagaimana sikap dan perilaku Anda serta apakah Anda jujur pada diri sendiri. Sampaikan apa adanya, jangan memaksakan diri untuk menutupi diri ketika Anda tahu, dan sebaliknya jujur dan tulus sampaikan ketika Anda memang tidak tahu.

Beberapa Saran agar Kita Mampu Mengatur Diri Sendiri

· Pantaulah cara anda bicara secara cermat. Seringkali kita menggunakan cara bicara yang negatif karena kita berangkat dari kekhawatiran bukan kekuatan. Ini membuat perspektif kita tentang apa yang sedang terjadi menjadi sangat rancu. Berangkat dari kekhawatiran berakibat pada pengambilan keputusan yang buruk atau bahkan tidak mengambil keputusan sama sekali, sehingga kita merasa menjadi korban. Sebaliknya, rasa sadar diri dapat menuju pada kesediaan untuk bertanggung jawab, mengambil keputusan, dan biasanya juga berakibat pada pengambilan tindakan yang tepat. Dengan sendirinya, ada perasaan bahwa kita diberdayakan.

· Bertanggungjawablah terhadap tanggapan emosi anda. Jika anda siap untuk bertanggung gugat, maka anda mengakui kekuatan anda sendiri.

· Berjaga-jagalah terhadap pemicu emosi anda dan siapkan diri untuk mengelolanya. Kita semua mempunyai rasa enggan untuk melakukan hal-hal tertentu-membuat laporan, menggali informasi untuk menyelesaikan pekerjaan, mengubah jadwal perjalanan untuk sekian kalinya yang sering membuat kita menjadi emosi. Kenali hal-hal apa saja yang memancing emosi Anda dan redakan situasi sebelum terjadi lewat perencanaan dan persiapan yang baik. Sediakan waktu yang cukup, tempat yang sunyi untuk bekerja, musik yang menenangkan, apapun yang bisa menenangkan diri Anda dan mencegah terjadinya ledakan emosi.

· Jika ada situasi yang menyebalkan, cobalah untuk melihat dari sisi lain dan jadikan peluang pemecahan masalah. Jika Anda menghadapi situasi yang memancing reaksi emosional yang tidak diinginkan, kurangi kemarahan Anda dengan memusatkan perhatian pada perilaku yang memancing emosi itu, bukan orangnya. Jadikan perilaku itu sebagai masalah yang dihadapi, bukan orangnya yang bermasalah. Pikirkan apa yang bisa Anda lakukan untuk tidak terpancing oleh perilaku itu di lain waktu.

· Gunakan humor! Ketika Anda merasa kesal, carilah sesuatu yang dapat membuat Anda tertawa. Tertawa bisa meringankan perasaan, membantu kita menggunakan kecerdasan dengan lebih efisien, dan membuat kita tidak terlalu kritis pada orang lain.

· Sadari kekuatan melakukan kegiatan menarik nafas panjang. Meningkatkan aliran oksigen ke otak bisa meredahkan ketegangan, mencerahkan pikiran serta mempunyai dampak menenangkan pada jiwa dan raga kita. Dengan menarik nafas panjang kita juga memperoleh waktu sedikit untuk berpikir sebelum membuka mulut dan bicara.

· Keluarkan diri Anda dari situasi itu dan lakukan kegiatan lainnya. Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dengan menarik diri dari situasi buruk dan mengalihkan energi kita pada kegiatan baru, misalnya membersihkan ruangan, merapihkan meja, atau berjalanjalan sebentar mencari udara segar. Kegiatan-kegiatan ini bisa membantu Anda memperoleh kembali perspektif yang jernih, meningkat perhatian, dan memberi semangat baru sebelum kembali mengerjakan apa yang kita tinggalkan untuk sementara itu.

Beberapa Cara untuk Meningkatkan Motivasi Anda

· Sadari bagaimana Anda menjelaskan kemunduran pada diri sendiri. Jagalah agar tetap realistis. Anda dapat mengontrol dan memilih apa yang Anda pikirkan dan rasakan. Mengenali sejauh mana Anda bertanggungjawab pada kemunduran, dan sejauh mana orang lain atau situasi juga berperan, mempunyai pengaruh pada tindak lanjut yang Anda ambil. Tingkatkan semangat dengan tetap melihat persoalan pada tempatnya.

· Dapatkan semangat dari menghubungkan tujuan yang ingin Anda capai dengan nilai-nilai Anda. Jika Anda bisa mengaitkan hubungan antara apa yang dilakukan dengan sesuatu yang bernilai bagi Anda, serta melibatkan perasaan Anda, maka membangun momentum untuk melakukan hal tersebut menjadi lebih mudah. Pusatkan perhatian pada tujuan yang ingin dicapai sehingga pada akhirnya Anda mendapat kepuasan dari menyelesaikan pekerjaan apapun yang dilakukan.

· Kejarlah situasi ‘mengalir’ ketika bekerja. Mencapai situasi ‘mengalir’ ketika melakukan sesuatu, artinya diri kita secara menyeluruh terlibat dalam apa yang kita lakukan pada saat itu, tidak terpengaruh masa lalu ataupun masa depan dan otak kita begitu focus pada apa yang dikerjakan sehingga tidak peduli lagi pada hal lain dan menjadi ‘otak tenang’ karena dipenuhi dengan adrenalin. Perhatian menyeluruh seperti ini membantu kita untuk bisa mempunyai kinerja yang baik.

· Buatlah bayangan atas suatu situasi. Dengan menciptakan bayangan tentang situasi menantang yang akan dihadapi, Anda bisa mengalami perasaan yang muncul seolaholah situasi itu sedang terjadi. Dengan berlatih seperti ini kita bisa menenangkan perasaan dan mempersiapkan diri terhadap kejadian sesungguhnya. Di samping itu, kita akan menjadi lebih bersemangat dan percaya diri.

· Belajarlah terus! Dengan menambah alat-alat belajar baru, kita bisa menjadi semakin berbahagia dan lentur. Pengetahuan adalah kekuatan yang bisa memperkaya kita dalam menghadapi berbagai situasi yang tak terduga.

1207

Beberapa Teknik Meningkatkan Empati Anda

· Carilah petunjuk-petunjuk non-verbal sambil menyimak dan menangkap petunjuk–petunjuk verbal. Penelitian menunjukan bahwa komunikasi antar manusia hanya 7 % yang bergantung pada kata-kata. 38 % tergantung pada intonasi dan kecepatan bicara, sedangkan 55 % sisanya terungkap dari apa yang tidak dikatakan seperti bahasa tubuh, kontak mata, raut muka dan lain-lain. Simaklah dan amatilah tanda-tanda verbal atau non-verbal guna menilai emosi seseorang.

· Bersikaplah terbuka dan jujur tentang perasaan Anda. Komunikasi yang baik melahirkan kepercayaan. Semakin Anda terbuka dan mau menceritakan perasaan Anda, semakin tinggi rasa percaya dan keterbukaan yang akan Anda lahirkan pada orang lain. Semakin tinggi rasa percaya dalam lingkungan kerja maka semakin tinggi pula kualitas pekerjaan yang dilakukan dan dihasilkan.

· Bersikaplah konsisten sesuai pesan lisan dan non-verbal Anda. Apa yang Anda katakana harus sesuai dengan apa yang Anda lakukan. Yang menimbulkan kepercayaan. Misalnya, jika Anda mengatakan Anda senang bertemu dengan seseorang, tunjukan dengan senyuman, bukan dengan bersungut-sungut atau membuang muka.

· Pilihlah bersikap baik setiap saat dan dimana saja. Ada banyak cara untuk menyampaikan pendapat dan kritik. Anda bisa tetap jujur dan memberikan umpan balik positif yang meningkatkan rasa percaya diri orang lain. Umpan balik konstruktif dapat meningkatkan kemampuan orang lain. Menggunakan keduanya menunjukan bahwa Anda sungguh-sungguh berharap orang lain berhasil.

· Cobalah melihat sesuatu dari sisi orang lain. Empati berarti membayangkan apa yang di rasakan jika anda menjadi orang lain. Berikan kepercayaan kepada orang lain. Kita harus asumsikan bahwa semua orang melakukan yang terbaik dengan sumber daya yang mereka miliki pada saat itu. Keefektifan hubungan dengan orang lain. Kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi diri dan empati adalah pondasi untuk membangun hubungan yang efektif dengan orang lain.

Kelima unsur di muka menjadi unsur penting dalam membangun relasi-relasi sosial yang berkualitas dan mendorong kelompok atau orang lain untuk mampu bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama.

Beberapa Teknik Mengembangkan Hubungan Yang Efektif

· Tularkan kegairahan dan semangat Anda serta mimpi Anda kepada orang lain! Semakin banyak orang lain merasakan semangat yang Anda miliki terhadap apa yang Anda kerjakan, mereka juga akan bersemangat. Dengan demikian apa yang Anda lakukan menjadi berarti bagi semuanya.

· Ciptakan lingkungan belajar yang bisa memberikan inspirasi. Jika anda menunjukan kejujuran, kepercayaan dan apresiasi terhadap orang lain, maka anda telah menciptakan lingkungan belajar paling tepat bagi semua untuk bekerja sebaik-baiknya.

· Bersedialah untuk membantu orang lain untuk terbuka menerima bantuan orang lain. Ini adalah ketrampilan terpenting yang harus dimiliki. Dengan membagi pengetahuan dan keahlian kepada orang lain, maka Anda juga membagi informasi kepada orang lain. Dengan membiarkan orang lain membantu Anda, maka Anda menunjukkan bahwa Anda bukan orang yang tahu segala hal.

Fasilitator lapangan perlu kecakapan emosional. Tentu saja tidak semua kecakapan emosional di atas harus dipenuhi oleh seorang fasilitator lapangan. Tetapi, seorang fasilitator lapangan andalan sekurang-kurangnya memiliki kecakapan pribadi dan ketrampilan social sebagai berikut:

· Percaya diri. Fasilitator harus percaya pada kemampuan diri.

· Kendali diri. Fasilitator mampu mengelola emosional dan tidak defensif.

· Sifat dapat dipercaya. Fasilitator harus memelihara kejujuran dan integritas.

· Minat. Fasilitator harus menunjukan minat pada orang-orang di sekitarnya.

· Empati. Fasilitator harus mampu menyimak apa yang dikatakan orang lain dan memahami perasaan orang lain baik dari kata-kata, nada suara maupun bahasa tubuhnya.

· Adaptabilitas. Fasilitator harus mampu menghadapi perubahan dan bersedia mengubah diri. Untuk dapat membangun keyakinan dan percaya diri kita khususnya sebagai fasilitator lapangan, ada beberapa langkah yang perlu ditempuh (sebagai alternatif untuk dipertimbangkan):

* Miliki citra diri yang baik. Jika kita bercermin, kita akan melihat kenampakkan diri kita sendiri. Sebenarnya tanpa cermin-pun kita mempunyai gambaran atau pandangan tentang diri kita. Gambaran tersebut tidak begitu berpengaruh terhadap kenampakkan penampilan kita, tetapi lebih pada keseluruhan kepribadian kita.

* Pandanglah/anggaplah kecemasan itu seperti apa adanya.

* Jangan biarkan ketidakberanian menguasaimu.

* Kenalilah kebutuhan yang paling penting.

* Identifikasi kemampuan pribadi dan keberhasilan yang telah dicapai dalam menjalankan peran sebagai fasilitator.

* Singkirkanlah kelemahan-kelemahan yang kita miliki dan pusatkan pikiran untuk mengurangi atau menghilangkannya.

* Luaskan pengetahuan kita pada lingkungan di mana kita terlibat sebagai fasilitator.

* Bersikaplah sebagai fasilitator yang baik bukan pemberi solusi.

* Kembangkanlah kemampuan dan keterampilan diri sebagai fasilitator lapangan.

* Membangun keyakinan diri adalah tugas seumur hidup.

Oleh: sutardjo70 | Februari 6, 2009

MENGENAL DAN MEMAHAMI KEMAMPUAN DIRI SENDIRI

buncit-merdeka

MENGENAL DAN MEMAHAMI KEMAMPUAN DIRI SENDIRI UNTUK FASILITATOR LAPANG

Disarikan dari Materi penguatan FFPM

“Tak ada yang istimewa yang pernah dicapai kecuali oleh mereka-mereka yang berani percaya bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang lebih unggul disbanding keadaan” (Bruce Barton).

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan baik dari pengetahuan, ketrampilan maupun sikapnya. Kita memiliki kemampuan untuk mengenali dan mencari diri kita sebenarnya. Kondisi ini dapat kita ketahui melalui pengalaman, wawasan dan sikap kita dalam berprilaku sehari-hari. Misalnya, kita telah menyelesaikan suatu perkerjaan dan hasil dari pekerjaan yang kita lakukan mendapat respon positif dari orang-orang di sekitar kita.

Orang-orang terlibat dalam pekerjaan tersebut dan oleh orang-orang yang membutuhkan hasil dari pekerjaan kita, maka kita akan percaya pada kekuatan dan kemampuan diri kita untuk melakukan sesuatu. Tetapi jika respon negatif yang kita terima maka kekuatan dan kemampuan kita bagaikan harta tenggelam yang perlu ditemukan dan diangkat kepermukaan.

Karena itu sebagai seorang fasilitator lapangan kita harus mengenali dan memahami kemampuan diri kita sendiri untuk mendukung implementasi peran dan fungsi kita sebagai fasilitator lapangan. Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengenal dan memahami kemampuan diri sendiri antara lain:

  • · Identifikasi kemampuan pribadi dari aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap.
  • · Identifikasi apa yang menjadi kelemahan-kelemahan kita baik pada aspek pengetahuan,keterampilan  maupun sikap.
  • · Temukan apakah kelemahan tersebut dapat diatasi dan strategi apa yang bias dilakukanuntuk mengurangi atau menghilangkan kelemahan itu.
  • · Secara berkala lakukan penilaian pada diri sendiri yang dapat mendorong adanya perubahan pribadi karena bisa menciptakan perasaan-perasaan baru, temuan-temuan baru, kemampuan-kemampuan baru, dan lain-lain.

Mengapa memahami dan mengenali kemampuan diri sendiri itu penting? Memahami dan mengenali kemampuan diri sendiri berarti kita sadar diri. Kesadaran diri adalah pondasi paling besar yang membangun seluruh kecerdasan emosional. Jika kita tidak tahu siapa diri kita atau apa yang kita rasakan lantas bagaimana kita bisa tahu atau memahami seseorang atau apa yang mereka rasakan.

Keterampilan fasilitasi untuk mengelola dan memantau emosi orang lain serta memahami perbedaan emosi diantara mereka dan memanfaatkannya dalam memantau

pikiran dan tindakan mereka, memerlukan kesadaran diri. Dalam konteks seorang fasilitator lapangan, maka memahami dan mengenali kemampuan diri sendiri itu penting karena sebagai orang yang hadir di tengah masyarakat untuk menggerakkan mereka dalam melakukan perubahan tentunya harus memiliki keyakinan dan kepercayaan diri. Dengan mengenal dan memahami kemampuan diri ini akan memberikan keyakinan dan percaya diri kita dalam menjalankan peran dan fungsi sebagai fasilitator lapangan. Jadi mengenali dan memahami kemampuan diri itu penting sebagai salah satu bagian yang mampu membangkitkan keyakinan dan kepercayaan diri kita. Pada akhirnya, kemampuan memahami dan menggunakan kekuatan emosional kita dengan bijaksana menjadi keharusan seorang fasilitator lapangan. Hal tersebut sering disebut ”Kecerdasan Emosional”.

Mengenal Kecerdasan Emosional

Kecerdasaran emosional berarti: menjadi sadar pada diri sendiri dan perasaan orang lain, menjadi pintar menggunakan emosi Anda, menggunakan kekuatan perasaan Anda untuk memotivasi diri dan orang lain serta mengetahui bagaimana Anda mengendalikan emosi diri.

Kecerdasan emosional merujuk kepada kemampuan mengenali diri sendiri pada perasaan orang lain. Perasaan ini kemudian diekspresikan secara tepat dan efektif sehingga memungkinkan seseorang bekerjasama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama.

Ketrampilan menggunakan kecerdasan emosional bertumpu pada lima hal pokok, yakni: kesadaran diri, motivasi diri, pengaturan diri, empati dan kecakapan membina relasi yang efektif dengan orang lain. Kecakapan emosional adalah seberapa banyak kelima unsure tersebut diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya di lingkungan kerja.

Kecerdasan emosional yang tinggi tidak menjamin seseorang berkesempatan mempelajari kecakapan-kecakapan emosional yang diperlukan di lingkungan kerja. Tetapi dia mempunyai potensi maksimum untuk mengembangkan kecerdasan emosionalnya. Kecakapan emosional bekerja secara sinergi dengan ketrampilan kognitif. Makin kompleks suatu pekerjaan, makin banyak diperlukan kecakapan emosional.

Unsur-unsur Kecakapan Emosional

Kecakapan emosional dibagi menjadi dua yakni (1) kecakapan pribadi dan (2) kecakapan sosial. Kecakapan pribadi menentukan bagaimana mengelola diri sendiri, sedangkan kecakapan sosial menentukan bagaimana mengelola hubungan dengan orang lain. Kecakapan pribadi meliputi kesadaran diri, pengaturan diri, dan motivasi diri. Kecakapan sosial meliputi empati dan keefektifan membangun relasi.

1. Kecakapan Pribadi

a. Kesadaran diri (mengetahui kondisi diri sendiri, minat, kemampuan diri, dan intuisi).

Tahu tentang apa yang anda sukai, apa yang tidak anda sukai, apa yang membuat bergairah dan seterusnya.

  • Keadaan emosional           : Mengenali emosional diri sendiri dan efeknya.
  • Penilaian diri secara teliti : Mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri.
  • Percaya diri : Keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri.

b.  Pengaturan diri (mengelola kondisi dan sumber daya diri sendiri)

Mengelola semua hal yang berkaitan dengan kepribadian dan membuatnya menjadi lebih baik dan bukannya menjadi lebih buruk. Bila tahap pertama adalah kesadaran diri untuk menyimak dan belajar dari perasaan yang paling dalam. Tahap kedua adalah mengelola perasaan-perasaan itu agar menjadi sesuatu lebih baik.

Kegairahan kita bersifat menular demikian pula sesuatu yang buruk dari dalam diri kita akan merusak suasana dan membuat segala sesuatu bertambah buruk. Contoh: Bila kita marah, kita tidak bisa membuat keputusan yang baik. Kerap bereaksi berlebihan dan sulit mengendalikan emosi. Kita kehilangan perspektif kita. Dengan mempelajari cara mengatur diri maka kita bisa beradaptasi dan berinovasi pada situasi yang amat buruk.

  • Kendali diri : Mengelola emosi-emosi dan desakan hati yang rusak.
  • Sifat dapat dipercaya : memelihara norma kejujuran dan integritas.
  • Kewaspadaan             : Bertanggung jawab atas kinerja pribadi.
  • Adaptabilitas : Keluwesan dalam menghadapi perubahan.
  • Inovasi : Mudah menerima dan terbuka terhadap pendekatan, dan informasi-informasi baru.

c.  Motivasi (kecenderungan emosional yang mengantar atau mempermudah pencapaian sasaran).

Membayangkan hasil yang ingin dicapai dan lakukan langkah-langkah tepat untuk meraihnya. Setelah kita sadar pada perasaan kita dan belajar mengelolanya, tahap ketiga adalah memanfaatkan kekuatan emosi-emosi kita untuk sesuatu hal yang bisa memotivasi dan memberikan inspirasi kepada kita. Orang yang memiliki motivasi tinggi akan fokus pada tujuan dan tanggungjawabnya meskipun menghadapi berbagai hambatan atau harus mundur terlebih dahulu kebelakang.

  • Dorongan prestasi : Dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan.
  • Komitmen               : Menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok.
  • Inisiatif                    : Kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan.
  • Optimisme               : Kegigihan dalam memperjuangkan sasaran meskipun ada halangan dan kegagalan.

2. Kecakapan Sosial

a. Empati (kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain).

Menyadari perasaan, kebutuhan dan kepedulian orang lain, kemampuan melihat dari sisi lain. Setelah kita menjadi lebih jujur dan sadar pada emosi-emosi yang kita miliki maka kita perlu memanfaatkan seluruh ketrampilan itu untuk diterapkan saat berkomunikasi dengan orang lain. Kecerdasan emosional menyelaraskan perasaanperasaan yang kita miliki dengaan perasaan-perasaan orang di sekitar kita agar kelompok bisa meraih kesuksesan.

Empati adalah kemampuan melihat dari perspektif orang lain. Adalah sesuatu yang bisa merasakan apa yang dialami orang lain tapi Anda harus tetap ingat itu bukan perasaan kita. Empati dimulai dari menyimak. Tak seorang pun akan mendengarkan kita bila kita tidak menyimak kata-kata mereka.

  • Memahami orang lain         : Memahami perasaan & cara pandang orang lain, menunjukkan minat aktif,

terhadap kepentingan orang lain.

  • Orientasi pada pelayanan        : Mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain.
  • Mengembangkan orang lain   : Merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan mereka.
  • Mengatasi keragaman             : Menumbuhkan peluang melalui pergaulan dengan bermacam–macam orang.
  • Kesadaran politis : Mampu membaca arus emosional sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan.

b. Keterampilan sosial (kepintaran menggugah tanggapan yang dikehendaki dari orang lain).

  • Pengaruh                              : Memiliki taktik melakukan persuasi.
  • Komunikasi : Mengirimkan pesan dengan jelas danmeyakinkan.
  • Kepemimpinan                    : Membangkitkan inspirasi, memandu kelompok dan orang lain.
  • Katalisator perubahan       : Memulai dan mengelola perubahan.
  • Manajemen konflik : Negoisasi dan pemecahan silang pendapat.
  • Pengikat jaringan                : Menumbuhkan jaringan sebagai alat.
  • Kolaborasi dan kooperasi : Kerjasama dengan orang lain demi tujuan bersama.
  • Kemampuan Tim                  : Menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.
Oleh: sutardjo70 | Februari 5, 2009

Dampak Program Pemberdayaan Kecamatan II di Masyarakat

Bagaimana dampak pelaksanaan PPK II (2002-2005) di masyarakat? Berikut ini adalah ringkasan hasil studi yang dilakukan oleh konsultan independen Bank Dunia.

Masyarakat Indonesia telah semakin mampu menentukan sendiri prioritas-prioritas pembangunan setempat, sementara Pemerintah Indonesia dan sejumlah lembaga melaksanakan program dengan pendekatan CDD (Community Driven Development – pembangunan yang dilaksanakan oleh masyarakat). Salah satu contohnya adalah Program Pengembangan Kecamatan (PPK), sebuah program Pemerintah Indonesia yang bertujuan mengurangi kemiskinan, memperkuat pemerintah daerah maupun institusi masyarakat, serta memperbaiki tata kelola setempat. PPK dimulai pada 1998, saat terjadinya pergolakan politik yang dahsyat dan krisis keuangan. Kini PPK merupakan komponen utama dari program pengurangan kemiskinan nasional Pemerintah, yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat atau PNPM Mandiri.

Kebanyakan evaluasi terhadap program-program CDD memusatkan perhatian pada sejauh mana upaya memenuhi tujuan yang bersifat intrinsik, di antaranya: partisipasi anggota masyarakat dalam pengambilan keputusan, pengembangan keterampilan dan kemampuan, dan peningkatan mutu pemerintahan setempat. Namun, tidak banyak terbukti adanya dampak pendekatan CDD dari kesejahteraan rumahtangga ataupun akses ke pelayanan ini. Studi yang dilakukan oleh John Voss ini mencoba mengungkapkannya. Studi ini dirancang dengan metodologi untuk memastikan agar dampak yang ditemukan dapat mewakili pelaksanaan program. Sampelnya terdiri dari 6.198 rumahtangga di 300 kecamatan dalam 17 propinsi. Hasilnya?

�� Berkat partisipasi dalam PPK II, konsumsi nyata perkapita warga umumnya lebih tinggi 11% dibanding lokasi lain. Hasil ini menunjukkan bahwa PPK II efektif dalam menjangkau rumahtangga miskin (RTM) di kecamatan miskin. Demikian juga rumahtangga sangat miskin di lokasi PPK II, mereka menikmati pengaruh positif program, dimana konsumsi nyata perkapitanya naik 5%.

�� Rumahtangga yang keluar dari kemiskinan di kecamatan miskin lokasi PPK II mencapai 9,2% lebih tinggi dibanding wilayah lain.

�� Berkat partisipasi dalam PPK II, rumahtangga yang rawan jatuh miskin (mendekati ambang kemiskinan) jumlahnya lebih sedikit 4,5%dibanding lokasi lain.

�� Jumlah Kepala Keluarga (KK) yang mendapat akses ke pelayanan rawat-jalan mencapai 11,5% lebih tinggi dibanding lokasi lain. Demikian pula dengan kelompok-kelompok terkendala lain, mereka mendapat manfaat dalam hal perluasan akses ke pelayanan rawat-jalan.

�� Meskipun pengangguran pada umumnya meningkat selama 2002-2007, namun di lokasi PPk II, jumlah pengangguran justru umumnya turun sekitar 1,5%. Hal tersebut terjadi karena sebagian warga lokal menjadi pekerja dalam proyek pembangunan sarana-prasarana yang didanai program.

Hasil studi selengkapnya, dapat diakses dalam Impact Evaluation of the Second Phase of KDP in Indonesia.

Kemiskinan di Perdesaan Turun Lebih Cepat
09.Sep.2008 221 Klik

Jumlah kaum miskin di perdesaan turun lebih cepat dibanding kaum miskin yang berada di perkotaan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama periode Maret 2007-Maret 2008, penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang 1,42 juta. Sedangkan penduduk miskin di daerah perkotaan hanya berkurang 0,79 juta orang. Hal itu disebabkan kondisi sektor pertanian, seperti upah riil buruh tani, saat ini, mengalami peningkatan. Rata-rata upah riil harian buruh tani naik 0,90 persen selama periode Januari-April. Pada saat yang sama juga terjadi panen raya di wilayah perdesaan. Hal itu berimbas pada perbaikan kehidupan penduduk di perdesaan, yang 70 persen bekerja di sektor pertanian.

“Komoditas yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras, dan rata-rata harga beras nasional selama periode Maret 2007-Maret 2008 turun 3,01 persen,” kata Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Arizal Ahnaf, di Jakarta, Selasa (1/6), seperti dikutip Republika. Faktor-faktor itulah yang, menurut dia, menyebabkan penduduk perdesaan lebih beruntung untuk melewati garis kemiskinan versi BPS.

BPS sendiri mendefinisikan penduduk miskin sebagai pihak yang memiliki pendapatan rata-rata dan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan sebesar Rp 182.636. Angka patokan garis kemiskinan pada survei yang dilakukan BPS itu naik dari patokan yang digunakan pada Maret 2007 lalu, yang hanya Rp 166.697. BPS melakukan survei kemiskinan pada bulan Maret setiap tahun. Dalam PNPM Mandiri Perdesaan, warga desa difasilitasi untuk membuat peta sosial dan peta kemiskinan dengan menentukan sendiri rumahtangga miskin (RTM) dan sangat miskin di lingkungannya, karena mereka jauh lebih tahu akan kondisi di sekitar desanya.

Meskipun persentase penduduk miskin di perdesaan turun lebih cepat, namun jumlah penduduk miskin masih menumpuk di perdesaan. Pada Maret lalu, 63,47 persen dari penduduk miskin atau sejumlah 22 juta jiwa lebih berada di daerah perdesaan.

Secara umum jumlah penduduk miskin berdasarkan survei BPS mengalami penurunan 2,21 juta jiwa. Pada Maret 2007 jumlah penduduk miskin di Indonesia tercatat 7,17 juta (16,58 persen dari jumlah penduduk). Sedangkan pada Maret 2008 sebesar 34,96 juta jiwa atau 15,42 persen dari jumlah penduduk.

“Jumlah penduduk miskin memang trennya menurun, meskipun turunnya tidak signifikan,” ujar Arizal. Ia memahami bahwa hasil survei BPS kali ini memang belum memperhitungkan dampak kenaikan harga BBM yang terjadi pada pekan ketiga Mei 2008. Faktor lain, menurut dia, inflasi umum relatif stabil.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori