Skip to content

MENGENAL DAN MEMAHAMI KEMAMPUAN DIRI SENDIRI

Februari 6, 2009

buncit-merdeka

MENGENAL DAN MEMAHAMI KEMAMPUAN DIRI SENDIRI UNTUK FASILITATOR LAPANG

Disarikan dari Materi penguatan FFPM

“Tak ada yang istimewa yang pernah dicapai kecuali oleh mereka-mereka yang berani percaya bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang lebih unggul disbanding keadaan” (Bruce Barton).

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan baik dari pengetahuan, ketrampilan maupun sikapnya. Kita memiliki kemampuan untuk mengenali dan mencari diri kita sebenarnya. Kondisi ini dapat kita ketahui melalui pengalaman, wawasan dan sikap kita dalam berprilaku sehari-hari. Misalnya, kita telah menyelesaikan suatu perkerjaan dan hasil dari pekerjaan yang kita lakukan mendapat respon positif dari orang-orang di sekitar kita.

Orang-orang terlibat dalam pekerjaan tersebut dan oleh orang-orang yang membutuhkan hasil dari pekerjaan kita, maka kita akan percaya pada kekuatan dan kemampuan diri kita untuk melakukan sesuatu. Tetapi jika respon negatif yang kita terima maka kekuatan dan kemampuan kita bagaikan harta tenggelam yang perlu ditemukan dan diangkat kepermukaan.

Karena itu sebagai seorang fasilitator lapangan kita harus mengenali dan memahami kemampuan diri kita sendiri untuk mendukung implementasi peran dan fungsi kita sebagai fasilitator lapangan. Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengenal dan memahami kemampuan diri sendiri antara lain:

  • · Identifikasi kemampuan pribadi dari aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap.
  • · Identifikasi apa yang menjadi kelemahan-kelemahan kita baik pada aspek pengetahuan,keterampilan  maupun sikap.
  • · Temukan apakah kelemahan tersebut dapat diatasi dan strategi apa yang bias dilakukanuntuk mengurangi atau menghilangkan kelemahan itu.
  • · Secara berkala lakukan penilaian pada diri sendiri yang dapat mendorong adanya perubahan pribadi karena bisa menciptakan perasaan-perasaan baru, temuan-temuan baru, kemampuan-kemampuan baru, dan lain-lain.

Mengapa memahami dan mengenali kemampuan diri sendiri itu penting? Memahami dan mengenali kemampuan diri sendiri berarti kita sadar diri. Kesadaran diri adalah pondasi paling besar yang membangun seluruh kecerdasan emosional. Jika kita tidak tahu siapa diri kita atau apa yang kita rasakan lantas bagaimana kita bisa tahu atau memahami seseorang atau apa yang mereka rasakan.

Keterampilan fasilitasi untuk mengelola dan memantau emosi orang lain serta memahami perbedaan emosi diantara mereka dan memanfaatkannya dalam memantau

pikiran dan tindakan mereka, memerlukan kesadaran diri. Dalam konteks seorang fasilitator lapangan, maka memahami dan mengenali kemampuan diri sendiri itu penting karena sebagai orang yang hadir di tengah masyarakat untuk menggerakkan mereka dalam melakukan perubahan tentunya harus memiliki keyakinan dan kepercayaan diri. Dengan mengenal dan memahami kemampuan diri ini akan memberikan keyakinan dan percaya diri kita dalam menjalankan peran dan fungsi sebagai fasilitator lapangan. Jadi mengenali dan memahami kemampuan diri itu penting sebagai salah satu bagian yang mampu membangkitkan keyakinan dan kepercayaan diri kita. Pada akhirnya, kemampuan memahami dan menggunakan kekuatan emosional kita dengan bijaksana menjadi keharusan seorang fasilitator lapangan. Hal tersebut sering disebut ”Kecerdasan Emosional”.

Mengenal Kecerdasan Emosional

Kecerdasaran emosional berarti: menjadi sadar pada diri sendiri dan perasaan orang lain, menjadi pintar menggunakan emosi Anda, menggunakan kekuatan perasaan Anda untuk memotivasi diri dan orang lain serta mengetahui bagaimana Anda mengendalikan emosi diri.

Kecerdasan emosional merujuk kepada kemampuan mengenali diri sendiri pada perasaan orang lain. Perasaan ini kemudian diekspresikan secara tepat dan efektif sehingga memungkinkan seseorang bekerjasama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama.

Ketrampilan menggunakan kecerdasan emosional bertumpu pada lima hal pokok, yakni: kesadaran diri, motivasi diri, pengaturan diri, empati dan kecakapan membina relasi yang efektif dengan orang lain. Kecakapan emosional adalah seberapa banyak kelima unsure tersebut diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya di lingkungan kerja.

Kecerdasan emosional yang tinggi tidak menjamin seseorang berkesempatan mempelajari kecakapan-kecakapan emosional yang diperlukan di lingkungan kerja. Tetapi dia mempunyai potensi maksimum untuk mengembangkan kecerdasan emosionalnya. Kecakapan emosional bekerja secara sinergi dengan ketrampilan kognitif. Makin kompleks suatu pekerjaan, makin banyak diperlukan kecakapan emosional.

Unsur-unsur Kecakapan Emosional

Kecakapan emosional dibagi menjadi dua yakni (1) kecakapan pribadi dan (2) kecakapan sosial. Kecakapan pribadi menentukan bagaimana mengelola diri sendiri, sedangkan kecakapan sosial menentukan bagaimana mengelola hubungan dengan orang lain. Kecakapan pribadi meliputi kesadaran diri, pengaturan diri, dan motivasi diri. Kecakapan sosial meliputi empati dan keefektifan membangun relasi.

1. Kecakapan Pribadi

a. Kesadaran diri (mengetahui kondisi diri sendiri, minat, kemampuan diri, dan intuisi).

Tahu tentang apa yang anda sukai, apa yang tidak anda sukai, apa yang membuat bergairah dan seterusnya.

  • Keadaan emosional           : Mengenali emosional diri sendiri dan efeknya.
  • Penilaian diri secara teliti : Mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri.
  • Percaya diri : Keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri.

b.  Pengaturan diri (mengelola kondisi dan sumber daya diri sendiri)

Mengelola semua hal yang berkaitan dengan kepribadian dan membuatnya menjadi lebih baik dan bukannya menjadi lebih buruk. Bila tahap pertama adalah kesadaran diri untuk menyimak dan belajar dari perasaan yang paling dalam. Tahap kedua adalah mengelola perasaan-perasaan itu agar menjadi sesuatu lebih baik.

Kegairahan kita bersifat menular demikian pula sesuatu yang buruk dari dalam diri kita akan merusak suasana dan membuat segala sesuatu bertambah buruk. Contoh: Bila kita marah, kita tidak bisa membuat keputusan yang baik. Kerap bereaksi berlebihan dan sulit mengendalikan emosi. Kita kehilangan perspektif kita. Dengan mempelajari cara mengatur diri maka kita bisa beradaptasi dan berinovasi pada situasi yang amat buruk.

  • Kendali diri : Mengelola emosi-emosi dan desakan hati yang rusak.
  • Sifat dapat dipercaya : memelihara norma kejujuran dan integritas.
  • Kewaspadaan             : Bertanggung jawab atas kinerja pribadi.
  • Adaptabilitas : Keluwesan dalam menghadapi perubahan.
  • Inovasi : Mudah menerima dan terbuka terhadap pendekatan, dan informasi-informasi baru.

c.  Motivasi (kecenderungan emosional yang mengantar atau mempermudah pencapaian sasaran).

