Oleh: sutardjo70 | Desember 15, 2008

PROFIL FASILITATOR LAPANGAN

3038

Fasilitator Bukan Seorang Pembina. Dua istilah ini sebenarnya sesuatu yang sangat berbeda. Dewasa ini masih cukup banyak penggunaan istilah “membina masyarakat”, “membina ekonomi kerakyatan”, dll. Sengaja dua peran ini yang diangkat dalam bahasan ini, dengan maksud memberikan gambaran yang konkrit tentang siapa sebetulnya fasilitator lapangan. Pengembangan masyarakat secara substansial merupakan gerakan yang tumbuh karena adanya kesadaran kolektif masyarakat untuk memberdayakan dirinya dalam rangkamemperbaiki taraf hidupnya. Sebagai gerakan masyarakat maka masyarakat tumbuh dari bawah sesuai kebutuhannya. Dari sudut pandang ini masyarakat merupakan pelaku utama

(subyek) pembangunan bagi mereka sendiri. Oleh karena itu penggunaan kata atau justruparadigma “membina” sangatlah tidak tepat dan rancu. Penggunaan istilah ini menunjukkan kerangka pikir ‘Top Down’ di mana para pembina beranggapan bahwa masyarakat merupakan kelompok yang memiliki banyak kekurangan sehingga masih perlu dibina (yang dengan sendirinya dijadikan sebagai obyek).

 

Pada masa lalu program pemberdayaan masyarakat termasuk di bidang masyarakat, biasanya dibuat secara top down. Masyarakat yang dilibatkan dalam kegiatan tidak diberikan pilihan dan kesempatan untuk memberi masukan. Hal ini dilakukan untuk mencapai efisiensi dalam pembangunan dan menganggap masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk menganalisa kondisi dan merumuskan persoalan serta kebutuhan-kebutuhannya. Dalam pandangan ini masyarakat ditempatkan pada posisi yang membutuhkan bantuan dari luar. Program yang dilakukan dengan pendekatan dari atas ke bawah semacam ini hasilnya tidak seperti yang diharapkan dan kurang memberi manfaat kepada masyarakat. Bantuan yang diberikan lebih banyak menciptakan ketergantungan yang pada gilirannya akan lebih menyusahkan masyarakat dari pada menolongnya. Tabel X memaparkan tentang perbedaan peran antara seorang pembina dan seorang fasilitator yang seringkali masih rancu dan dipahami sama oleh kalangan tertentu.

 

Kedudukan Fasilitator Lapangan secara struktural kelembagaan dan hubungannya dengan masyarakat terlihat menjadi penghubung/mediator antara tingkat institusi/lembaga dengan tingkat masyarakat dalam rangka menjabarkan program-program pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan melihat kedudukan secara struktural Fasilitator Lapangan sebagai penghubung/mediator secara umum peran, fungsi dan tugasnya dapat dilihat dari dua dimensi, yakni: dimensi tingkat lembaga dan dimensi tingkat masyarakat.

Dari dimensi tingkat lembaga, Fasilitator Lapangan mempunyai peran, fungsi dan tugas untuk mengoperasionalkan dan mengimplementasikan visi, misi dan tujuan institusi/lembaga dalam rangka pembangunan. Sedangkan dari dimensi tingkat masyarakat, Fasilitator Lapangan mempunyai peran, fungsi dan tugas untuk menjadi mitra masyarakat dalam pembangunan.

 

Mengacu posisi Fasilitator Lapangan menjadi penghubung atau mediator bukanlah pekerjaan yang mudah dan ringan, dibutuhkan kemampuan yang memadai baik pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Terlebih keberadaan Fasilitator Lapangan di tengah- tengah atau bersama masyarakat. Hal ini sangat ditentukan oleh bagaimana seorang Fasilitator Lapangan membawa dirinya dan kesediaan masyarakat untuk menerimanya. Kedua hal tersebut tidak terlepas dari kelengkapan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dimiliki oleh seorang Fasilitator Lapangan. Pengetahuan dan ketrampilan apa serta sikap yang bagaimana yang mendukung Fasilitator Lapangan sehingga lebih mampu di dalam menjalankan peran, fungsi dan tugasnya? Sebagai seorang Fasilitator Lapangan Pengembangan Masyarakat paling tidak harus memiliki pengetahuan tentang pembangunan yang benar dan memadai serta memiliki ketrampilan manajerial untuk mengelola program maupun memiliki sikap sebagai mitra masyarakat dalam pembangunan. Sebagai pedoman di dalam operasionalnya, Fasilitator Lapangan harus selalu berpegang pada prinsip-prinsip pembangunan swadaya dan berkelanjutan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

·         Manusia merupakan faktor terpenting dalam pembangunan.

·         Pembangunan tidak semata-mata berkepentingan dengan proyek-proyek, program-program, bangunan-bangunan, lembaga-lembaga, anggaran atau keuangan, tata usaha penyelenggaraan, tetapi dengan pembangunan manusia seutuhnya, meliputi semua sistem: politik, ekonomi, sosial budaya.

·         Motivasi untuk terlibat dalam karya pembangunan adalah kepedulian yang tulus iklas terhadap masyarakat yang membutuhkan pembangunan tanpa niat menggurui.

·         Titik awal pembangunan ialah memperhatikan bahwa semua kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, baik itu pangan, sandang, dan papan. Setiap orang harus memiliki akses yang sama terhadap segala sarana, sumber, dan pelayanan yang tersedia.

·         Pembangunan berkepentingan dengan masyarakat, tidak hanya dengan individu.

 035

Pembangunan bukan merupakan suatu proses yang mengarah ke keuntungan segelintir orang, semiskin apapun mereka. Masyarakat harus menjadi subyekperencana, agen utama dan hasil akhir dari suatu proses pembangunan. Masyarakat harus dimungkinkan untuk memutuskan siapa yang seyogyanya menikmati manfaat dari program pembangunan atas program kesejahteraan yang dilaksanakan untuk para anggotanya.

·         Momentum yang paling tepat untuk pembangunan dan perubahan ialah krisis (titik balik) yang sudah ada, atau yang dimunculkan melalui pembangunan kesadarandikelolanya masyarakat.

·         Pembangunan harus didasarkan pada nilai-nilai asli, gaya hidup dan pola social yang ada, bukan pada nilai-nilai atau gaya hidup asing.

·         Pembangunan adalah sebuah proses. Melalui pembangunan kekuasaan diberikan kepada masyarakat atau dengan kata lain kekuasaan menjadi terbagi ratadikalangan masyarakat.

·         Pembangunan merupakan sebuah proses. Melalui pembangunan, masyarakat menjadi lebih mandiri dan sekaligus saling tergantung satu sama lainnya.

·         Pembangunan bertujuan untuk memungkinkan masyarakat memperoleh kendali yang lebih besar terhadap kehidupan mereka sendiri, dan sebaliknya mengurangi kendali yang dimiliki oleh beberapa orang terhadap kehidupan orang lain.

·         Pembangunan harus mengarah pada pemerataan ekonomi, sosial dan politik yang lebih besar serta keadilan.

·         Pembangunan meningkatkan kerjasama bukan persaingan di kalangan individu dan masyarakat yang miskin dan tertindas.

·         Pembangunan melibatkan pelayanan petugas pembangunan melalui kehadiran dan dukungannya yang teratur bersama masyarakat.

 

Bagaimana Fasiltator Lapangan bekerja bersama masyarakat dalam pembangunan dengan nuansa kemitraan menuju pengembangan program pembangunan yang mandiri dan berkelanjutan? Berikut disarankan Tips Sepuluh Jurus Sukses Fasilitator Lapangan, yakni:

·         Bahaslah bersama masyarakat (penduduk) dan penerima manfaat lainnya! Capailah kesepakatan mengenai masalah dan pemecahannya sebelum mengambil tindakan!

·         Rencanakanlah proyek yang berskala kecil dan fleksibel! Sebuah rencana harus menjadi Blue Print (cetak biru), bukan “penjara”. Rencana harus dapat memuat informasi baru yang muncul selama pelaksanaan proyek.

·         Biarkanlah masyarakat yang memperoleh manfaat dari proyek itu membuat keputusan. Tugas para ahli ialah membagi pengetahuan mereka bukan memaksakan.

·         Carilah cara pemecahan yang dapat diterapkan berulang kali agar berdampak besar pada pembangunan. Namun cara pemecahan itu masih harus disesuaikan dengan kebutuhan.

·         Selenggarakanlah pendidikan dan pelatihan, khususnya bagi remaja dan wanita, yang berfungsi sebagai pembawa perubahan yang paling efektif, karena mereka terkait dengan realita kelangsungan hidup keluarga.

·         Usahakanlah adanya masukan-masukan luar sesedikit mungkin untuk mengurangi ketergantungan dan meningkatkan kemampuan. Subsidi, pelengkap dan teknologi yang tidak tepat-guna merupakan hal yang tidak berkelanjutan.

·         Bangunlah atas dasar hal yang benar menurut masyarakat. Gagasan baru hanya akan diterima bila tidak bertentangan dengan kebiasaan setempat. Teknologi baru harus mendukung teknologi yang sudah ada, bukan menggantikannya.

·         Tetapkanlah dampak dari perubahan yang direncanakan. Suatu tim dari berbagai ilmu, sebaiknya melibatkan para ahli yang berasal dari budaya yang sama, harus mempelajari aspek-aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan yang ada.

·         Pertimbangkanlah masukan-masukan dan hasil-hasil yang diharapkan. Kegagalan dari proyek-proyek yang berpusat pada hasil semata, seperti produktivitas pertanian, membuktikan bahwa lebih banyak tidak selalu lebih baik.

·         Pertahankanlah atau perbaikilah taraf hidup para penerima manfaat. Perbaikan lingkungan jangka panjang tidak akan berkelanjutan kecuali ditujukan kepada masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat pada saat ini.


Tanggapan

  1. PAGI BANG OJO……MAU NANYA NIH, MENURUT BANG OJO SEBERAPA EEKTIF PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DENGAN SISTEM BOTTOM UP YANG BEBEBRAPA TAHUN INI DIJALANKAN

  2. Halo Van…. Berbicara tingkat efektifitas program-program pemberdayaan sangat ragam sekali pada beberapa program, perlu kajian akademis dari masing-masing program yang ada, tidak sekedar mengandalkan internal monitoring. masih saja kita temukan program-program pemberdayaan yang masih berorientasi keproyekan sehingga tentunya tidak optimal terhadap dampak pemberdayaan itu sendiri, tetapi yang jelas bahwa pemberdayaan masyarakat sebuah kebutuhan pokok agar masyarakat mampu menyadari, memahami tentang kondisinya sehingga mampu melakukan inventarisasi sumber dayanya, kemudian merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan yang dilaksanakannya.

    Sebuah program pemberdayaan sangat ditunjang oleh keberadaan seorang fasilitator sebagai jembatan program tentunya. Kualitas dan Kapasitas fasilitator sebagai pendamping masyarakat masih banyak terjebak pada mentalitas pekerja proyek/program, hal ini disebabkan pola kelola program yang amat pelik dengan kepentingan pengelola program karena masih saja tidak berorientasi tujuan program tetapi sekedar target proyek, ini akan menjadi program tersebut buakan pemberdayaan tetapi cenderung memperdaya masyarakat.

    Memang sulit membuat model pemberdayaan kedalam sebuah program nasional karena tentunya banyak ranah kepentingan terhadap pengelolaan program. Mang Ojo center menerima berbagai pemikiran tentang bagaimana memberdayakan masyarakat.

    Mudah-mudahan kita bisa berdiskusi suatu saat di beberapa forum, saat ini mang ojo baru membuka saung-saung diskusi di Majalengka, Sumedang dan Sukabumi, kami membuka akses diskusi dengan berbagai kalangan DPR, Pemerintah, Swasta, LSM, serta berbagai kelompok lainnya, Terima kasih semoga tidak puas


Beri tanggapan

Your response:

Kategori