Sesuatu yang disayangkan bila kekayaan masa lalu justru dilupakan dan dikubur dalam-dalam. Bahkan, peranannya terkesan dikecil-kecilkan, dikalahkan oleh setting sejarah yang bersifat politis, sekadar memenuhi pesanan (rekayasa), daripada mengungkap fakta objektif yang sejati.
Begitulah nasib Talaga Manggung. Kerajaan tua di lembah Gunung Ciremai. Pada masanya, Talaga Manggung cukup termasyhur. Orang-orang, dari Thailand, Campa (Kamboja) dan Malaysia, berdatangan.
Yang lebih membanggakan, Talaga Manggung dirintis dari padepokan pendidikan (peguron), bukan representasi politik. Pada masa keemasan, orang berdatangan ke kerajaan Hindu-Buddha ini untuk belajar atau memperdalam ilmu. Tedja Sukmana (72), tokoh Majalengka mantan anggota DPRD 1999-2004, mengemukakan kemasyhuran itu. Talaga Manggung berawal dari padepokan di Banjaran, di Gunung Bitung Talaga oleh Rakaian Sudayasa dengan penerusnya Dewa Niskala. Kitab Siksa Kandang Karsiyan (586 M) menuliskan keberadaan Talaga Manggung. Begitu pula kitab Waruga Jagat (Purwaka Caruban Nagari tahun 1720 M). “Sampai tahun 1692 masih ada kerajaan Titu,” ujar Tedja.
Talaga Manggung diambil dari nama Prabu Talaga Manggung, juga dikenal Mundingsae Ageng dengan penandaan tahun Masehi 1292. Menurut Teja , Prabu Talagamanggung menurunkan Putri Simbar Kencana dan Raden Panglurah. Raden Panglurah tidak berminat pada politik, ia memilih menjadi begawan, sedang Simbar Kencana tertarik pada pemerintahan. Keturunannya kelak Ratu Sunyalarang (Ratu Parung) menikah dengan Raden Ranggamantri dari Pajajaran. Pernikahan dengan mas kawin seperangkat gamelan, baju antipeluru, ukiran, uang blendong, keris dan tombak. Benda-benda itu kini tersimpan di museum yang dikelola keturunannya, Teten Wilman (45).
Hingga sekarang ada makam Rd. Arya Saringsingan di Banjaran, Rd. Ranggamantri di Sanghiang, Ratu Sunyalarang di Cikiray, juga Rd. Sacanata di Desa Argasari, termasuk pula makam Sunan Wanaperih di Kagok.
Sindangkasih
Ibrahim Sumadinata (78), mengemukakan konteks yang melatarbelakangi Majalengka. “Saya dan tim dulu menelusuri Kota Majalengka, bukan Majalengka kabupaten,” tutur dia.
Menurut Ibrahim yang ikut membidani Perda Nomor 5/1982 tentang Harijadi Majalengka yang jatuh pada 7 Juni 1490 masehi, Majalengka dulunya Sindangkasih yang kini menjadi pusat pemerintahan.
Oleh karena itu, penelusuran sejarah Majalengka lebih tepat bila merujuk pada Nyi Rambut Kasih di Sindang Kasih. Kalau Talaga Manggung, konteksnya kabupaten, bukan pusat pemerintahan Majalengka.
Hari Jadi Majalengka menurutnya, berkiblat ke Cirebon tempat pertama kali Sunan Gunung Djati menyebarkan Islam. Ini terkait dengan Pangeran Muhammad, keturunan Pangeran Panjunan, Cirebon yang datang ke Sindangkasih untuk mencari buah Maja dan menyebarkan agama Islam.
“Talaga itu kalah oleh Islam dari Cirebon, sedang Nyi Rambut Kasih tidak,” ujarnya.
Pensiunan Kepala SMEA Negeri Sindanglaut itu yakin pada homonim Sindangkasih dari kata Candrasengkala. Candrasengkala artinya 1412 (10 Muharram) dan bila diubah atau dikonversikan ke tahun Masehi menjadi 1490 (7 Juni). Tanggal 7 Juni tahun 1490 itulah tahun kelahiran Majalengka, ini diperkuat dengan Perda nomor 5/1982. Candrasengkala sendiri merupakah khazanah budaya di Kerajaan Mataram.
“Silakan cek di Mataram Yogyakarta. 1490 merupakan tahun kedatangan Pangeran Muhammad dari Cirebon bersama istrinya Siti Amrillah. Keduanya menyebarkan Islam. Majalengka menganut Islam lebih dulu sebelum Galuh,” tutur Ibrahim yang masuk tim penyusun harijadi pada 7 Juni dengan pancakaki (titi mangsa) 1490 masehi itu.
Sejarah yang kemudian menjadi Hari Jadi Majalengka, kata Ibrahim, sesuai arahan pemerintah, harus memuat unsur heroisme dan patriotisme. Sejarah yang heroik dan patriotis itu menjadi nilai-nilai penentu masa depan. “Dan itu ada pada kisah Pangeran Muhammad,” tutur Ibrahim. (Dakus
Nama Nyai Rambut Kasih cukup dikenal masyarakat Tatar Sunda. Bahkan keberadaannya kerap dikaitkan dengan sejarah berdirinya Kabupaten Majalengka. Soal ini memang masih ada silang pendapat. Namun, beberapa petilasannya meyakinkan akan eksistensinya. Di tempat-tempat persinggahannya itu, Nyai Rambut Kasih kerap menampakkan diri sebagai sosok yang cantik rupawan. Siapa sebenarnya tokoh yang melegenda ini?
Sudah menjadi perbincangan umum bila sosok Nyai Rambut Kasih berkait erat dengan berdirinya Kabupaten Majalengka. Di kabupaten yang berbatasan dengan Indramayu, Ciamis, Sumedang dan Cirebon ini, beberapa petilasan Nyai Rambut Kasih masih ada dan terawat dengan baik. Yang paling apik dan terus menerus terjaga kondisinya adalah gedung pendopo Kabupaten Majalengka.
Gedung pendopo adalah kantor Bupati Majalengka saat ini. Dulu, gedung ini merupakan rumah kediaman Nyai Rambut Kasih. Di belakang gedung ini terdapat kamar Nyai Rambut Kasih dan seperangkat gamelan yang diperuntukkan khusus untuk menghibur sang Nyai. Kerap kali pegawai Pemkab Majalengka menyaksikan penampakkan seorang wanita berambut panjang terurai mengenakan gaun ala wanita bangsawan jaman dulu. Diyakini betul bila itulah sosok Nyai Rambut Kasih.
Selain gedung pendopo, patilasan Nyai Rambut Kasih yang kerap dikunjungi masyarakat, terletak di Kampung Parakan, Kelurahan Sindang Kasih, Majalengka. Di sini terdapat bangunan bercungkup, batu-batu tempat semadi dan sumur Cikahuripan yang airnya dipercaya bisa membawa keberkahan dalam hidup. Bahkan pada tanggal 7 Juni 1994, Bupati Majalengka H Adam Hidayat ketika itu, berkenan meresmikannya sebagai kawasan cagar budaya yang harus dilindungi.
Selain Sindang Kasih, tempat persinggahan Nyai Rambut Kasih lainnya terdapat di Dusun Banjaran Hilir, Kecamatan Banjaran, Majalengka. Lokasinya berada di tanah milik seorang juru kunci yang diamanahi secara turun-temurun. Masyarakat Dusun Banjaran Hilir dan sekitarnya, sampai sekarang masih mempercayai akan kehadiran sosok Nyai Rambut Kasih di tempat itu.
Bila ada warga yang hendak menggelar pesta pernikahan atau khitanan, sudah menjadi keharusan untuk terlebih dahulu melakukan ziarah dan berkirim doa kepada Nyai Rambut Kasih. Dan apabila di dalam pesta digelar pula hiburan Jaipongan, maka sinden harus melantunkan tembang Sunda kesukaan Nyai RAmbut Kasih seperti Kembang Beureum, Engko dan Salisih. Konon, bila sinden tidak menembangkan lagu itu, maka akan ada keluarga empunya hajat yang kesurupan.
Putri Bangsawan
Siapa sesungguhnya Nyai Rambut Kasih ini ? Riwayat Nyai Rambut Kasih berkaitan dengan keberadaan Raja Pajajaran yang tersohor, yakni Prabu Siliwangi. Bila ditelusuri, Prabu Siliwangi mempunyai isteri yang ketiga, yang bernama Ratu Munding Kalalean. Dari hasil perkawinan dengan isteri ketiga ini, Prabu Siliwangi dianugerahi tiga orang putra dan seorang putrid. Mereka adalah Walangsungsang, Rarasantang, Kiansantang dan Syeh Nurjati.
Putra keempat, yakni Syeh Nurjati, memperisteri ibu Ratu Siti Maningrat. Dari hasil perkawinan ini mereka dikaruniai dua orang putra dan seorang putri, yakni Dalem Rangga Wulan Jaya Hadikusumah, Permana Sakti Jaya Hadikusumah, dan Sri Ratu Purbaningsih. Pada tahun 1405 Masehi, Syeh Nurjati memanggil semua anaknya untuk menyampaikan tugas.
Tugas itu antara lain mereka harus menjadi orang yang berguna dan dikenang generasi mendatang karena kebaikannya. Karena itulah Syeh Nurjati segera memerintahkan ketiganya berangkat ke arah Barat sebelah Utara Gunung Ciremai. “Carilah oleh kalian pohon Maja. Kalau sudah ditemukan, kalian bertiga harus membuka daerah kekuasaan di sana,” titah Syeh Nurjati.
Usai menerima tugas itu, ketiganya langsung berangkat dengan membawa dua orang pengawal, yakni Pinangeran Putih dan Parung Jaya. Pada hari Senin, Jumadil Awal tahun 1405 M, mereka tiba di bagian Barat Gunung Ciremai. Dan tepat hari Jumat tanggal 1 bulan Rajab tahun 1405 M, sekitar jam 12 siang, pohon Maja sesuai yang sabda sang ayah, berhasil ditemukan oleh Dalem Rangga Wulan Jaya Kusumah. Namun yang ditemukan hanya dua pohon saja. Daerah tempat ditemukannya pohon maja itu saat ini adalah terminal Maja di Kecamatan Maja.
Di tempat ini, Dalem Rangga Wulan Jaya Hadikusumah menganjurkan kepada dua adiknya dan dua pengawalnya agar membangun dua padepokan. Usai membangun dua padepokan, Sri Ratu Purbaningsih minta ijin kepada kakaknya untuk pulang ke Cirebon. Akan tetapi Dalem Rangga tidak mengijinkan dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan. Kendati dilarang, Sri Ratu Purbaningsih tetap memaksa pergi ke Cirebon tanpa sepengetahuan kakaknya.
Karena tak mendapat ijin dari kakaknya, Sri Ratu jatuh di curugan (sekarang Cicurug). Merasa kehilangan sang adik, dua kakak beradik berusaha mencari. Sampai di Cicurug, sang adik tidak ada (langka). Berdasarkan fakta-fakta ini, diambilah kesimpulan bila kata Majalengka berasal dari pohon Maja yang ditemukan di daerah Maja, dan kata langka yang diambil dari jawaban Dalem Permana saat mencari adiknya Sri Ratu Purbaningsih.
Setelah sekian waktu pencarian, akhirnya Ratu Purbaningsih ditemukan. Mereka bertiga lantas membangun kawasan itu menjadi daerah pemukiman, sekaligus pemerintahan. Sampai beberapa waktu kemudian daerah itu berkembang pesat. Sang ayah, Syeh Nurjati amat berbangga atas keberhasilan ketiga anaknya. Selanjutnya, Sri Ratu Purbaningsih mendapat gelar Nya Ratu Rambut Kasih oleh ayahandanya. (bersambung)
Setelah sembilan bulan dalam proses pengembaraan, maka ditemukanlah sebuah kawasan yang kemudian diberinama Majalengka. Kawasan ini berkembang dan beranak pinak menjadi ramai. Syeh Nurjati lantas memberi gelar Ratu Purbaningsi dengan nama Nyai Ratu Rambut Kasih. Di lokasi bekas peninggalan Nyai Ratu, staf pendopo Kabupaten Majalengka sering melihat penampakan wujud Nyai Rambut Kasih.
Sembilan bulan lamanya, ketiga anak Syeh Nurjati dan kedua pengawalnya tinggal di Majalengka. Rabu wage 17 Rajab 1405 Masehi, proses pencarian daerah yang kemudian menjadi Majalengka itu tuntas. Ketiga anak Syeh Nurjati lalu bermusyawarah mengenai kepengurusan pengelolaan daerah Majalengka untuk dijadikan semacam sebuah pemerintahan. Hasil musyawarah itu menetapkan:
Ratu Purbaningsih menduduki jabatan sebagai Mahkamah Agung, Dalem Permana menduduki jabatan sebagai Jaksa Agung, Dalem Rangga sebagai Bupati, Pinangeran Putih sebagai Wedana, Surawijaya sebagai Kepala Keamanan, Surya Nanggeuy sebagai Kepala Staf dan Parung Jaya sebagai staf.
Sementara itu, Syeh Nurjati di Cirebon merasa resah tak ada kabar dari ketiga anaknya. Ia lantas memberi perintah kepada Pangeran Muhammad untuk mencari keberadaan sang anak yang tengah membuka daerah kekuasaan di arah barat sebelah Selatan Gunung Ciremai itu. Dalam waktu bersamaan, Dalem Rangga pun menuju Cirebon untuk menyampaikan kabar kepada sang ayah.
Singkat cerita, terbentuklah pemerintahan Majalengka yang kemudian diresmikan oleh Syeh Nurjati. Syeh Nurjati amat berbangga atas keberhasilan ketiga anaknya. Selanjutnya, Sri Ratu Purbaningsih mendapat gelar Nyai Ratu Rambut Kasih oleh sang ayah. Dalam perkembangannya, daerah ini membentang dari utara ke selatan berjarak kurang lebih 52 km, dari barat ke timur kira-kira 42 km dengan luas keseluruhan 120.424 Ha. Dan seterusnya kawasan ini beranak pinak hingga menjadi 23 kecamatan dan 327 desa/kelurahan.
Nyai Rambut Kasih
Pada 17 Rajab 1405 Masehi, didirikan sebuah banguan kecil dan sederhana. Di sekelilingnya berjejer taman dan pohon-pohon yang besar dan rindang. Bangunan itu terbuat dari kayu itu beratap daun rumbia. Mulanya tempat ini berfungsi sebagai sarana pertemuan para pembesar dan sekaligus sebagai tempat perisitirahatan Ratu Rambut Kasih.
Tempat yang ditemukan Nyai Ratu Rambut Kasih inilah yang kini kemudian menjadi Pusat Pemerintahan Kabuapten Majelengka. Bangunan yang dulu kecil dan sederhana, kini sudah jadi bangunan kantor yang megah. Di tempat ini pula berdiri kantor Sekwilda dan rumah dinas Bupati Majalengka. Taman dan bangunan itu setiap pergantian bupati selalu mengalami renovasi.
Di sudut antara sebelah timur dan selatan terdapat air mancur yang dilengkapi dengan patung ikan. Dulu itu merupakan tempat bermainnya Nyai Ratu Rambut kasih. Ada cerita menarik seputar tempat bermainnya Nyai Rambut Kasih ini. Dulu, pernah ada seorang Bupati Majalengka yang tak percaya akan keberadaan Nyai Ratu di gedung pendopo. Ia bahkan merubah dan menghilangkan taman yang dulu tempat bermainnya Nyai Rambut Kasih tanpa izin kepada “empunya” taman.
Lantas apa yang terjadi? Setelah tak lagi menjabat Bupati, ia langsung jatuh sakit berkepanjangan. Sampai akhirnya ia wafat. Konon, kematian itu disebabkan ulahnya merubah taman tempat bermain Nyai Rambut Kasih dimusnahkan tanpa meminta ijin terlebih dahulu.
Diantara bangunan megah perkantoran Pemkab Majalengka, ada satu banguan yang seolah-olah dijadikan kamar khusus. Kamar tersebut dikeramatkan masyarakat. Kamar itulah dulu kala Nyai Rambut Kasih melakukan pekerjaan sehari-hari. Para ajudan bupati dan pembantu rumah tangga bupati, kerap menemui hal-hal aneh di kamar itu. Misalnya ada kursi yang bergerak sendiri atau asbak yang semula berada di atas meja terangkat sendiri. Terkadang di ruangan kerja tercium semerbak bunga.
Salah seorang staf pendopo kabupaten pernah punya pengalaman bertemu dengan seorang wanita yang amat cantik. Pakaiannya mengesankan kalangan ningrat tempo dulu. Rambutnya panjang tergerai, dengan mahkota bertengger dikepala. Dikupingnya terselip bunga melati. Melihat wanita cantik yang “mencurigakan” itu, staf pendopo ini terkejut diselingi rasa takjub. Namun ketika diikuti, wanita itu sudah menghilang di belakang taman.
Dekat kamar keramat itu, disediakan pula seperangkat gamelan kesenian Sunda. Namun ini hanya symbol belaka, sebab Nyai Rambut Kasih dikenal sangat suka kesenian dan lagu-lagu Sunda, meski ia berasal dari Cirebon. Anehnya, pada saat-saat tertentu, orang-orang yang melintas kamar itu kerap mendengar suara gamelan. Padahal sebelumnya tak ada orang yang tengah memainkan gamelan itu.
Karena kesenangan Nyai Rambut Kasih ini, maka tak heran bila ada warga yang hendak menggelar pesta pernikahan atau khitanan dengan hiburan Jaipongan, maka terlebih dahulu sinden harus melantunkan tembang Sunda kesukaan Nyai Rambut Kasih yakni Kembang Beureum, Engko dan Salisih. Bila itu tidak dilakukan, konon acara pesta tak akan berlangsung sukses. ***