Membayangkan hasil yang ingin dicapai dan lakukan langkah-langkah tepat untuk meraihnya. Setelah kita sadar pada perasaan kita dan belajar mengelolanya, tahap ketiga adalah memanfaatkan kekuatan emosi-emosi kita untuk sesuatu hal yang bisa memotivasi dan memberikan inspirasi kepada kita. Orang yang memiliki motivasi tinggi akan fokus pada tujuan dan tanggungjawabnya meskipun menghadapi berbagai hambatan atau harus mundur terlebih dahulu kebelakang.

  • Dorongan prestasi : Dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan.
  • Komitmen               : Menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok.
  • Inisiatif                    : Kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan.
  • Optimisme               : Kegigihan dalam memperjuangkan sasaran meskipun ada halangan dan kegagalan.

2. Kecakapan Sosial

a. Empati (kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain).

Menyadari perasaan, kebutuhan dan kepedulian orang lain, kemampuan melihat dari sisi lain. Setelah kita menjadi lebih jujur dan sadar pada emosi-emosi yang kita miliki maka kita perlu memanfaatkan seluruh ketrampilan itu untuk diterapkan saat berkomunikasi dengan orang lain. Kecerdasan emosional menyelaraskan perasaanperasaan yang kita miliki dengaan perasaan-perasaan orang di sekitar kita agar kelompok bisa meraih kesuksesan.

Empati adalah kemampuan melihat dari perspektif orang lain. Adalah sesuatu yang bisa merasakan apa yang dialami orang lain tapi Anda harus tetap ingat itu bukan perasaan kita. Empati dimulai dari menyimak. Tak seorang pun akan mendengarkan kita bila kita tidak menyimak kata-kata mereka.

  • Memahami orang lain         : Memahami perasaan & cara pandang orang lain, menunjukkan minat aktif,

terhadap kepentingan orang lain.

  • Orientasi pada pelayanan        : Mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain.
  • Mengembangkan orang lain   : Merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan mereka.
  • Mengatasi keragaman             : Menumbuhkan peluang melalui pergaulan dengan bermacam–macam orang.
  • Kesadaran politis : Mampu membaca arus emosional sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan.

b. Keterampilan sosial (kepintaran menggugah tanggapan yang dikehendaki dari orang lain).

  • Pengaruh                              : Memiliki taktik melakukan persuasi.
  • Komunikasi : Mengirimkan pesan dengan jelas danmeyakinkan.
  • Kepemimpinan                    : Membangkitkan inspirasi, memandu kelompok dan orang lain.
  • Katalisator perubahan       : Memulai dan mengelola perubahan.
  • Manajemen konflik : Negoisasi dan pemecahan silang pendapat.
  • Pengikat jaringan                : Menumbuhkan jaringan sebagai alat.
  • Kolaborasi dan kooperasi : Kerjasama dengan orang lain demi tujuan bersama.
  • Kemampuan Tim                  : Menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.
About these ads

From → WACANA

2 Komentar
  1. mang ojo! Kadang kita sudah mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri sendiri. tetapi kadang kita terjebak dengan kelebihan atau kekurangan yang dimiliki kita. Kadang dengan kelebihan yang kita miliki kita jadi over confident sehingga kadang merasa diri paling benar sehingga fasilitasi kita tidak mengenai tujuan utama. Sebaliknya dengan kekurangan yang kita ketahui kita akan merasa sudah gagal sebelum melakukan langkah fasilitasi. Nah gimana caranya supaya potensi kelebihan dan kekurangan dapat dipadukan agar menjadi suatu kekuatan untuk mencapai tujuan fasilitsi kita…teori bisa dibaca tapi aplikasinya yang sulit.. ada saran yang bersifat aplikatif ?

  2. Anonymous permalink

    memang betul pengenlan diri bukan hal mudah bagi kt untuk mengimplementasikan dalam kehidupan nyata,karena keberagaman individu tapi sebagai mahluk sosial kt juga tidak bisa bersifat egois,paling utama kenali lingkungan sosial kita ,dan jadikan lingkungan tersebut untuk wadah kita mengembangkan kemampuan pada diri kita,,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: