<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Chris Lee dari DAI Menjelaskan Garis Besar Pendekatan Pelatihan yang Digunakannya
Pak Chris Lee lahir di Bandung, Jawa Barat “kira-kira 60 tahun yang lalu”, tetapi selama hidupnya lebih banyak tinggal dan bekerja di berbagai tempat kecuali di Indonesia. Pak Chris adalah warga negara Australia dan telah bekerja di banyak tempat di Filipina dan Kamboja. Di negara ini beliau mendirikan institut pelatihan HEDC. Daftar pelatihan ‘Operasi’ yang disesuaikan untuk program DAIUSAID yang sekarang tengah dikembangkannya di Aceh diedarkan dalam rapat ini (dan anda juga bisa melihatnya di website). Tugas beliau adalah mendukung program pemulihan berbasis masyarakat (CBR) DAI-USAID yang sedang berjalan di Pidie, Aceh Besar dan Aceh Jaya, dan akan mendukung keikutsertaan masyarakat dan inisiatif hak milik yang direncanakan untuk Bireuen, Aceh Utara dan Aceh Timur.
Tujuan program ini secara umum adalah:
Untuk memberdayakan masyarakat sipil dengan cara meningkatkan kemampuan mereka agar mereka bisa menentukan, merencanakan, menerapkan dan mengelola pemulihan dan pengembangan masyarakat mereka selanjutnya. Hasil yang diharapkan:
· Peningkatan penghidupan yang substansial dan berkelanjutan.
· Diterapkan dan didukungnya tata pemerintahan yang baik
· Adanya proses untuk pemulihan, re-integrasi dan pengembangan terpadu yang digerakkan oleh masyarakat yang bisa diadopsi dan disesuaikan. Pak Chris diminta untuk menjelaskan kepada LRWG tentang ‘filosofi pelatihan’ tersebut. Beliau meringkas pendekatan yang digunakannya itu dengan mengutip ucapan dari John Stuart Mill (1806-1873): Manusia tak mungkin bisa berkembang sebelum mereka mengubah pola pikir dasar mereka. “Mengapa orang yang sudah kita latih itu tidak menerapkan apa yang sudah mereka pelajari dalam kursus pelatihan tersebut?” tanya Pak Chris pada peserta rapat. Masalahnya adalah bahwa sebagian besar kursus pelatihan mengedepankan logika daripada perasaan dan motivasi. Masyarakat harus terlebih dahulu ‘memahami apa yang mereka pelajari’ baru mereka bisa percaya diri untuk mempraktekkannya. Filosofi ini disajikan dalam bentuk rumus berikut ini:
Pak Chris ingin membedakan secara jelas apa itu kecakapan dan apa itu kemampuan:
Kemampuan adalah daya untuk memahami informasi agar bisa menyelesaikan konflik sehingga pengembangan, ekspansi dan kemandirian bisa berjalan.
Kecakapan adalah kesanggupan untuk merealisasikannya.
Di sini hubungan ‘Kemandirian Masyarakat’ kita klasifikasikan seperti di bawah ini:
1. Sosial (manusia-manusia)
2. Lingkungan (manusia-bumi)
3. Sumber daya (uang, waktu, kenderaan)
Pak Chris menekankan bahwa kursus-kursus pelatihan yang dijalankannya menjunjung tinggi prinsip bahwa…Tujuan awal dan tujuan akhir dari pengembangan masyarakat adalah untuk mengembangkan para pemimpin…dan yang dimaksud dengan kepemimpinan itu adalah:
1. Menentukan arah
2. Mengarahkan masyarakat
3. Memberdayakan masyarakat
4. Menangani konflik
Kesimpulannya, pemimpin adalah sosok yang dihormati yang memberikan pelayanan kepada masyarakat, bukan sosok yang hanya memberi perintah. Saat ini program DAI memiliki 100 orang fasilitator/staf dan rencananya akan direkrut sebanyak 100 orang lagi. Menurut Pak Chris, fasilitator biasanya tidak menerapkan apa yang sudah mereka pelajari dalam latihan sampai mereka benar-benar mulai memberi pelajaran kepada orang lain. Karena itu, susunan kursus operacy ini menitikberatkan pada menggalakkan kepemimpinan yang efektif dan manajemen yang efisien: Kepemimpinan -> Pemberdayaan -> Perencanaan Masyarakat, Dep. SDM, Operasi Lapangan, Monitoring & Evaluasi (M&E)
E = MC2
Empowerment = Motivation + Capability + Capacity
Pemberdayaan = Motivasi + Kecakapan + Kemampuan
_ Motivasi adalah keinginan untuk menerapkan apa yang sudah kita ketahui.
_ Capability (Kecakapan) adalah keterampilan untuk melakukan sesuatu dengan benar (efisiensi)
_ Capacity (Kemampuan) adalah kesanggupan untuk melakukan hal yang benar (efektif)
Tata Pemerintahan yang baik = Kepemimpinan yang efektif + Manajemen yang efisien
Manajemen -> Kontrol -> Manajemen Keuangan, Manajemen SDM, Manajemen Perkantoran, Auditing
Kepemimpinan yang Efektif
• Pemberdayaan diri
• Kepemimpinan
• Komunikasi/Fasilitasi
• Perencanaan Partisipatif
• Pemikiran kreatif
• Monitoring & Evaluasi
• Penanganan Konflik
Manajemen yang Efisien
• Pengembangan CSO
• Pengelolaan Hibah
• Pinjaman Bergulir
• Tata Buku
• Pembuatan proposal
• Manajemen Pelatihan
• Membuat laporan
Jika anda mengajar orang cara memancing, maka orang itu bisa makan ikan sepanjang hayatnya
- Kuang Tzu – Abad ke-5 SM
Jika anda mengajar orang untuk berfikir maka mereka tak perlu lagi memancing sepanjang hayat
mereka.
- Paradigma CBR/CEO