Oleh: sutardjo70 | April 3, 2009

Budi Arianto Menjelaskan Garis Besar Pendekatan Empat Tahap yang dikembangkan oleh LSM Lokal JKMA

Budi Arianto adalah mantan anggota Walhi nasional dan saat ini bekerja dengan Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh. Pak Yurian, ketua JKMA, dan Budi menyampaikan presentasi kepada LRWG pada tanggal 15 Juli 2005 dan beliau menjelaskan garis besar struktur sistem adat dan tokoh adat di Aceh. JKMA didirikan tahun 1999 yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dari system sistem adat ini dan JKMA merupakan salah satu dari organisasi lokal yang paling aktif di Aceh dalam melatih tokoh masyarakat, kader desa dan fasilitator masyarakat untuk LSM lokal (dan beberapa LSM internasional). Budi memulai presentasinya dengan mengatakan bahwa ia telah belajar banyak dari Pak Chris dan Lorna. Ia ingin mengilustrasikan elemen penting dari kerja fasilitasi masyarakat ini dengan menceritakan dua buah cerita kepada kelompok rapat: _ Sebuah masyarakat yang tidak mempunyai sumber air bersih di dekat desa mereka menerima bantuan dari sebuah organisasi besar dan dari pemerintah. Maka dipasanglah sebuah system yang baru dan agak canggih. Kemudian ada peresmian besar yang dihadiri oleh orang-orang terkemuka dan para perwakilan dari organisasi tersebut. Pada hari itu ada penyambutan yang semarak, kemudian hadirinpun pulang. Masyarakat setempat gembira…tapi itu hanya sementara, karena air tadi tak mengalir lagi dan bantuan selanjutnyapun tak kunjung datang. _ Seorang anak muda sedang melintas di sebuah desa dan ia melihat ada sekolompok pemuda sedang jongkok mengelilingi sebuah sepeda motor yang rusak. Anak muda ini berhenti dan membantu mereka memperbaiki sepeda motor itu sambil menjelaskan kepada mereka tentang seluk beluk sepeda motor dan bagaimana cara kerjanya. Kemudian dia melanjutkan perjalanannya. Beberapa minggu kemudian sepeda motor tadi rusak lagi. Pemuda-pemuda tadi menyangka bahwa mereka kembali ke masalah yang sama lagi, tapi itu tidak lama. Mereka tidak hanya tahu bagaimana cara memperbaiki sepeda motor tetapi sekarang mereka sudah mampu memfungsikannya kembali. Ini, jelas Budi, menggambarkan betapa pentingnya untuk mendekati masalah pengembangan masyarakat dengan memperhatikan apa yang paling diinginkan masyarakat. Banyak pihak yang saat ini tengah bekerja di Aceh percaya bahwa apa yang mereka lakukan adalah menolong masyarakat tetapi bagaimana caranya kita membantu agar masyarakat itu yakin bahwa mereka bisa menolong diri mereka sendiri? Tanya nya kepada peserta rapat. Mengapa begitu banyak perahu yang disumbangkan oleh berbagai pihak yang berniat baik itu ditinggal begitu saja? Jawabannya sederhana: karena sejak awal lembaga donor tidak sepenuhnya melibatkan masyarakat. Budi menjelaskan lagi bahwa memang benar beberapa organisasi – kalau bukan sebagian besar organisasi – melaksanakan pengumpulan informasi. ’Fasilitator’ atau petugas lapangan tiba di desa lengkap dengan formulir untuk diisi masyarakat, atau konsultasi masyarakat dikurangi sedemikian rupa sampai tinggal ’mencentang kotak’ saja. Memang, ini bias menghemat waktu tapi ini kan bukan mencerminkan apa yang paling diinginkan masyarakat.

Pendekatan JKMA

JKMA telah mengembangkan sistemnya sesuai dengan elemen-elemen utama dari pendekatan pendekatan yang telah dijelaskan oleh Pak Chris dan Lorna dan sistem ini dikelompokkan ke dalam empat bagian:

· Kontak

· Tindakan

· Permanen

· Ekspansi

Kontak: ‘Kontak pertama’ dengan masyarakat pada dasarnya merupakan suatu tahap yang pasif dimana para fasilitator perlu mengenal dahulu masyarakat tersebut – dimana dan kapan mereka berkumpul, mendengarkan masalah-masalah mereka dan memahami potensi dan sumber daya yang mereka miliki serta hambatan yang mereka hadapi. Acap kali LSM ‘terjun ke masyarakat’ dengan sebuah agenda yang mendiktekan tindakantindakan mereka, kata Budi. Misalnya, Mereka punya sebuah proyek tertentu untuk diterapkan, kemudian mereka mengatur rapat yang jadwalnya sesuai dengan kehendak organisasi. Sebaliknya, JKMA mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan masyarakat setempat menurut waktu dan tempat yang disukai masyarakat dan mereka bisa membincangkan semua permasalahan secara terbuka. Dalam tahap ini, JKMA juga mengidentifikasi siapa saja tokoh masyarakat di tempat itu dan JKMA berupaya membangun rasa percaya diri dari tokoh masyarakat ini dan rasa percaya diri masyarakat secara umum. Tindakan: Tindakan difokuskan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan masyarakat dan pendekatan Penilaian Pedesaan Partisipatif bisa digunakan jika masyarakat sudah siap, jelas Budi. Mereka lebih memfokuskan pada sumber daya yang ada daripada menyelesaikan masalah yang ‘mendesak’, tambahnya. Konflik dalam masyarakat itu ada dan akan tetap ada. Jadi, sebelum bertindak kita harus sudah benar-benar memahami hal ini. Pada tahap ini, fasilitator masyarakat menetap bersama masyarakat setempat. Pelatihan digunakan untuk mendukung kebutuhan apa saja yang sudah diidentifikasi masyarakat. Permanen: Ketika momentumnya sudah mulai terbangun, JKMA mulai berkonsentrasi pada permasalahan pokoknya: membangun sistem-sistem adat masyarakat yang sudah ada dan meningkatkan peran kepemimpinan mereka. Pembentukan ‘lembaga-lembaga’ baru untuk bekerja sama dengan LSM dalam program-program mereka telah menjadi perhatian utama JKMA sejak terjadinya tsunami dan JKMA sudah mengetahui bahwa lembaga-lembaga baru ini jarang yang bisa memenuhi harapan. Bahkan ketika ada pemilihan perwakilan, lembaga-lembaga baru ini menimbulkan dinamika baru dalam konflik yang sudah ada dan mereka menarik dukungan mereka dari mekanismemekanisme yang dulunya sudah berjalan. Mengapa organisasi-organisasi tidak memperhatikan hal ini? Tanya Budi. “Karena indikator-indikatornya tidak jelas,” lanjutnya. Para fasilitator JKMA tidak terus menerus hadir di desa/gampong pada tahap ini. Mereka mulai menarik diri ketika tugas mereka dianggap sudah cukup mapan supaya bisa bersiap ketahap berikutnya: Ekspansi: Tahap ini adalah puncak dari kegiatan-kegiatan yang dijalankan sebelumnya. Pada tahap ini ada perencanaan lebih lanjut dan membimbing masyarakat agar bisa memainkan peran penting dalam pengembangan mereka. Karena JKMA juga tidak ‘membawa uang ke masyarakat’, JKMA mengajak masyarakat untuk memikirkan tentang desa mereka lima sampai sepuluh tahun ke depan. Yang penting, tokoh masyarakat perlu mensosialisasikan program tersebut, melakukan pendekatan dengan masyarakat lainnya dan mengundang mereka untuk bekerja sama serta mengundang para fasilitator JKMA untuk memulai siklus program tersebut di suatu tempat yang baru.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori