RSS

Arsip Bulanan: Januari 2012

Keramat Dayeuh Ciomas Majalengka

Kawasan Sukahaji Majalengka rupanya menyimpan rahasia mistis. Di sana tercecer kantung-kantung mistik dan keramat yang rutin dikunjungi para pencari berkah dari berbagai daerah. Sebut saja Buyut Cibuntu, Sumur Mas, Dangdeur Pugur, dan lain-lain tempat yang menawarkan harapan masa depan atas restu kekuatan alam gaib. Dangdeur Pugur, misalnya, diam-diam merupakan tempat berburu pesugihan.

Lokasi yang satu ini lebih sering disebut-sebut para pengalap berkah dari berbagai daerah. Namanya Dangdeur Pugur. Letaknya disebuah kampung di Desa Ciomas, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka. Warga setempat, bahkan tak terlalu ambil peduli dengan kekuatan mistis yang diyakini bersemayam di tempat ini. Mereka cenderung cuek, atau bahkan nyaris tak banyak yang tahu akan daya tarik mistik yang tersembunyi.

Entah siapa yang menghembuskan kabar keluar kawasan Ciomas soal daya tarik mistik tempat ini. Diduga keras, kabar itu berhembus dari mulut ke mulut. Dari satu peziarah ke peziarah lain. Dan seperti mendapat promosi gratisan, nama Dangdeur Pugur, sama halnya dengan Sirah Dayeuh Ciomas, menjadi terkenal namanya di kalangan pencari berkah. Bahkan Samsudin (50), seorang pengalap berkah dari Indramayu, sengaja datang ke Dayeuh Ciomas berdasar informasi seorang rekan.

Tokoh Cina

Dangdeur Pugur adalah tempat keramat yang masih ada hubugannya dengan Sirah Dayeuh Ciomas, namun letaknya terpisah satu sama lain. Orang pasti tak akan menyangka lokasi ini menjadi ajang berburu pesugihan. Sebab selain letaknya di tengah perkampungan penduduk, posisinya persis di dekat sebuah surau. Namun, siapa sangka tempat ini menyimpan daya tarik mistik luar biasa.

Sejarah daerah Ciomas, diyakini bertolak dari nama seorang tokoh yang dipusarakan di makam keramat yang ada di sini. Ia adalah seorang Cina bernama Pak Cio. Menurut keterangan masyarakat di sana, asal muasal nama Desa Ciomas diambil dari nama tokoh ini. Suku kata “Cio” diambil dari nama Pak Cio, sedangkan suku kata “mas” diambil dari nama sumur Mas yang ada di kompleks keramat Buyut Cibuntu, Dayeuh Ciomas.

Mengapa nama Pak Cio diabadikan menjadi nama desa? Sebab dialah yang pertama kali membuka hutan Sukahaji dan menyulapnya menjadi perkampungan yang ramai. Secara fisik, Dangdeur Pugur mudah dikenali oleh menjulangnya sebuah pohon beringin yang berusia lebih dari seratus tahun. Akar-akar pohon yang menjuntai, menjadi ciri yang mudah ditebak. Nah, persis di bawah pohon beringin itulah makam Pak Cio berada.

Namun, tak banyak yang menduga bila komplek Dangdeur Pugur ini kerap dijadikan ajang mencari pesugihan. Sebuah upaya memperoleh kekayaan melalui persekutuan dengan siluman penunggu pohon beringin.Menurut keterangan masyarakat, di tempat ini seringkali terlihat orang sedang melakukan tirakat. Ia duduk di sana berlama-lama, mulutnya komat kamit, dan kelakuan itu terus berlangsung hingga tengah malam. Esoknya, orang ini tak terlihat lagi.

Seperti sudah maklum, masyarakat di sana tak ambil pusing dengan berbagai kelakuan para peziarah. Mereka amat toleransi dan menganggap itu merupakan bagian dari keyakinan orang lain. Toh, selama ini kampung tak ada gangguan oleh kedatangan ramainya para peziarah. Yang terjadi justru sebaliknya, kampung menjadi ramai dan hidup.

Siluman pesugihan

Bagdja Mulia, seorang spiritualis yang kerap mengantar peziarah asal Sumedang, menceritakan bila tempat ini memang biasa digunakan sebagai sarana mencari pesugihan. Mulanya, orang yang datang ke sini hanya sekadar bertawasul, setelah itu pulang lagi. Namun entah sejak kapan ada orang mencari pesugihan di tempat ini. “Karena itulah peziarah harus hati-hati, jangan terjebak dengan siluman pesugihan,” Bagdja Mulia mewanti-wanti.

Bagdja menduga, siluman pesugihan yang kerap muncul dalam berbagai wujud itu bersemayam di pohon beringin di samping makam Pak Cio. Orang yang batinnya lemah dan tak kuat iman, akan mudah terseret dalam transaksi gaib dengan siluman itu. Bagdja sendiri pernah membuktikannya.

Suatu hari, Bagdja Mulia datang ke Dangdeur Pugur untuk melakukan tirakat. Tepat tengah malam, saat bersemadi, tiba-tiba dihadapannya muncul seorang wanita cantik. Mata batin Bagdja yang sudah terasah, langsung merasakan getaran negative yang ditebar wanita ini. Ia tak lain adalah siluman yang menjelma menjadi menjadi wanita dan hendak menggoda dirinya.

Dan benar saja, tak lama setelah kemunculannya yang mendadak, wanita cantik itu bertanya dengan lemah lembut. “Apa yang kamu inginkan?” Tanya si wanita ke arah Bagdja, yang kemudian dijawab tak menginginkan apa-apa, melainkan hanya ingin mendoakan ahli kubur dan mendapat barokah dari Yang Maha Kuasa. Mendapat jawaban itu, mahluk berwujud wanita cantik itu segera menghilang entah kemana.

Menurut Bagdja, trik-trik siluman pesugihan menggaet sasarannya bermacam-macam. Orang yang batinnya lemah, saat melakukan tirakat pasti akan didatangi dalam berbagai wujud. Bila ia seorang lelaki, siluman yang muncul akan berwujud perempuan cantik jelita. Bila orang tua yang tirakat, yang muncul adalah suara gaib seolah-olah petunjuk atau wangsit. “Padahal semua itu adalah tipu daya siluman. Hati-hatilah,” tandas Bagdja.

Menurut penuturan para peziarah yang ditemui posmo di Dayeuh Ciomas, keramat Dangdeur Pugur memang sering dijadikan arena mencari pesugihan. Akan tetapi, karena syarat atau tumbalnya sering berupa penderitaan diri pemohon, maka banyak orang yang menolak bersekutu dengan siluman Dangdeur Pugur.

Olot (45), peziarah asal Cirebon misalnya, pernah didatangi seseorang yang menawarkan kekayaan. Mulanya saya merasa yakin dan tertarik ajakan dia. Maklumlah, selama ini kesulitan ekonomi tengah menghimpit Olot. “Tapi karena dia minta agar saya mau menjadi pengemis selama tiga bulan, maka permintaannya saya tolak. Biar miskin saya masih punya harga diri,” tegas Olot.

Mak Oyah (63), istri kuncen Dayeuh Ciomas yang juga mengelola keramat Dangdeur Pugur, mengatakan bila Dangdeur Pugur bukan tempat untuk mencari pesugihan. Yang benar adalah tempat bertawasul kepada Yang Maha Kuasa agar permohonannya diijabah. “Hanya saja doanya dilakukan di makam Babah Cio. Sebenarnya doa itu bisa dikirim dari sini (Dayeuh Ciomas),” tutur Mak Oyah.
Tapi Mak Oyah tidak menampik kemungkinan tersebut. Sebab semua itu diserahkan kepada orang yang menginginkannya. “Kalau jalan melalui pesugihan yang ingin ditempuh, silakan saja. Asalkan dia sanggup menanggung segala akibatnya,” ungkap wanita yang selalu setia menemani Wirta (75), suaminya yang bertugas sebagai kuncen Dayeuh ciomas itu.

Mak Oyah menjelaskan bila keramat Ciomas sebenarnya menolak dimintai hal-hal tidak benar. Jangankan minta pesugihan, orang yang memohon mendapatkan nomor jitu untuk permainan judi togel saja ditolak. “Di sini tempat memohon kehidupan lebih baik dengan cara yang baik,” katanya seraya menyerahkan semuanya kepada Yang Di Atas.

Dijaga Khodam Harimau Putih

Di kompleks Dayeuh Ciomas terdapat beberapa makam, tiga bongkah batu, dua sumur, serta sebuah pancoran yang semuanya dikeramatkan. Tak boleh main-main dan anggap enteng tempat-tempat itu, bila ingin masa depannya terang.

Menuju kompleks Sirah Dayeuh Ciomas, orang harus berjuang ekstra keras. Pertama, ia harus melalui pematang sawah sejauh kurang lebih 2 km. Dan kedua, ia harus rela turun naik perbukitan dengan jalan berbatu yang jarak tempuhnya kurang 2 km. Meski medan berat, anehnya, setiap hari puluhan orang datang ke Dayeuh Ciomas. Medan berat tak menyurutkan langkah-langkah para peziarah ini.

Yang datang ke tempat ini pun beragam. Rata-rata berasal dari luar Majalengka, seperti Bandung, Sumedang, Cirebon, Kuningan, bahkan Jakarta dan daerah Jawa Tengah. Tiap hari, ada saja yang datang ke tempat ini memohon berkahnya. Dan pulangnya, mereka selalu membawa botol minuman kemasan yang berisi air dari Sumur Mas, Sumur Cikajayaan dan Pancuran Cikahuripan.

Buyut Cibuntu

Sirah Dayeuh Ciomas kerap pula disebut keramat Buyut Cibuntu. Tempat ini memang terkenal karena kabar dari mulut ke mulut. Akan tetapi, banyak peziarah tak ambil pusing yang mana makam Buyut Cibuntu dan mana makam Nyi Ciptarasa. Orang kerap kali terkecoh dengan makam Nyi Ciptarasa yang letaknya lebih nyaman dan terletak dalam sebuah bangunan permanen. Makam inilah yang justru lebih banyak diziarahi. Selain itu, di dekat makam Nyi Ciptarasa terdapat tiga sumur keramat dan batu Panayogian Rizki.

Siapa sebenarnya Buyut Cibuntu yang terkenal itu? Beliau adalah orang yang berjasa membuka areal perkampungan ketika masih berbentuk hutan belantara. Hanya saja, tak ada catatan apa hubungannya dengan Pak Cio, orang Cina yang juga membuka perkampungan Ciomas. Akan tetapi, dalam perkembangannya, dua tokoh ini memang amat disegani dan makamnya selalu ramai diziarahi.

Makam Buyut Cibuntu terletak di lereng atas bukit Cibuntu. Nama aslinya adalah Raden Brasma, yang juga kerap disebut Raden Semar. Yang bertanda ke tempat ini umumnya adalah mereka yang terjerat berbagai pelik dalam hidupnya. Semisal tengah dililit perkara hukum, sampai problem utang piutang. Namun, tidak sedikit pula yang meminta aji pengasih dan penglarisan untuk usaha.

Hanya saja, para peziarah jarang mengunjungi makam Buyut Cibuntu. Sebab selain medannya lebih berat, hampir berada di puncak bukit, jalannya juga terjal dan licin bila hujan turun. Karena itulah Wirta, kuncen Buyut Cibuntu, menyarankan agar doa dilantunkan di sisi pusara Nyi Ciptarasa yang tempatnya berada di dalam sebuah bangunan.

Menurut cerita yang berkembang, makam Buyut Cibuntu paling dikeramatkan diantara tempat keramat yang ada di Sukahaji. Selain karena menuju ke lokasi yang sulit, makam Mbah Buyut Cibuntu juga dijaga harimau putih gaib. Harimau ini memang tak kasat mata dan juga tak pernah mengganggu manusia. Namun bagi mereka yang awas batin, pasti dapat melihat kehadiran harimau tersebut.

Tanah dari makam Mbah Raden Brasma atau Buyut Cibuntu ini sering diambil oleh Wirta tiap hari Jumat kliwon. Tanah itu lalu dimasukkan ke dalam bungkusan-bungkusan kecil oleh Mak Oyah, sang istri, untuk di bawa pulang oleh peziarah. Konon, bila tanah itu ditaburkan di sekitar rumah bisa menangkal segala macam balak seperti serangan santet, teluh dan guna-guna.

Sumur Keramat

Di halaman bangunan makam Nyi Ciptarasa, terdapat dua buah sumur dan sebuah pancoran yang sangat dikeramatkan baik oleh masyarakat setempat, maupun para peziarah. Ketiga sumur ini berusia ratusan tahun. Menurut Wirta, sebelum dirinya lahir, sumur itu sudah ada. Bahkan jauh sebelum kakek dan neneknya lahir. Anehnya, meski tak seberapa dalam, bahkan saat musim kemarau panjang sekalipun, air sumur ini tak pernah kering.

Karena posisinya tidak dalam, siapa pun yang menginginkan air ini bisa langsung mengambilnya dengan cara menciduk. Konon, air sumur ini memiliki banyak khasiat sesuai dengan namanya masing-masing. Sumur yang letaknya disebelah barat di sebut Sumur Cikajayaan. Sumur ini dipercaya bisa memberikan kejayaan bagi pemakainya. Para peziarah Dayeuh Ciomas, selalu menyempatkan diri mandi di sumur ini.

Uniknya, di sebelah sumur ini tampak berserakan uang receh dan lembaran uang kertas ribuan, yang bercampur dengan aneka bunga. Rupanya, setelah mandi, orang selalu menaruh uang dan bunga-bungaan di situ. Tak jelas apa maksudnya. Kabarnya, cara itu dilakukan agar keinginannya mendapatkan kejayaan dalam hidup lekas tercapai.

Menurut sejarahnya, sumur Cikajayaan ini dibuat oleh pendiri atau pembuka daerah Ciomas ratusan tahun silam. Tujuannya untuk mendapatkan sukses dan kejayaan dalam hidup. Semasa jaman perjuangan kemerdekaan, banyak para pejuang yang datang dan meminum air sumur ini sebelum maju ke medan perang. Tujuannya untuk mendapatkan kemenangan dalam pertempuran. Sampai sekarang sumur ni masih diyakini memiliki tuah. Itu sebabnya banyak pengunjung yang datang dari jauh ke sini hanya untuk mandi atau mengambil airnya dalam botol untuk dibawa pulang.

Sumur Cikajayaan konon sangat manjur untuk sinden dan calon artis. Tidak heran bila para peziarah kerap terpesona oleh gadis-gadis yang mandi di sumur Cikajayaan. Mereka rata-rata berwajah manis dan bersuara bagus. Maklum, calon artis dan sinden. Nah, beberapa tiga meter dari sumur Cikajayaan terdapat sebuah sumur yang aneh bin ajaib. Orang menyebutnya Sumur Mas.

Yang mengherankan, warna air sumur ini berwarna kuning keemasan. Benda apapun yang jatuh ke dalam sumur ini, akan tampak berwarna kekuning-kuningan, persis seperti warna emas. Menurut cerita, dulu Nyi Ciptarasa pernah kehilangan sebuah perhiasan terbuat dari emas. Dicari kemana-mana tidak ditemukan. Suatu hari, terdengar suara gaib yang mengatakan bahwa perhiasan itu di salah satu sumur dan larut bersama air itu. Setelah dilihat, ternyata ada sebuah sumur yang airnya berwarna kuning keemasan. Air sumur ini konon manjur untuk pengasihan.

Yang lainnya adalah air pancur Cikahuripan (kehidupan). Air pancuran ini bersumber dari mata air yang dialirkan melalui pipa. Beberapa peziarah sering terlihat antri untuk mengambil airnya. Air ini diyakini memiliki macam-macam tuah yang intinya adalah membawa berkah untuk kehidupan di masa yang akan datang.

Menrutu kuncen Wirta, pemakaian air dari dua sumur dan pancoran ini berbeda satu sama lain. Air sumur Cikajayaan, haru dibawa pulang. Sebab menurut kepercayaan, air sumur itu akan memiliki tuah bila dipakai di rumah masing-masing. Pada jaman perang kemerdekaan dulu, air ini sering digunakan untuk membasuh luka para prajurit. Tak berapa lama ia mengalami kesembuhan. Begitu juga prajurit yang turun mentalnya, setelah dipercik air ini, semangatnya timbul kembali. *

Tiga Batu Penentu Rejeki

Tiga bongkah batu berbeda ukuran tergeletak persis di beranda depan bangunan maam Nyi Ciptarasa. Meski ukurannya berbeda, tapi tak sembarang orang bisa mengangkatnya. Inilah batu yang disebut panayogian rizki atau penentu kerejekian.

Tiga bongkah batu ini berwarna hitam legam, dengan alas batu pula. Menurut catatan, benda ini merupakan peninggalan sejarah purbakala yang dilindungi oleh undang-undang. Sayangnya, tak ada penjelasan resmi asal usul batu dan sejak kapan berada di lokasi itu. Juga tak ada keterangan dimanfaatkan untuk batu ini oleh manusia jaman purba. Yang pasti, dari segi ukuran, batu ini amat menarik hati.

Ukurannya berbeda dan posisinya berurutan mulai yang besar di sebelah kiri sampai terkecil di sebelah kanan. Menurut Wirta, ketiga batu ini disebut panayogian rizki yang dalam bahasa Indonesia berarti batu penentu rejeki. Maksudnya, siapa orang yang sanggup mengangkat batu itu, maka rejekinya akan lancar. Dan siapa yang tidak sanggup mengangkatnya, rejekinya akan seret. Ternyata, banyak pengunjung yang berhasil mengangkat batu itu.

Anehnya, ukuran bobot batu ini tak bisa ditentukan. Sebab batu paling besar yang diperkirakan seberat 50 kg, bisa saja bagaikan seberat 10 kg bila diangkat orang. Artinya, orang bertubuh kecil dan kurus pun, bisa saja mengangkat batu ini dengan mudah. “Itu semua kebesaran Tuhan. Melalui batu ini diperkirakan rejeki seseorang,” tutur Wirta kepada posmo.

Akan tetapi, sebongkah batu kecil bisa saja berbobot puluhan kilo bila diangkat. Itulah penentu kerejekian. Penuh dengan misteri dan tak bisa dinalar dengan akal sehat. Hanya saja, ada syarat saat mengangkat batu ini. Yaitu tidak boleh menimbulkan bunyi setelah diangkat. Sebab bila menimbulkan bunyi berdegum karena beratnya, maka peruntungan rizkinya musnah. Wallahu alam bissawab. *

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 30, 2012 in WACANA

 

Trilogi Pewayangan

Dari Sergio Khatulistiwa

MAKNA PERANG BHARATAYUDA DAN PERUBAHAN

Sebagai kelanjutan dari tulisan DUNIA PEWAYANGAN DAN KEKUASAAN ORDER BARU yang mengupas idealisme etika JAWA dalam pewayangan yang berkenaan dengan masyarakat dan pimpinan ideal maupun kekuasaan, wayang purwo / kulit sebagai pengertian simbolik bagi penulis tetap merupakan sumber yang tidak pernah kering untuk suatu refleksi kekinian. Kali ini penulis ingin mengajak pembaca mengupas makna simbolik dari perang Bharatayuda yaitu bagian dari Mahabharata yang mengisahkan perang saudara antara Pendawa Lima dan Kurawa (mereka adalah sama-sama cucu dari Bhegawan Abiyasa) untuk mengambil kembali kerajaan Indraprasta / Amartapura yang dikuasai oleh Hastina-pura dikarenakan kalah judi. Pendawa Lima merasa sudah melunasi hukumannya dibuang dihutan selama 12 (duabelas) tahun, dan satu tahun dalam penyamaran, tetapi Kurawa mempertahankan dan menuduh Pandawa Lima gagal melaksanakan hukumannya. (Dalam wayang purwo / kulit agak sedikit ada kerancuan bahwa penyebab peperangan disebabkan Pendawa Lima ingin mendapatkan hak Hastina-pura yang dititipkan oleh Panduwinata – ayah Pendawa Lima, yang pada saat itu raja Hastinapura – kepada kakaknya yang buta Destrarata – ayah Kurawa).
Dalam episode Bharatayuda, didalamnya terdapat kisah Bhagawatgita yaitu kisah awal dari Bharatayuda ketika Arjuna merasa sangat tidak bersemangat untuk berperang melawan Kurawa dikarenakan musuh yang dihadapi masih saudara sendiri bahkan diantara musuh yang harus dihadapi adalah para sesepuh yang sangat dihormati yaitu Resi Bisma, Pendita Durna dll. Arjuna merasa kenapa harus berperang untuk memperebutkan kerajaan, kalau perlu biarlah Kurawa menguasai kerajaan. Sri Kresna memberikan nasihat kepada Arjuna bahkan terpaksa memperlihatkan wujud Wisnu yang sebenarnya untuk meyakinkan Arjuna bahwa : Peperangan Bharatayuda bukan sekedar perang melawan saudara sendiri tapi adalah peperangan suci yang harus dilaksanakan oleh Ksatria Utama sebagai dharmanya / kewajibannya untuk melenyapkan keangkaramurkaan dan kebatilan dimuka bumi. Sri Kresna kemudian juga mengajarkan kepada Arjuna makna hidup, asal kehidupan, dan akhir kehidupan yang mengalir dalam perwujudan Wisnu yang sebenarnya yang dituliskan dalam kisah Bhagawatgita (yang juga menjadi salah satu kitab suci pemeluk agama Hindu). Dalam interpretasi perang Bharatayuda dalam kisah wayang purwo/kulit banyak versi sesuai dengan peresapan masing-masing penggemar ataupun pengamat wayang purwo / kulit yang pada hakekatnya bisa dikatagorikan dalam simbolik berupa perubahan yang bersifat micro (dalam diri manusia sendiri) dan perubahan yang bersikap macro (dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara).

Arti simbolik yang bersifat micro (dalam diri manusia secara individu) Pengertian simbolik perang Bharatayuda dalam diri manusia adalah peperangan dalam diri manusia dalam rangka mengatasi dirinya antara perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk. Adalah peperangan yang tiada henti selama hidup dari seseorang sebagai individu untuk mencari nilai budi luhur dan melaksanakan dalam tindakan nyata sehari-hari yang melawan pengaruh buruk yang bersifat kesenangan yang bisa merusak diri dan lingkungannya.

A. Bharatayuda sebagai simbol pertarungan / pergulatan etika baik dan buruk dalam diri manusia: Peperangan dalam diri manusia adalah hakekatnya perang saudara, karena apabila manusia menginginkan sifat baik yang terpancar dalam kehidupannya dia harus berani membunuh sifat buruk dalam dirinya yang berarti membunuh sebahagian dari dirinya.
Betapa sakitnya seseorang yang harus membunuh sifat dalam dirinya yang bersifat kesenangan yang merusak seperti ma-lima (lima M) yaitu (madon, madat, maling, main, mabuk yang artinya madon berarti – kesenangan dengan wanita/ sex diluar pernikahan, madat – kesenangan dengan candu / ganja / ecstacy / heroin / ataupun sejenisnya, maling – kesenangan memiliki hak / kepunyaan orang lain, main – kesenangan berjudi, mabuk – kesenangan minum minuman keras). Kalau seseorang sudah terlanjur mempunyai kesenangan seperti tadi yang merupakan sifat buruk dalam dirinya, seseorang memerlukan sikap sebagai Arjuna yang harus berani melakukan perang Bharatayuda, untuk membunuh sebahagian dari dirinya yang bersifat buruk, betapa hal itu sangat berat dan terasa menyakitkan. Dan apabila sifat Ksatria Utama yang memenangkan peperangan dalam diri seseorang,dia mampu mengatasi dirinya untuk tidak berbuat yang kurang terpuji dan berbudi luhur dalam perbuatan nyata untuk dirinya maupun untuk masyarakat sekelilingnya. Kemenangan dalam peperangan ini sebetulnya perubahan yang nyata dari sifat manusia tersebut dari manusia yang kurang terpuji sifat2-nya menjadi manusia yang terpuji sifat2-nya.

B. Bharatayuda sebagai simbol cara kematian seseorang sesuai dengan karma/ akibat perbuatannya: Dalam kehidupan seseorang selalu diuji keberpihakan-nya terhadap nilai-nilai budi luhur atau kecenderungannya terpengaruh oleh perbuatan buruk. Dalam masyarakat modern yang makin heterogen dan dengan makin terbukanya pengaruh2 berbagai budaya dari luar kadang2 agak sulit untuk mengenali dengan cepat dan mengambil garis lurus ataupun garis pemisah antara perbuatan etika moral yang terpuji maupun yang kebalikannya yang kadang agak sulit bagi kita menarik garis hitam putih. Tapi kalau kita mengkaji lebih lanjut kisah / lakon dalam wayang purwo/kulit hal tersebut bukan sesuatu yang tidak terdeteksi dalam kisah tokoh2-nya yang selalu bergulat dalam perbuatan yang terpuji maupun kurang terpuji bahkan terhadap tokoh2 yang di-ideal-kan seperti tokoh Pendawa Lima dan Sri Kresna. Hal ini adalah suatu indikasi alamiah ketidak sempurnaan manusia. Wayang purwo / kulit mengajarkan suatu budaya yang sangat bijaksana berkaitan dengan ketidak sempurnaan manusia dengan menciptakan tokoh punokawan yaitu Semar, Petruk, Gareng, Bagong yang selalu memberikan peringatan terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh para raja dan ksatria. Kalau punokawan ini secara simbolik diartikan sebagai rakyat dan inilah secara nyata sistem demokrasi dimana kelemahan dan ketidaksempurnaan manusia dicoba diatasi dengan melaksanakan sistem yang saling mengingatkan (check and balance ataupun social control) antara pihak pimpinan / raja, para ksatria, sistim peradilan, dan rakyatnya. Sistem ini menuntut semua pihak rela menerima koreksi / kritik dari pihak yang lain, dan budaya wayang purwo/kulit memberi contoh yang gamblang bahwa Semar maupun punokawan selalu mengingatkan raja / ksatria yang peringatannya / kritiknya diterima dan diperhatikan oleh raja dan para ksatria.
Beberapa contoh kisah pewayangan yang menggambarkan ketidak sempurna-an sifat2 dari tokoh yang dianggap sebagai tauladan :
1. Yudistira/Puntodewo yang terkenal kejujurannya dan kebijaksanaannya sebagai seorang raja ternyata dia mempunyai kelemahan
yang sangat fatal yaitu kesenangannya dengan judi yang kelemahan tersebut dimanfaatkan oleh Kurawa dengan arsiteknya Patih Sengkuni sehingga membawa kesengsaraan keluarganya bahkan sampai dengan negaranya, saudara2-nya, bahkan istrinya – Dewi Drupadi – dipakai sebagai barang taruhan dan sempat sangat dipermalukan didepan umum oleh Dursasono – salah satu dari Kurawa, dan akhirnya membawa Pendawa Lima harus menjalani hukuman dibuang ditengah hutan selama duabelas tahun dan melakukan penyamaran selama satu tahun.
2. Arjuna yang sangat pandai dan sakti ternyata punya kelemahan terhadap wanita yang membawanya dia terkenal kalau dengan istilah sekarang sebagai Don Yuan (biarpun beberapa pakar pewayangan hal ini diartikan sebagai simbol kegandrungan Arjuna akan ilmu pengetahuan sehingga dia selalu berguru kepada Bhegawan dan mengawini anak perempuannya yang diartikan / disimbolkan sebagai menguasai ilmu dari sang Bhegawan).
3. Sri Kresna yang terkenal bijaksana dan dikatakan sebagai titisan Wisnu ternyata kurang mampu mendidik anaknya dan terlalu
memanjakan anaknya yang akhirnya membawa pada karma kematiannya melalui seorang pemburu yang tanpa sengaja memanah kakinya – yang anak panahnya berasal dari perbuatan / kesombongan anaknya Samba (Mohon ber-hati-hati bagi yang merasa menjadi raja – dan saya tidak yakin kalau beliau membaca Internet, dan saya yakin bahwa pembantu2 dekatnya pasti ada yang membaca Internet dan pasti tidak berani mengingatkan sang raja – dan yang memanjakan anak2-nya menjadi orang yang serakah dan angkara murka bahkan Sri Kresna yang titisan dewa tidak bisa lepas dari karma akibatnya).
Contoh2 diatas masih bisa diperpanjang dengan tokoh2 seperti Abimanyu (anak Arjuna) yang membohongi istrinya, Gatutkaca (anak Werkudoro) yang memunuh pamannya sendiri, Resi Bisma yang membunuh wanita yang mencintainya, Prabu Salyo yang membunuh mertuanya, dan yang lain2-nya yang pada suatu saat dalam kehidupannya pernah melakukan perbuatan yang kurang terpuji yang balasan karma dari perbuatan buruknya terjadi pada perang Bharatayuda dan ini menjadi suatu interpretasi simbolik lainnya dari makna perang Bharatayuda secara micro (pada individu) yaitu : peperangan terakhir dari manusia menghadapi karma hidupnya, yaitu cara kematiannya adalah cermin dari seluruh cara dan perilaku seluruh kehidupannya baik ataupun buruk. Arti simbolik yang bersifat macro (dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara)

Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara manusia sebagai individu juga selalu diuji keberpihakan seseorang terhadap kelompok yang punya nilai2 luhur dan kelompok yang cenderung terpengaruh oleh perbuatan buruk. Dalam masyarakat modern yang makin heterogen dan dengan makin terbukanya suatu negara dari pengaruh-pengaruh berbagai budaya dari luar sebagai suatu dampak globalisasi kadang2 agak sulit untuk mengenali dengan cepat dan mengambil garis lurus ataupun garis pemisah antara kelompok2 yang memperjuangkan suatu etika moral yang terpuji maupun yang kebalikannya. Kalau melihat contoh2 seperti Yudistira /Puntodewo, Arjuna, dan Sri Kresna seperti tersebut diatas jelas bahwa sebagai manusia mereka tetap mempunyai sifat alamiah tentang ketidak-sempurna-an manusia. Walaupun secara umum atau bisa juga dikatakan bahwa sebagian besar perilaku yang diperbuat bisa dijadikan contoh walaupun tidak lepas dari cacat dan cela. Dengan segala cacat dan cela sebagai individu, secara kelompok mereka mempunyai suatu ciri utama yaitu mengemban tugas Pemimpin maupun Ksatria Utama yang harus selalu menegakkan kebenaran dan memerangi kelompok yang angkaramurka. Dan dari zaman ke zaman selalu saja akan muncul seorang Pemimpin yang memimpin kelompoknya untuk memerangi kezaliman yang merugikan masyarakat/rakyat banyak ataupun pihak2 yang lemah dan tak berdaya. Dan nyata2 bahwa setiap Pemimpin akan mengalami dilema seperti Arjuna yang ragu2 untuk menjalankan perannya untuk menegakkan kebenaran apabila yang dihadapi adalah para Pimpinan bangsanya sendiri, bahkan diantaranya adalah para tokoh yang dihormati seperti Resi Bisma, Adipati Karno yang oleh keterikatan historis (walaupun sebetulnya mereka tidak sependapat dengan kelakuan Duryudono sebagai raja kelompok Kurawa) ataupun dengan sejuta alasan lainnya berpihak kepada yang tidak benar. Dan perang Bharatayuda adalah simbol peperangan yang mungkin bisa timbul didalam masyarakat apabila muncul kelompok yang menjunjung tinggi etika berbudi luhur yang melaksanakan perang suci menghadapi kelompok yang zalim dan angkaramurka agar terjadi perubahan yang nyata menuju suatu tata masyarakat yang lebih baik. Bahwa pada akhirnya Pendawa Lima memutuskan untuk melaksanakan suatu perang Bharatayuda bukanlah suatu proses atau keputusan yang mudah, Pendawa Lima secara nyata telah menjalankan usaha mencegah agar perang Bharatayuda jangan terjadi dengan misi perdamaian – yang terakhir adalah lakon / cerita Kresno Duto yang mengutus Sri Kresna untuk menyelesaikan masalah secara damai yang akhirnya malah menimbulkan kemarahan yang sangat dari Sri Kresna yang hampir saja menghancur-luluhkan seluruh kerajaan Hastinapura. Secara simbolik bisa diartikan bahwa kezaliman dan keangkara-murkaan itu semacam candu/ecstacy, sekali kita didalamnya sulit kita bisa dengan mudah menjadi sadar dengan sendirinya, harus ada pihak2 yang berani memerangi dan menghancurkannya.

Diceritakan bahwa perang Bharatayuda adalah perang yang gegirisi atau sangat menakutkan -tidak ada satupun perang yang tidak menakutkan yang akan meminta banyak korban-dimana akhirnya semua seratus Kurawa dan segala Ksatria yang membantunya habis terbunuh, juga dari sisi Pendawa Lima tidak ada anak2 Pendawa Lima yang bisa lolos dari maut. Kemenangan dari Pendawa Lima harus dibayar sangat mahal walaupun akhirnya Hastinapura bisa menjadi negara yang adil makmur setelah segala keangkamurkaan Kurawa bisa dimusnahkan. Jer basuki mawa bea adalah suatu pepatah Jawa yang artinya – untuk mencapai suatu tujuan selalu ada beayanya.

Kesimpulan

Indikasi masyarakat Indonesia saat ini sangat memprihatinkan yaitu suatu kondisi yang apabila tidak dicermati ataupun disadari terutama oleh pendukung Orde Baru – dikarenakan posisinya yang memegang kekuasaan dan kekuasaan apabila berciri angkaramurka sama dengan ketagihan candu / ecstacy yang punya ciri: sekali kita didalamnya sulit kita bisa dengan mudah menjadi sadar dengan sendirinya – yang bisa menimbulkan suatu situasi radikal para kelompok yang merasa terpanggil untuk melaksanakan pembaharuan yang bisa mengidentifikasikan ebagai kelompok moralis / kelompok pro-demokrasi menghadapi pemerintahan yang zalim yang telah menjalankan Pemilu yang tidak adil, pemerintahan yang penuh korupsi dan kolusi, yang tentaranya menembaki rakyatnya sendiri, melakukan manipulasi undang2 dan peraturan yang menguntungkan kelompoknya, yang anak-anak sang pemimpin ikut campur dalam urusan berusaha dan bernegara seperti layaknya pangeran2 kerajaan dsb. Lambat atau cepat apabila tidak diatasi secara bijaksana bukan sesuatu yang tidak mungkin bisa terjadi perang Bharatayuda dibumi kita tercinta, walaupun kita semua tidak menginginkan, dan adalah sangat alami barangkali juga sebagai hukum alam bahwa selalu akan muncul kelompok moralis yang dengan segala resikonya untuk memerangi pihak yang dianggap menyimpang dari tindakan yang jujur dan terpuji dari waktu ke waktu.

Tulisan ini dibuat dengan maksud agar tercapai suatu Pemerintahan (siapapun yang melaksanakan) yang berorientasi sepenuhnya untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat secara luas.

Sergio Khatulistiwa
Quebec – Canada

Referensi:

1. Ki Ageng Mangir
2. Ir. Sri Mulyono Djojosupadmo , Apa dan Siapa Semar, 1975,P.T. Gunung Agung

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 25, 2012 in WACANA

 

Lagu Inyong kieh

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 5, 2012 in WACANA

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.