RSS

Arsip Penulis: sutardjo70

Tentang sutardjo70

PEMERHATI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA DAN KELEMBAGAAN Nama Saya Sutardjo Prawira Sanmustama, Cucu dari Mbah Sanmustama Guru Ilmu Langka " Kejawen " Bapak saya Satidjan seorang Pensiunan gol rendah pendekan rendah tapi saya Bangga Beliau jadi asisten Ahli wong Jerman di PINDAD pada masanya, Ibuku Tarwiyah seorang ibu yang penuh Doa untuk Anaknya Saya sudah Berkeluarga Anak Satu Bernama Muhammad Arya Prawira Utama, Isteri saya seorang Guru Honorer bernama N. Atus Susilawati. Saya Wong Jowo yang Lahir di Bandung, dan oleh kalangan keluarga dipanggil Mas Joe namun Masyarakat memanggil mang Ojo, itulah sebutan sayang saya. kalangan Birokrat Menyebut Saya Aktivis dan Konsultan Katanya. Apapun sebutan Nama Saya Sutardjo Orang yang Haus Keadilan dan Idealisme demi Perubahan Perbaikan Untuk Masyarakat yang Terpinggirkan Saya Alumni Institut Pertanian Bogor Fakultas Peternakan Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak dengan IP 2 koma Allhamdulilah, kalau Zaman sekarang IP nya tinggi-tinggi yang ??? Tapi mohon maaf apa kemampuannya juga tinggi untuk masyarakat dan negara ini. Atau malah jadi Budak/kroco Perusahaan/BUMD/BUMN????? atau jadi budak pekerja inlander, atau kita bisa hidup dengan potensi diri dan lingkungan kita. Tinggal saya di gubuk sederhana di Perum Rancaekek Kencana Blok V Jl. Suplier VI No 20 Rancaekek Bandung Sekarang Bekerja membantu Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Kelembagaan. Berikut Lembaga-lembaga yang kami mediasi dan fasilitasi 1. Paguyuban Pedagang Kaki Lima Cibadak 2. Barisan Kader Desa (BARIKADE ) 3. Forum Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa ( KPMD ) PNPM 4. Koperasi Sukamaju 5. Dewan Budaya Sunda ( Dalam Perintisan ) 6. Pasukan Sakabumi ( Pasukan Peduli Lingkungan untuk sosialisasi Perdes Lingkungan ) 7. Forum UPK ( Unit Pengelola Kegiatan ) PNPM 8. Komunitas Pemuda Goa Siluman 9. Komunitas Pelaku Pemberdayaan Sukabumi ( KOMPPAS ) 10. Koperasi Tembakau Majalengka Bagi Teman-Teman Praktisi Pemberdayaan baik yang Praktisi Bayaran atau Praktisi Relawan, saya sangat senang jika kita membuka Komunikasi demi perubahan perbaikan masyarakat kita Ke depan OK Demikian Sekilat Info Diri, mohon maaf atas Kejujuran yang menyakitkan sebagian yang membaca info diri saya. supaya lebih mengenal saya sedalam-dalamnya tapa kebohongan. Trims

Membangun Melalui Gerakan Kolektif

Dalam Cerita kesejarahan di Indonesia, masyarakat kita masih memiliki resistensi pemikiran budaya feodal dengan menganggap pemimpin memiliki kekuasaan absolut, sehingga istilah-istilah nderek kersa dalem ( jawa ) atau ikut kemauan raja , Kumaha nu di bendo ( Sunda ) atau mengikuti pemimpin menjadi  kesadaran budaya yang masih melekat sampai saat ini. Seorang Raja/Bupati/Demang saat itu dianggap Wenang wisesa  sanagari  yang dapat diartikan bahwa raja memiliki kekuasaan dan kewenangan atas seluruh isi  negara. Seluruh isi negara adalah milik raja dan ditangannyalah segala keputusan. Kondisi ini  menciptakan powerless ( ketidak berdayaan masyarakat/rakyat ) dan disisi lain menciptakan hegemoni kekuasaan yang melahirkan budaya korup dalam tata kelola kenegaraan, dan ini terduplikasi pada tatatan pemikiran masyarakat saat ini.

Pada masa pembangunan Saat ini  muncul kembali, istilah  “gerakan” dalam kontek program tetapi  tidak sepopulis  di era perjuangan pada masa  bangsa ini  sedang memperjuangkan nilai-nilai kemerdekaan  untuk  sebuah kedaulatan kehidupan berbangsa  dan bernegara, intinya “gerakan” merupakan upaya melakukan perubahan yang di lakukan secara kolektif.

Gerakan Boedi Utomo pada masa perjuangan kemerdekaan membangkitkan kesadaran fungsional dan relasional anak bangsa yang mengkristal menjadi sebuah kesadaran kritis  sehingga menciptakan komitmen kemerdekaan untuk membangun bangsa ini dalam tatanan Negara merdeka.  Munculnya Kesadaran fungsional dan kesadaran kritis tokoh pejuang kita tidak akan lahir jika  tidak muncul tindakan perjuangan separatis ( Tindakanan mekanis ) di perbagai pelosok pulau/dareah/suku  yang dialkukan secara intensif dan repetitif sebagai kesadaran kesamaan nasib sebagai bangsa  terjajah saat itu

Pada Kondisi saat ini Kontek Gerakan tidak tabu dan masih relevan untuk mendorong kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, gerakan lahir di dorong  nilai-nilai ( ruh/spirit ) untuk melepaskan  tirani yang membelenggu hak-hak rakyat untuk berpartisipasi dalam merubah kesejahteraan dirinya. Masyarakat berjiwa Gerakan adalah berjiwa Kader, Seorang kader adalah pejuang yang tidak dibatasi insentif atau kepentingan pribadi serta golonganya.

Proses penciptaan kader dalam kontek gerakan pembangunan telah dilakukan melalui program-program pemberdayaan sejak PPK hingga PNPM MandiriPerdesaan melalui Penguatan  Penyadaran, peningkatan kapasitas dan pengorganisasian sebagai pendekatan program . Hal mengaspirasikan peran Ruang Belajar Masyarakat, sebagai ruang partisipasisi publik  untuk mengakomodiri nilai-nilai aspiratif yang bebas dari kepentingan politis.

“Pandangan keliru terhadap PNPM Mandiri yang memandang PNPM Mandiri hanya dari sudut Bantuan “duit” dan sisi  “keproyekan saja” sehingga terkecoh pada output program tanpa melihat dampak perubahan-perubahan di masyarakat ( peningkatan kapasitas, pelembagan system, tergeraknya partisipasi perempuan, berkembangnya modal social, dll) . Program semestinya dipandang lebih luas sebagai proses tindakan mekanis menuju perubahan untuk memperkuat peran Masyarakat, sehingga masyarakat lebih pro-aktif dalam pembangunan buka penonton pembangunan.

Ruang Belajar Masyarakat ( RBM ) sesuai pandangan Habermas sebagai`Proses komunikasi masyarakat, dengan ide akarnya, adalah sebuah prinsip demokrasi yang tidak hanya mengandaikan bahwa semua orang dapat berbicara, dengan kesempatan yang sama, tentang persoalan pribadinya, keinginan dan keyakinannya, proses komunikasi yang otentik hanya dapat dicapai didalam kerangka bahwa semua pendapat pribadi ataupun kelompok dapat berkembang didalam debat rasional kritis dan kemudian membentuk opini publik.” Ini tentunya memberikan dorongan untuk pencapaian kepuasan masyarakat dalam proses pembangunan bersama antara Pemerintah-Swasta-Masyarakat-lembaga Legislatif .

Partisipasi masyarakat dalam pembangunan dimaknai sebagai keterlibatan masyarakat dalam mempengaruhi dan mengawasi pembangunan, pengambilan keputusan maupun sumber daya yang digunakan. Rakyat desa diberi kesempatan untuk mengelola sendiri (swakelola) kegiatan perencanaan, pendayagunaan dana pembangunan, pengendalian dan pengawasan pelaksanaan kegiatan, pemeliharaan hasil kegiatan, serta pemanfaatan hasil-hasil pembangunan.

Saatnya rakyat mengambil keputusan pembangunan yang berpihak pada kepentingan di wilayahnya, perlu keterpaduan / memaduserasikan / adu manis antara kepentingan Teknokratis, Politis, dan Partisipatif.                                  

 
Leave a comment

Posted by pada Mei 18, 2012 in WACANA

 

TTG MAJALENGKA

 
Leave a comment

Posted by pada Maret 19, 2012 in WACANA

 

TTG MAJALENGKA

 
Leave a comment

Posted by pada Maret 19, 2012 in WACANA

 

PNPM Mandiri Perdesaan Majalengka

 
Leave a comment

Posted by pada Maret 19, 2012 in WACANA

 

Nyai Rambut Kasih dan Majalengka

Sesuatu yang disayangkan bila kekayaan masa lalu justru dilupakan dan dikubur dalam-dalam. Bahkan, peranannya terkesan dikecil-kecilkan, dikalahkan oleh setting sejarah yang bersifat politis, sekadar memenuhi pesanan (rekayasa), daripada mengungkap fakta objektif yang sejati.
Begitulah nasib Talaga Manggung. Kerajaan tua di lembah Gunung Ciremai. Pada masanya, Talaga Manggung cukup termasyhur. Orang-orang, dari Thailand, Campa (Kamboja) dan Malaysia, berdatangan.
Yang lebih membanggakan, Talaga Manggung dirintis dari padepokan pendidikan (peguron), bukan representasi politik. Pada masa keemasan, orang berdatangan ke kerajaan Hindu-Buddha ini untuk belajar atau memperdalam ilmu. Tedja Sukmana (72), tokoh Majalengka mantan anggota DPRD 1999-2004, mengemukakan kemasyhuran itu. Talaga Manggung berawal dari padepokan di Banjaran, di Gunung Bitung Talaga oleh Rakaian Sudayasa dengan penerusnya Dewa Niskala. Kitab Siksa Kandang Karsiyan (586 M) menuliskan keberadaan Talaga Manggung. Begitu pula kitab Waruga Jagat (Purwaka Caruban Nagari tahun 1720 M). “Sampai tahun 1692 masih ada kerajaan Titu,” ujar Tedja.
Talaga Manggung diambil dari nama Prabu Talaga Manggung, juga dikenal Mundingsae Ageng dengan penandaan tahun Masehi 1292. Menurut Teja , Prabu Talagamanggung menurunkan Putri Simbar Kencana dan Raden Panglurah. Raden Panglurah tidak berminat pada politik, ia memilih menjadi begawan, sedang Simbar Kencana tertarik pada pemerintahan. Keturunannya kelak Ratu Sunyalarang (Ratu Parung) menikah dengan Raden Ranggamantri dari Pajajaran. Pernikahan dengan mas kawin seperangkat gamelan, baju antipeluru, ukiran, uang blendong, keris dan tombak. Benda-benda itu kini tersimpan di museum yang dikelola keturunannya, Teten Wilman (45).
Hingga sekarang ada makam Rd. Arya Saringsingan di Banjaran, Rd. Ranggamantri di Sanghiang, Ratu Sunyalarang di Cikiray, juga Rd. Sacanata di Desa Argasari, termasuk pula makam Sunan Wanaperih di Kagok.
Sindangkasih
Ibrahim Sumadinata (78), mengemukakan konteks yang melatarbelakangi Majalengka. “Saya dan tim dulu menelusuri Kota Majalengka, bukan Majalengka kabupaten,” tutur dia.
Menurut Ibrahim yang ikut membidani Perda Nomor 5/1982 tentang Harijadi Majalengka yang jatuh pada 7 Juni 1490 masehi, Majalengka dulunya Sindangkasih yang kini menjadi pusat pemerintahan.
Oleh karena itu, penelusuran sejarah Majalengka lebih tepat bila merujuk pada Nyi Rambut Kasih di Sindang Kasih. Kalau Talaga Manggung, konteksnya kabupaten, bukan pusat pemerintahan Majalengka.
Hari Jadi Majalengka menurutnya, berkiblat ke Cirebon tempat pertama kali Sunan Gunung Djati menyebarkan Islam. Ini terkait dengan Pangeran Muhammad, keturunan Pangeran Panjunan, Cirebon yang datang ke Sindangkasih untuk mencari buah Maja dan menyebarkan agama Islam.
“Talaga itu kalah oleh Islam dari Cirebon, sedang Nyi Rambut Kasih tidak,” ujarnya.
Pensiunan Kepala SMEA Negeri Sindanglaut itu yakin pada homonim Sindangkasih dari kata Candrasengkala. Candrasengkala artinya 1412 (10 Muharram) dan bila diubah atau dikonversikan ke tahun Masehi menjadi 1490 (7 Juni). Tanggal 7 Juni tahun 1490 itulah tahun kelahiran Majalengka, ini diperkuat dengan Perda nomor 5/1982. Candrasengkala sendiri merupakah khazanah budaya di Kerajaan Mataram.
“Silakan cek di Mataram Yogyakarta. 1490 merupakan tahun kedatangan Pangeran Muhammad dari Cirebon bersama istrinya Siti Amrillah. Keduanya menyebarkan Islam. Majalengka menganut Islam lebih dulu sebelum Galuh,” tutur Ibrahim yang masuk tim penyusun harijadi pada 7 Juni dengan pancakaki (titi mangsa) 1490 masehi itu.
Sejarah yang kemudian menjadi Hari Jadi Majalengka, kata Ibrahim, sesuai arahan pemerintah, harus memuat unsur heroisme dan patriotisme. Sejarah yang heroik dan patriotis itu menjadi nilai-nilai penentu masa depan. “Dan itu ada pada kisah Pangeran Muhammad,” tutur Ibrahim. (Dakus
Nama Nyai Rambut Kasih cukup dikenal masyarakat Tatar Sunda. Bahkan keberadaannya kerap dikaitkan dengan sejarah berdirinya Kabupaten Majalengka. Soal ini memang masih ada silang pendapat. Namun, beberapa petilasannya meyakinkan akan eksistensinya. Di tempat-tempat persinggahannya itu, Nyai Rambut Kasih kerap menampakkan diri sebagai sosok yang cantik rupawan. Siapa sebenarnya tokoh yang melegenda ini?

Sudah menjadi perbincangan umum bila sosok Nyai Rambut Kasih berkait erat dengan berdirinya Kabupaten Majalengka. Di kabupaten yang berbatasan dengan Indramayu, Ciamis, Sumedang dan Cirebon ini, beberapa petilasan Nyai Rambut Kasih masih ada dan terawat dengan baik. Yang paling apik dan terus menerus terjaga kondisinya adalah gedung pendopo Kabupaten Majalengka.

Gedung pendopo adalah kantor Bupati Majalengka saat ini. Dulu, gedung ini merupakan rumah kediaman Nyai Rambut Kasih. Di belakang gedung ini terdapat kamar Nyai Rambut Kasih dan seperangkat gamelan yang diperuntukkan khusus untuk menghibur sang Nyai. Kerap kali pegawai Pemkab Majalengka menyaksikan penampakkan seorang wanita berambut panjang terurai mengenakan gaun ala wanita bangsawan jaman dulu. Diyakini betul bila itulah sosok Nyai Rambut Kasih.

Selain gedung pendopo, patilasan Nyai Rambut Kasih yang kerap dikunjungi masyarakat, terletak di Kampung Parakan, Kelurahan Sindang Kasih, Majalengka. Di sini terdapat bangunan bercungkup, batu-batu tempat semadi dan sumur Cikahuripan yang airnya dipercaya bisa membawa keberkahan dalam hidup. Bahkan pada tanggal 7 Juni 1994, Bupati Majalengka H Adam Hidayat ketika itu, berkenan meresmikannya sebagai kawasan cagar budaya yang harus dilindungi.

Selain Sindang Kasih, tempat persinggahan Nyai Rambut Kasih lainnya terdapat di Dusun Banjaran Hilir, Kecamatan Banjaran, Majalengka. Lokasinya berada di tanah milik seorang juru kunci yang diamanahi secara turun-temurun. Masyarakat Dusun Banjaran Hilir dan sekitarnya, sampai sekarang masih mempercayai akan kehadiran sosok Nyai Rambut Kasih di tempat itu.

Bila ada warga yang hendak menggelar pesta pernikahan atau khitanan, sudah menjadi keharusan untuk terlebih dahulu melakukan ziarah dan berkirim doa kepada Nyai Rambut Kasih. Dan apabila di dalam pesta digelar pula hiburan Jaipongan, maka sinden harus melantunkan tembang Sunda kesukaan Nyai RAmbut Kasih seperti Kembang Beureum, Engko dan Salisih. Konon, bila sinden tidak menembangkan lagu itu, maka akan ada keluarga empunya hajat yang kesurupan.

Putri Bangsawan

Siapa sesungguhnya Nyai Rambut Kasih ini ? Riwayat Nyai Rambut Kasih berkaitan dengan keberadaan Raja Pajajaran yang tersohor, yakni Prabu Siliwangi. Bila ditelusuri, Prabu Siliwangi mempunyai isteri yang ketiga, yang bernama Ratu Munding Kalalean. Dari hasil perkawinan dengan isteri ketiga ini, Prabu Siliwangi dianugerahi tiga orang putra dan seorang putrid. Mereka adalah Walangsungsang, Rarasantang, Kiansantang dan Syeh Nurjati.

Putra keempat, yakni Syeh Nurjati, memperisteri ibu Ratu Siti Maningrat. Dari hasil perkawinan ini mereka dikaruniai dua orang putra dan seorang putri, yakni Dalem Rangga Wulan Jaya Hadikusumah, Permana Sakti Jaya Hadikusumah, dan Sri Ratu Purbaningsih. Pada tahun 1405 Masehi, Syeh Nurjati memanggil semua anaknya untuk menyampaikan tugas.

Tugas itu antara lain mereka harus menjadi orang yang berguna dan dikenang generasi mendatang karena kebaikannya. Karena itulah Syeh Nurjati segera memerintahkan ketiganya berangkat ke arah Barat sebelah Utara Gunung Ciremai. “Carilah oleh kalian pohon Maja. Kalau sudah ditemukan, kalian bertiga harus membuka daerah kekuasaan di sana,” titah Syeh Nurjati.

Usai menerima tugas itu, ketiganya langsung berangkat dengan membawa dua orang pengawal, yakni Pinangeran Putih dan Parung Jaya. Pada hari Senin, Jumadil Awal tahun 1405 M, mereka tiba di bagian Barat Gunung Ciremai. Dan tepat hari Jumat tanggal 1 bulan Rajab tahun 1405 M, sekitar jam 12 siang, pohon Maja sesuai yang sabda sang ayah, berhasil ditemukan oleh Dalem Rangga Wulan Jaya Kusumah. Namun yang ditemukan hanya dua pohon saja. Daerah tempat ditemukannya pohon maja itu saat ini adalah terminal Maja di Kecamatan Maja.

Di tempat ini, Dalem Rangga Wulan Jaya Hadikusumah menganjurkan kepada dua adiknya dan dua pengawalnya agar membangun dua padepokan. Usai membangun dua padepokan, Sri Ratu Purbaningsih minta ijin kepada kakaknya untuk pulang ke Cirebon. Akan tetapi Dalem Rangga tidak mengijinkan dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan. Kendati dilarang, Sri Ratu Purbaningsih tetap memaksa pergi ke Cirebon tanpa sepengetahuan kakaknya.

Karena tak mendapat ijin dari kakaknya, Sri Ratu jatuh di curugan (sekarang Cicurug). Merasa kehilangan sang adik, dua kakak beradik berusaha mencari. Sampai di Cicurug, sang adik tidak ada (langka). Berdasarkan fakta-fakta ini, diambilah kesimpulan bila kata Majalengka berasal dari pohon Maja yang ditemukan di daerah Maja, dan kata langka yang diambil dari jawaban Dalem Permana saat mencari adiknya Sri Ratu Purbaningsih.

Setelah sekian waktu pencarian, akhirnya Ratu Purbaningsih ditemukan. Mereka bertiga lantas membangun kawasan itu menjadi daerah pemukiman, sekaligus pemerintahan. Sampai beberapa waktu kemudian daerah itu berkembang pesat. Sang ayah, Syeh Nurjati amat berbangga atas keberhasilan ketiga anaknya. Selanjutnya, Sri Ratu Purbaningsih mendapat gelar Nya Ratu Rambut Kasih oleh ayahandanya. (bersambung)
Setelah sembilan bulan dalam proses pengembaraan, maka ditemukanlah sebuah kawasan yang kemudian diberinama Majalengka. Kawasan ini berkembang dan beranak pinak menjadi ramai. Syeh Nurjati lantas memberi gelar Ratu Purbaningsi dengan nama Nyai Ratu Rambut Kasih. Di lokasi bekas peninggalan Nyai Ratu, staf pendopo Kabupaten Majalengka sering melihat penampakan wujud Nyai Rambut Kasih.

Sembilan bulan lamanya, ketiga anak Syeh Nurjati dan kedua pengawalnya tinggal di Majalengka. Rabu wage 17 Rajab 1405 Masehi, proses pencarian daerah yang kemudian menjadi Majalengka itu tuntas. Ketiga anak Syeh Nurjati lalu bermusyawarah mengenai kepengurusan pengelolaan daerah Majalengka untuk dijadikan semacam sebuah pemerintahan. Hasil musyawarah itu menetapkan:

Ratu Purbaningsih menduduki jabatan sebagai Mahkamah Agung, Dalem Permana menduduki jabatan sebagai Jaksa Agung, Dalem Rangga sebagai Bupati, Pinangeran Putih sebagai Wedana, Surawijaya sebagai Kepala Keamanan, Surya Nanggeuy sebagai Kepala Staf dan Parung Jaya sebagai staf.

Sementara itu, Syeh Nurjati di Cirebon merasa resah tak ada kabar dari ketiga anaknya. Ia lantas memberi perintah kepada Pangeran Muhammad untuk mencari keberadaan sang anak yang tengah membuka daerah kekuasaan di arah barat sebelah Selatan Gunung Ciremai itu. Dalam waktu bersamaan, Dalem Rangga pun menuju Cirebon untuk menyampaikan kabar kepada sang ayah.

Singkat cerita, terbentuklah pemerintahan Majalengka yang kemudian diresmikan oleh Syeh Nurjati. Syeh Nurjati amat berbangga atas keberhasilan ketiga anaknya. Selanjutnya, Sri Ratu Purbaningsih mendapat gelar Nyai Ratu Rambut Kasih oleh sang ayah. Dalam perkembangannya, daerah ini membentang dari utara ke selatan berjarak kurang lebih 52 km, dari barat ke timur kira-kira 42 km dengan luas keseluruhan 120.424 Ha. Dan seterusnya kawasan ini beranak pinak hingga menjadi 23 kecamatan dan 327 desa/kelurahan.

Nyai Rambut Kasih

Pada 17 Rajab 1405 Masehi, didirikan sebuah banguan kecil dan sederhana. Di sekelilingnya berjejer taman dan pohon-pohon yang besar dan rindang. Bangunan itu terbuat dari kayu itu beratap daun rumbia. Mulanya tempat ini berfungsi sebagai sarana pertemuan para pembesar dan sekaligus sebagai tempat perisitirahatan Ratu Rambut Kasih.

Tempat yang ditemukan Nyai Ratu Rambut Kasih inilah yang kini kemudian menjadi Pusat Pemerintahan Kabuapten Majelengka. Bangunan yang dulu kecil dan sederhana, kini sudah jadi bangunan kantor yang megah. Di tempat ini pula berdiri kantor Sekwilda dan rumah dinas Bupati Majalengka. Taman dan bangunan itu setiap pergantian bupati selalu mengalami renovasi.

Di sudut antara sebelah timur dan selatan terdapat air mancur yang dilengkapi dengan patung ikan. Dulu itu merupakan tempat bermainnya Nyai Ratu Rambut kasih. Ada cerita menarik seputar tempat bermainnya Nyai Rambut Kasih ini. Dulu, pernah ada seorang Bupati Majalengka yang tak percaya akan keberadaan Nyai Ratu di gedung pendopo. Ia bahkan merubah dan menghilangkan taman yang dulu tempat bermainnya Nyai Rambut Kasih tanpa izin kepada “empunya” taman.

Lantas apa yang terjadi? Setelah tak lagi menjabat Bupati, ia langsung jatuh sakit berkepanjangan. Sampai akhirnya ia wafat. Konon, kematian itu disebabkan ulahnya merubah taman tempat bermain Nyai Rambut Kasih dimusnahkan tanpa meminta ijin terlebih dahulu.

Diantara bangunan megah perkantoran Pemkab Majalengka, ada satu banguan yang seolah-olah dijadikan kamar khusus. Kamar tersebut dikeramatkan masyarakat. Kamar itulah dulu kala Nyai Rambut Kasih melakukan pekerjaan sehari-hari. Para ajudan bupati dan pembantu rumah tangga bupati, kerap menemui hal-hal aneh di kamar itu. Misalnya ada kursi yang bergerak sendiri atau asbak yang semula berada di atas meja terangkat sendiri. Terkadang di ruangan kerja tercium semerbak bunga.

Salah seorang staf pendopo kabupaten pernah punya pengalaman bertemu dengan seorang wanita yang amat cantik. Pakaiannya mengesankan kalangan ningrat tempo dulu. Rambutnya panjang tergerai, dengan mahkota bertengger dikepala. Dikupingnya terselip bunga melati. Melihat wanita cantik yang “mencurigakan” itu, staf pendopo ini terkejut diselingi rasa takjub. Namun ketika diikuti, wanita itu sudah menghilang di belakang taman.

Dekat kamar keramat itu, disediakan pula seperangkat gamelan kesenian Sunda. Namun ini hanya symbol belaka, sebab Nyai Rambut Kasih dikenal sangat suka kesenian dan lagu-lagu Sunda, meski ia berasal dari Cirebon. Anehnya, pada saat-saat tertentu, orang-orang yang melintas kamar itu kerap mendengar suara gamelan. Padahal sebelumnya tak ada orang yang tengah memainkan gamelan itu.

Karena kesenangan Nyai Rambut Kasih ini, maka tak heran bila ada warga yang hendak menggelar pesta pernikahan atau khitanan dengan hiburan Jaipongan, maka terlebih dahulu sinden harus melantunkan tembang Sunda kesukaan Nyai Rambut Kasih yakni Kembang Beureum, Engko dan Salisih. Bila itu tidak dilakukan, konon acara pesta tak akan berlangsung sukses. ***

 
Leave a comment

Posted by pada Februari 2, 2012 in WACANA

 

Keramat Dayeuh Ciomas Majalengka

Kawasan Sukahaji Majalengka rupanya menyimpan rahasia mistis. Di sana tercecer kantung-kantung mistik dan keramat yang rutin dikunjungi para pencari berkah dari berbagai daerah. Sebut saja Buyut Cibuntu, Sumur Mas, Dangdeur Pugur, dan lain-lain tempat yang menawarkan harapan masa depan atas restu kekuatan alam gaib. Dangdeur Pugur, misalnya, diam-diam merupakan tempat berburu pesugihan.

Lokasi yang satu ini lebih sering disebut-sebut para pengalap berkah dari berbagai daerah. Namanya Dangdeur Pugur. Letaknya disebuah kampung di Desa Ciomas, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka. Warga setempat, bahkan tak terlalu ambil peduli dengan kekuatan mistis yang diyakini bersemayam di tempat ini. Mereka cenderung cuek, atau bahkan nyaris tak banyak yang tahu akan daya tarik mistik yang tersembunyi.

Entah siapa yang menghembuskan kabar keluar kawasan Ciomas soal daya tarik mistik tempat ini. Diduga keras, kabar itu berhembus dari mulut ke mulut. Dari satu peziarah ke peziarah lain. Dan seperti mendapat promosi gratisan, nama Dangdeur Pugur, sama halnya dengan Sirah Dayeuh Ciomas, menjadi terkenal namanya di kalangan pencari berkah. Bahkan Samsudin (50), seorang pengalap berkah dari Indramayu, sengaja datang ke Dayeuh Ciomas berdasar informasi seorang rekan.

Tokoh Cina

Dangdeur Pugur adalah tempat keramat yang masih ada hubugannya dengan Sirah Dayeuh Ciomas, namun letaknya terpisah satu sama lain. Orang pasti tak akan menyangka lokasi ini menjadi ajang berburu pesugihan. Sebab selain letaknya di tengah perkampungan penduduk, posisinya persis di dekat sebuah surau. Namun, siapa sangka tempat ini menyimpan daya tarik mistik luar biasa.

Sejarah daerah Ciomas, diyakini bertolak dari nama seorang tokoh yang dipusarakan di makam keramat yang ada di sini. Ia adalah seorang Cina bernama Pak Cio. Menurut keterangan masyarakat di sana, asal muasal nama Desa Ciomas diambil dari nama tokoh ini. Suku kata “Cio” diambil dari nama Pak Cio, sedangkan suku kata “mas” diambil dari nama sumur Mas yang ada di kompleks keramat Buyut Cibuntu, Dayeuh Ciomas.

Mengapa nama Pak Cio diabadikan menjadi nama desa? Sebab dialah yang pertama kali membuka hutan Sukahaji dan menyulapnya menjadi perkampungan yang ramai. Secara fisik, Dangdeur Pugur mudah dikenali oleh menjulangnya sebuah pohon beringin yang berusia lebih dari seratus tahun. Akar-akar pohon yang menjuntai, menjadi ciri yang mudah ditebak. Nah, persis di bawah pohon beringin itulah makam Pak Cio berada.

Namun, tak banyak yang menduga bila komplek Dangdeur Pugur ini kerap dijadikan ajang mencari pesugihan. Sebuah upaya memperoleh kekayaan melalui persekutuan dengan siluman penunggu pohon beringin.Menurut keterangan masyarakat, di tempat ini seringkali terlihat orang sedang melakukan tirakat. Ia duduk di sana berlama-lama, mulutnya komat kamit, dan kelakuan itu terus berlangsung hingga tengah malam. Esoknya, orang ini tak terlihat lagi.

Seperti sudah maklum, masyarakat di sana tak ambil pusing dengan berbagai kelakuan para peziarah. Mereka amat toleransi dan menganggap itu merupakan bagian dari keyakinan orang lain. Toh, selama ini kampung tak ada gangguan oleh kedatangan ramainya para peziarah. Yang terjadi justru sebaliknya, kampung menjadi ramai dan hidup.

Siluman pesugihan

Bagdja Mulia, seorang spiritualis yang kerap mengantar peziarah asal Sumedang, menceritakan bila tempat ini memang biasa digunakan sebagai sarana mencari pesugihan. Mulanya, orang yang datang ke sini hanya sekadar bertawasul, setelah itu pulang lagi. Namun entah sejak kapan ada orang mencari pesugihan di tempat ini. “Karena itulah peziarah harus hati-hati, jangan terjebak dengan siluman pesugihan,” Bagdja Mulia mewanti-wanti.

Bagdja menduga, siluman pesugihan yang kerap muncul dalam berbagai wujud itu bersemayam di pohon beringin di samping makam Pak Cio. Orang yang batinnya lemah dan tak kuat iman, akan mudah terseret dalam transaksi gaib dengan siluman itu. Bagdja sendiri pernah membuktikannya.

Suatu hari, Bagdja Mulia datang ke Dangdeur Pugur untuk melakukan tirakat. Tepat tengah malam, saat bersemadi, tiba-tiba dihadapannya muncul seorang wanita cantik. Mata batin Bagdja yang sudah terasah, langsung merasakan getaran negative yang ditebar wanita ini. Ia tak lain adalah siluman yang menjelma menjadi menjadi wanita dan hendak menggoda dirinya.

Dan benar saja, tak lama setelah kemunculannya yang mendadak, wanita cantik itu bertanya dengan lemah lembut. “Apa yang kamu inginkan?” Tanya si wanita ke arah Bagdja, yang kemudian dijawab tak menginginkan apa-apa, melainkan hanya ingin mendoakan ahli kubur dan mendapat barokah dari Yang Maha Kuasa. Mendapat jawaban itu, mahluk berwujud wanita cantik itu segera menghilang entah kemana.

Menurut Bagdja, trik-trik siluman pesugihan menggaet sasarannya bermacam-macam. Orang yang batinnya lemah, saat melakukan tirakat pasti akan didatangi dalam berbagai wujud. Bila ia seorang lelaki, siluman yang muncul akan berwujud perempuan cantik jelita. Bila orang tua yang tirakat, yang muncul adalah suara gaib seolah-olah petunjuk atau wangsit. “Padahal semua itu adalah tipu daya siluman. Hati-hatilah,” tandas Bagdja.

Menurut penuturan para peziarah yang ditemui posmo di Dayeuh Ciomas, keramat Dangdeur Pugur memang sering dijadikan arena mencari pesugihan. Akan tetapi, karena syarat atau tumbalnya sering berupa penderitaan diri pemohon, maka banyak orang yang menolak bersekutu dengan siluman Dangdeur Pugur.

Olot (45), peziarah asal Cirebon misalnya, pernah didatangi seseorang yang menawarkan kekayaan. Mulanya saya merasa yakin dan tertarik ajakan dia. Maklumlah, selama ini kesulitan ekonomi tengah menghimpit Olot. “Tapi karena dia minta agar saya mau menjadi pengemis selama tiga bulan, maka permintaannya saya tolak. Biar miskin saya masih punya harga diri,” tegas Olot.

Mak Oyah (63), istri kuncen Dayeuh Ciomas yang juga mengelola keramat Dangdeur Pugur, mengatakan bila Dangdeur Pugur bukan tempat untuk mencari pesugihan. Yang benar adalah tempat bertawasul kepada Yang Maha Kuasa agar permohonannya diijabah. “Hanya saja doanya dilakukan di makam Babah Cio. Sebenarnya doa itu bisa dikirim dari sini (Dayeuh Ciomas),” tutur Mak Oyah.
Tapi Mak Oyah tidak menampik kemungkinan tersebut. Sebab semua itu diserahkan kepada orang yang menginginkannya. “Kalau jalan melalui pesugihan yang ingin ditempuh, silakan saja. Asalkan dia sanggup menanggung segala akibatnya,” ungkap wanita yang selalu setia menemani Wirta (75), suaminya yang bertugas sebagai kuncen Dayeuh ciomas itu.

Mak Oyah menjelaskan bila keramat Ciomas sebenarnya menolak dimintai hal-hal tidak benar. Jangankan minta pesugihan, orang yang memohon mendapatkan nomor jitu untuk permainan judi togel saja ditolak. “Di sini tempat memohon kehidupan lebih baik dengan cara yang baik,” katanya seraya menyerahkan semuanya kepada Yang Di Atas.

Dijaga Khodam Harimau Putih

Di kompleks Dayeuh Ciomas terdapat beberapa makam, tiga bongkah batu, dua sumur, serta sebuah pancoran yang semuanya dikeramatkan. Tak boleh main-main dan anggap enteng tempat-tempat itu, bila ingin masa depannya terang.

Menuju kompleks Sirah Dayeuh Ciomas, orang harus berjuang ekstra keras. Pertama, ia harus melalui pematang sawah sejauh kurang lebih 2 km. Dan kedua, ia harus rela turun naik perbukitan dengan jalan berbatu yang jarak tempuhnya kurang 2 km. Meski medan berat, anehnya, setiap hari puluhan orang datang ke Dayeuh Ciomas. Medan berat tak menyurutkan langkah-langkah para peziarah ini.

Yang datang ke tempat ini pun beragam. Rata-rata berasal dari luar Majalengka, seperti Bandung, Sumedang, Cirebon, Kuningan, bahkan Jakarta dan daerah Jawa Tengah. Tiap hari, ada saja yang datang ke tempat ini memohon berkahnya. Dan pulangnya, mereka selalu membawa botol minuman kemasan yang berisi air dari Sumur Mas, Sumur Cikajayaan dan Pancuran Cikahuripan.

Buyut Cibuntu

Sirah Dayeuh Ciomas kerap pula disebut keramat Buyut Cibuntu. Tempat ini memang terkenal karena kabar dari mulut ke mulut. Akan tetapi, banyak peziarah tak ambil pusing yang mana makam Buyut Cibuntu dan mana makam Nyi Ciptarasa. Orang kerap kali terkecoh dengan makam Nyi Ciptarasa yang letaknya lebih nyaman dan terletak dalam sebuah bangunan permanen. Makam inilah yang justru lebih banyak diziarahi. Selain itu, di dekat makam Nyi Ciptarasa terdapat tiga sumur keramat dan batu Panayogian Rizki.

Siapa sebenarnya Buyut Cibuntu yang terkenal itu? Beliau adalah orang yang berjasa membuka areal perkampungan ketika masih berbentuk hutan belantara. Hanya saja, tak ada catatan apa hubungannya dengan Pak Cio, orang Cina yang juga membuka perkampungan Ciomas. Akan tetapi, dalam perkembangannya, dua tokoh ini memang amat disegani dan makamnya selalu ramai diziarahi.

Makam Buyut Cibuntu terletak di lereng atas bukit Cibuntu. Nama aslinya adalah Raden Brasma, yang juga kerap disebut Raden Semar. Yang bertanda ke tempat ini umumnya adalah mereka yang terjerat berbagai pelik dalam hidupnya. Semisal tengah dililit perkara hukum, sampai problem utang piutang. Namun, tidak sedikit pula yang meminta aji pengasih dan penglarisan untuk usaha.

Hanya saja, para peziarah jarang mengunjungi makam Buyut Cibuntu. Sebab selain medannya lebih berat, hampir berada di puncak bukit, jalannya juga terjal dan licin bila hujan turun. Karena itulah Wirta, kuncen Buyut Cibuntu, menyarankan agar doa dilantunkan di sisi pusara Nyi Ciptarasa yang tempatnya berada di dalam sebuah bangunan.

Menurut cerita yang berkembang, makam Buyut Cibuntu paling dikeramatkan diantara tempat keramat yang ada di Sukahaji. Selain karena menuju ke lokasi yang sulit, makam Mbah Buyut Cibuntu juga dijaga harimau putih gaib. Harimau ini memang tak kasat mata dan juga tak pernah mengganggu manusia. Namun bagi mereka yang awas batin, pasti dapat melihat kehadiran harimau tersebut.

Tanah dari makam Mbah Raden Brasma atau Buyut Cibuntu ini sering diambil oleh Wirta tiap hari Jumat kliwon. Tanah itu lalu dimasukkan ke dalam bungkusan-bungkusan kecil oleh Mak Oyah, sang istri, untuk di bawa pulang oleh peziarah. Konon, bila tanah itu ditaburkan di sekitar rumah bisa menangkal segala macam balak seperti serangan santet, teluh dan guna-guna.

Sumur Keramat

Di halaman bangunan makam Nyi Ciptarasa, terdapat dua buah sumur dan sebuah pancoran yang sangat dikeramatkan baik oleh masyarakat setempat, maupun para peziarah. Ketiga sumur ini berusia ratusan tahun. Menurut Wirta, sebelum dirinya lahir, sumur itu sudah ada. Bahkan jauh sebelum kakek dan neneknya lahir. Anehnya, meski tak seberapa dalam, bahkan saat musim kemarau panjang sekalipun, air sumur ini tak pernah kering.

Karena posisinya tidak dalam, siapa pun yang menginginkan air ini bisa langsung mengambilnya dengan cara menciduk. Konon, air sumur ini memiliki banyak khasiat sesuai dengan namanya masing-masing. Sumur yang letaknya disebelah barat di sebut Sumur Cikajayaan. Sumur ini dipercaya bisa memberikan kejayaan bagi pemakainya. Para peziarah Dayeuh Ciomas, selalu menyempatkan diri mandi di sumur ini.

Uniknya, di sebelah sumur ini tampak berserakan uang receh dan lembaran uang kertas ribuan, yang bercampur dengan aneka bunga. Rupanya, setelah mandi, orang selalu menaruh uang dan bunga-bungaan di situ. Tak jelas apa maksudnya. Kabarnya, cara itu dilakukan agar keinginannya mendapatkan kejayaan dalam hidup lekas tercapai.

Menurut sejarahnya, sumur Cikajayaan ini dibuat oleh pendiri atau pembuka daerah Ciomas ratusan tahun silam. Tujuannya untuk mendapatkan sukses dan kejayaan dalam hidup. Semasa jaman perjuangan kemerdekaan, banyak para pejuang yang datang dan meminum air sumur ini sebelum maju ke medan perang. Tujuannya untuk mendapatkan kemenangan dalam pertempuran. Sampai sekarang sumur ni masih diyakini memiliki tuah. Itu sebabnya banyak pengunjung yang datang dari jauh ke sini hanya untuk mandi atau mengambil airnya dalam botol untuk dibawa pulang.

Sumur Cikajayaan konon sangat manjur untuk sinden dan calon artis. Tidak heran bila para peziarah kerap terpesona oleh gadis-gadis yang mandi di sumur Cikajayaan. Mereka rata-rata berwajah manis dan bersuara bagus. Maklum, calon artis dan sinden. Nah, beberapa tiga meter dari sumur Cikajayaan terdapat sebuah sumur yang aneh bin ajaib. Orang menyebutnya Sumur Mas.

Yang mengherankan, warna air sumur ini berwarna kuning keemasan. Benda apapun yang jatuh ke dalam sumur ini, akan tampak berwarna kekuning-kuningan, persis seperti warna emas. Menurut cerita, dulu Nyi Ciptarasa pernah kehilangan sebuah perhiasan terbuat dari emas. Dicari kemana-mana tidak ditemukan. Suatu hari, terdengar suara gaib yang mengatakan bahwa perhiasan itu di salah satu sumur dan larut bersama air itu. Setelah dilihat, ternyata ada sebuah sumur yang airnya berwarna kuning keemasan. Air sumur ini konon manjur untuk pengasihan.

Yang lainnya adalah air pancur Cikahuripan (kehidupan). Air pancuran ini bersumber dari mata air yang dialirkan melalui pipa. Beberapa peziarah sering terlihat antri untuk mengambil airnya. Air ini diyakini memiliki macam-macam tuah yang intinya adalah membawa berkah untuk kehidupan di masa yang akan datang.

Menrutu kuncen Wirta, pemakaian air dari dua sumur dan pancoran ini berbeda satu sama lain. Air sumur Cikajayaan, haru dibawa pulang. Sebab menurut kepercayaan, air sumur itu akan memiliki tuah bila dipakai di rumah masing-masing. Pada jaman perang kemerdekaan dulu, air ini sering digunakan untuk membasuh luka para prajurit. Tak berapa lama ia mengalami kesembuhan. Begitu juga prajurit yang turun mentalnya, setelah dipercik air ini, semangatnya timbul kembali. *

Tiga Batu Penentu Rejeki

Tiga bongkah batu berbeda ukuran tergeletak persis di beranda depan bangunan maam Nyi Ciptarasa. Meski ukurannya berbeda, tapi tak sembarang orang bisa mengangkatnya. Inilah batu yang disebut panayogian rizki atau penentu kerejekian.

Tiga bongkah batu ini berwarna hitam legam, dengan alas batu pula. Menurut catatan, benda ini merupakan peninggalan sejarah purbakala yang dilindungi oleh undang-undang. Sayangnya, tak ada penjelasan resmi asal usul batu dan sejak kapan berada di lokasi itu. Juga tak ada keterangan dimanfaatkan untuk batu ini oleh manusia jaman purba. Yang pasti, dari segi ukuran, batu ini amat menarik hati.

Ukurannya berbeda dan posisinya berurutan mulai yang besar di sebelah kiri sampai terkecil di sebelah kanan. Menurut Wirta, ketiga batu ini disebut panayogian rizki yang dalam bahasa Indonesia berarti batu penentu rejeki. Maksudnya, siapa orang yang sanggup mengangkat batu itu, maka rejekinya akan lancar. Dan siapa yang tidak sanggup mengangkatnya, rejekinya akan seret. Ternyata, banyak pengunjung yang berhasil mengangkat batu itu.

Anehnya, ukuran bobot batu ini tak bisa ditentukan. Sebab batu paling besar yang diperkirakan seberat 50 kg, bisa saja bagaikan seberat 10 kg bila diangkat orang. Artinya, orang bertubuh kecil dan kurus pun, bisa saja mengangkat batu ini dengan mudah. “Itu semua kebesaran Tuhan. Melalui batu ini diperkirakan rejeki seseorang,” tutur Wirta kepada posmo.

Akan tetapi, sebongkah batu kecil bisa saja berbobot puluhan kilo bila diangkat. Itulah penentu kerejekian. Penuh dengan misteri dan tak bisa dinalar dengan akal sehat. Hanya saja, ada syarat saat mengangkat batu ini. Yaitu tidak boleh menimbulkan bunyi setelah diangkat. Sebab bila menimbulkan bunyi berdegum karena beratnya, maka peruntungan rizkinya musnah. Wallahu alam bissawab. *

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 30, 2012 in WACANA

 

Trilogi Pewayangan

Dari Sergio Khatulistiwa

MAKNA PERANG BHARATAYUDA DAN PERUBAHAN

Sebagai kelanjutan dari tulisan DUNIA PEWAYANGAN DAN KEKUASAAN ORDER BARU yang mengupas idealisme etika JAWA dalam pewayangan yang berkenaan dengan masyarakat dan pimpinan ideal maupun kekuasaan, wayang purwo / kulit sebagai pengertian simbolik bagi penulis tetap merupakan sumber yang tidak pernah kering untuk suatu refleksi kekinian. Kali ini penulis ingin mengajak pembaca mengupas makna simbolik dari perang Bharatayuda yaitu bagian dari Mahabharata yang mengisahkan perang saudara antara Pendawa Lima dan Kurawa (mereka adalah sama-sama cucu dari Bhegawan Abiyasa) untuk mengambil kembali kerajaan Indraprasta / Amartapura yang dikuasai oleh Hastina-pura dikarenakan kalah judi. Pendawa Lima merasa sudah melunasi hukumannya dibuang dihutan selama 12 (duabelas) tahun, dan satu tahun dalam penyamaran, tetapi Kurawa mempertahankan dan menuduh Pandawa Lima gagal melaksanakan hukumannya. (Dalam wayang purwo / kulit agak sedikit ada kerancuan bahwa penyebab peperangan disebabkan Pendawa Lima ingin mendapatkan hak Hastina-pura yang dititipkan oleh Panduwinata – ayah Pendawa Lima, yang pada saat itu raja Hastinapura – kepada kakaknya yang buta Destrarata – ayah Kurawa).
Dalam episode Bharatayuda, didalamnya terdapat kisah Bhagawatgita yaitu kisah awal dari Bharatayuda ketika Arjuna merasa sangat tidak bersemangat untuk berperang melawan Kurawa dikarenakan musuh yang dihadapi masih saudara sendiri bahkan diantara musuh yang harus dihadapi adalah para sesepuh yang sangat dihormati yaitu Resi Bisma, Pendita Durna dll. Arjuna merasa kenapa harus berperang untuk memperebutkan kerajaan, kalau perlu biarlah Kurawa menguasai kerajaan. Sri Kresna memberikan nasihat kepada Arjuna bahkan terpaksa memperlihatkan wujud Wisnu yang sebenarnya untuk meyakinkan Arjuna bahwa : Peperangan Bharatayuda bukan sekedar perang melawan saudara sendiri tapi adalah peperangan suci yang harus dilaksanakan oleh Ksatria Utama sebagai dharmanya / kewajibannya untuk melenyapkan keangkaramurkaan dan kebatilan dimuka bumi. Sri Kresna kemudian juga mengajarkan kepada Arjuna makna hidup, asal kehidupan, dan akhir kehidupan yang mengalir dalam perwujudan Wisnu yang sebenarnya yang dituliskan dalam kisah Bhagawatgita (yang juga menjadi salah satu kitab suci pemeluk agama Hindu). Dalam interpretasi perang Bharatayuda dalam kisah wayang purwo/kulit banyak versi sesuai dengan peresapan masing-masing penggemar ataupun pengamat wayang purwo / kulit yang pada hakekatnya bisa dikatagorikan dalam simbolik berupa perubahan yang bersifat micro (dalam diri manusia sendiri) dan perubahan yang bersikap macro (dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara).

Arti simbolik yang bersifat micro (dalam diri manusia secara individu) Pengertian simbolik perang Bharatayuda dalam diri manusia adalah peperangan dalam diri manusia dalam rangka mengatasi dirinya antara perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk. Adalah peperangan yang tiada henti selama hidup dari seseorang sebagai individu untuk mencari nilai budi luhur dan melaksanakan dalam tindakan nyata sehari-hari yang melawan pengaruh buruk yang bersifat kesenangan yang bisa merusak diri dan lingkungannya.

A. Bharatayuda sebagai simbol pertarungan / pergulatan etika baik dan buruk dalam diri manusia: Peperangan dalam diri manusia adalah hakekatnya perang saudara, karena apabila manusia menginginkan sifat baik yang terpancar dalam kehidupannya dia harus berani membunuh sifat buruk dalam dirinya yang berarti membunuh sebahagian dari dirinya.
Betapa sakitnya seseorang yang harus membunuh sifat dalam dirinya yang bersifat kesenangan yang merusak seperti ma-lima (lima M) yaitu (madon, madat, maling, main, mabuk yang artinya madon berarti – kesenangan dengan wanita/ sex diluar pernikahan, madat – kesenangan dengan candu / ganja / ecstacy / heroin / ataupun sejenisnya, maling – kesenangan memiliki hak / kepunyaan orang lain, main – kesenangan berjudi, mabuk – kesenangan minum minuman keras). Kalau seseorang sudah terlanjur mempunyai kesenangan seperti tadi yang merupakan sifat buruk dalam dirinya, seseorang memerlukan sikap sebagai Arjuna yang harus berani melakukan perang Bharatayuda, untuk membunuh sebahagian dari dirinya yang bersifat buruk, betapa hal itu sangat berat dan terasa menyakitkan. Dan apabila sifat Ksatria Utama yang memenangkan peperangan dalam diri seseorang,dia mampu mengatasi dirinya untuk tidak berbuat yang kurang terpuji dan berbudi luhur dalam perbuatan nyata untuk dirinya maupun untuk masyarakat sekelilingnya. Kemenangan dalam peperangan ini sebetulnya perubahan yang nyata dari sifat manusia tersebut dari manusia yang kurang terpuji sifat2-nya menjadi manusia yang terpuji sifat2-nya.

B. Bharatayuda sebagai simbol cara kematian seseorang sesuai dengan karma/ akibat perbuatannya: Dalam kehidupan seseorang selalu diuji keberpihakan-nya terhadap nilai-nilai budi luhur atau kecenderungannya terpengaruh oleh perbuatan buruk. Dalam masyarakat modern yang makin heterogen dan dengan makin terbukanya pengaruh2 berbagai budaya dari luar kadang2 agak sulit untuk mengenali dengan cepat dan mengambil garis lurus ataupun garis pemisah antara perbuatan etika moral yang terpuji maupun yang kebalikannya yang kadang agak sulit bagi kita menarik garis hitam putih. Tapi kalau kita mengkaji lebih lanjut kisah / lakon dalam wayang purwo/kulit hal tersebut bukan sesuatu yang tidak terdeteksi dalam kisah tokoh2-nya yang selalu bergulat dalam perbuatan yang terpuji maupun kurang terpuji bahkan terhadap tokoh2 yang di-ideal-kan seperti tokoh Pendawa Lima dan Sri Kresna. Hal ini adalah suatu indikasi alamiah ketidak sempurnaan manusia. Wayang purwo / kulit mengajarkan suatu budaya yang sangat bijaksana berkaitan dengan ketidak sempurnaan manusia dengan menciptakan tokoh punokawan yaitu Semar, Petruk, Gareng, Bagong yang selalu memberikan peringatan terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh para raja dan ksatria. Kalau punokawan ini secara simbolik diartikan sebagai rakyat dan inilah secara nyata sistem demokrasi dimana kelemahan dan ketidaksempurnaan manusia dicoba diatasi dengan melaksanakan sistem yang saling mengingatkan (check and balance ataupun social control) antara pihak pimpinan / raja, para ksatria, sistim peradilan, dan rakyatnya. Sistem ini menuntut semua pihak rela menerima koreksi / kritik dari pihak yang lain, dan budaya wayang purwo/kulit memberi contoh yang gamblang bahwa Semar maupun punokawan selalu mengingatkan raja / ksatria yang peringatannya / kritiknya diterima dan diperhatikan oleh raja dan para ksatria.
Beberapa contoh kisah pewayangan yang menggambarkan ketidak sempurna-an sifat2 dari tokoh yang dianggap sebagai tauladan :
1. Yudistira/Puntodewo yang terkenal kejujurannya dan kebijaksanaannya sebagai seorang raja ternyata dia mempunyai kelemahan
yang sangat fatal yaitu kesenangannya dengan judi yang kelemahan tersebut dimanfaatkan oleh Kurawa dengan arsiteknya Patih Sengkuni sehingga membawa kesengsaraan keluarganya bahkan sampai dengan negaranya, saudara2-nya, bahkan istrinya – Dewi Drupadi – dipakai sebagai barang taruhan dan sempat sangat dipermalukan didepan umum oleh Dursasono – salah satu dari Kurawa, dan akhirnya membawa Pendawa Lima harus menjalani hukuman dibuang ditengah hutan selama duabelas tahun dan melakukan penyamaran selama satu tahun.
2. Arjuna yang sangat pandai dan sakti ternyata punya kelemahan terhadap wanita yang membawanya dia terkenal kalau dengan istilah sekarang sebagai Don Yuan (biarpun beberapa pakar pewayangan hal ini diartikan sebagai simbol kegandrungan Arjuna akan ilmu pengetahuan sehingga dia selalu berguru kepada Bhegawan dan mengawini anak perempuannya yang diartikan / disimbolkan sebagai menguasai ilmu dari sang Bhegawan).
3. Sri Kresna yang terkenal bijaksana dan dikatakan sebagai titisan Wisnu ternyata kurang mampu mendidik anaknya dan terlalu
memanjakan anaknya yang akhirnya membawa pada karma kematiannya melalui seorang pemburu yang tanpa sengaja memanah kakinya – yang anak panahnya berasal dari perbuatan / kesombongan anaknya Samba (Mohon ber-hati-hati bagi yang merasa menjadi raja – dan saya tidak yakin kalau beliau membaca Internet, dan saya yakin bahwa pembantu2 dekatnya pasti ada yang membaca Internet dan pasti tidak berani mengingatkan sang raja – dan yang memanjakan anak2-nya menjadi orang yang serakah dan angkara murka bahkan Sri Kresna yang titisan dewa tidak bisa lepas dari karma akibatnya).
Contoh2 diatas masih bisa diperpanjang dengan tokoh2 seperti Abimanyu (anak Arjuna) yang membohongi istrinya, Gatutkaca (anak Werkudoro) yang memunuh pamannya sendiri, Resi Bisma yang membunuh wanita yang mencintainya, Prabu Salyo yang membunuh mertuanya, dan yang lain2-nya yang pada suatu saat dalam kehidupannya pernah melakukan perbuatan yang kurang terpuji yang balasan karma dari perbuatan buruknya terjadi pada perang Bharatayuda dan ini menjadi suatu interpretasi simbolik lainnya dari makna perang Bharatayuda secara micro (pada individu) yaitu : peperangan terakhir dari manusia menghadapi karma hidupnya, yaitu cara kematiannya adalah cermin dari seluruh cara dan perilaku seluruh kehidupannya baik ataupun buruk. Arti simbolik yang bersifat macro (dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara)

Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara manusia sebagai individu juga selalu diuji keberpihakan seseorang terhadap kelompok yang punya nilai2 luhur dan kelompok yang cenderung terpengaruh oleh perbuatan buruk. Dalam masyarakat modern yang makin heterogen dan dengan makin terbukanya suatu negara dari pengaruh-pengaruh berbagai budaya dari luar sebagai suatu dampak globalisasi kadang2 agak sulit untuk mengenali dengan cepat dan mengambil garis lurus ataupun garis pemisah antara kelompok2 yang memperjuangkan suatu etika moral yang terpuji maupun yang kebalikannya. Kalau melihat contoh2 seperti Yudistira /Puntodewo, Arjuna, dan Sri Kresna seperti tersebut diatas jelas bahwa sebagai manusia mereka tetap mempunyai sifat alamiah tentang ketidak-sempurna-an manusia. Walaupun secara umum atau bisa juga dikatakan bahwa sebagian besar perilaku yang diperbuat bisa dijadikan contoh walaupun tidak lepas dari cacat dan cela. Dengan segala cacat dan cela sebagai individu, secara kelompok mereka mempunyai suatu ciri utama yaitu mengemban tugas Pemimpin maupun Ksatria Utama yang harus selalu menegakkan kebenaran dan memerangi kelompok yang angkaramurka. Dan dari zaman ke zaman selalu saja akan muncul seorang Pemimpin yang memimpin kelompoknya untuk memerangi kezaliman yang merugikan masyarakat/rakyat banyak ataupun pihak2 yang lemah dan tak berdaya. Dan nyata2 bahwa setiap Pemimpin akan mengalami dilema seperti Arjuna yang ragu2 untuk menjalankan perannya untuk menegakkan kebenaran apabila yang dihadapi adalah para Pimpinan bangsanya sendiri, bahkan diantaranya adalah para tokoh yang dihormati seperti Resi Bisma, Adipati Karno yang oleh keterikatan historis (walaupun sebetulnya mereka tidak sependapat dengan kelakuan Duryudono sebagai raja kelompok Kurawa) ataupun dengan sejuta alasan lainnya berpihak kepada yang tidak benar. Dan perang Bharatayuda adalah simbol peperangan yang mungkin bisa timbul didalam masyarakat apabila muncul kelompok yang menjunjung tinggi etika berbudi luhur yang melaksanakan perang suci menghadapi kelompok yang zalim dan angkaramurka agar terjadi perubahan yang nyata menuju suatu tata masyarakat yang lebih baik. Bahwa pada akhirnya Pendawa Lima memutuskan untuk melaksanakan suatu perang Bharatayuda bukanlah suatu proses atau keputusan yang mudah, Pendawa Lima secara nyata telah menjalankan usaha mencegah agar perang Bharatayuda jangan terjadi dengan misi perdamaian – yang terakhir adalah lakon / cerita Kresno Duto yang mengutus Sri Kresna untuk menyelesaikan masalah secara damai yang akhirnya malah menimbulkan kemarahan yang sangat dari Sri Kresna yang hampir saja menghancur-luluhkan seluruh kerajaan Hastinapura. Secara simbolik bisa diartikan bahwa kezaliman dan keangkara-murkaan itu semacam candu/ecstacy, sekali kita didalamnya sulit kita bisa dengan mudah menjadi sadar dengan sendirinya, harus ada pihak2 yang berani memerangi dan menghancurkannya.

Diceritakan bahwa perang Bharatayuda adalah perang yang gegirisi atau sangat menakutkan -tidak ada satupun perang yang tidak menakutkan yang akan meminta banyak korban-dimana akhirnya semua seratus Kurawa dan segala Ksatria yang membantunya habis terbunuh, juga dari sisi Pendawa Lima tidak ada anak2 Pendawa Lima yang bisa lolos dari maut. Kemenangan dari Pendawa Lima harus dibayar sangat mahal walaupun akhirnya Hastinapura bisa menjadi negara yang adil makmur setelah segala keangkamurkaan Kurawa bisa dimusnahkan. Jer basuki mawa bea adalah suatu pepatah Jawa yang artinya – untuk mencapai suatu tujuan selalu ada beayanya.

Kesimpulan

Indikasi masyarakat Indonesia saat ini sangat memprihatinkan yaitu suatu kondisi yang apabila tidak dicermati ataupun disadari terutama oleh pendukung Orde Baru – dikarenakan posisinya yang memegang kekuasaan dan kekuasaan apabila berciri angkaramurka sama dengan ketagihan candu / ecstacy yang punya ciri: sekali kita didalamnya sulit kita bisa dengan mudah menjadi sadar dengan sendirinya – yang bisa menimbulkan suatu situasi radikal para kelompok yang merasa terpanggil untuk melaksanakan pembaharuan yang bisa mengidentifikasikan ebagai kelompok moralis / kelompok pro-demokrasi menghadapi pemerintahan yang zalim yang telah menjalankan Pemilu yang tidak adil, pemerintahan yang penuh korupsi dan kolusi, yang tentaranya menembaki rakyatnya sendiri, melakukan manipulasi undang2 dan peraturan yang menguntungkan kelompoknya, yang anak-anak sang pemimpin ikut campur dalam urusan berusaha dan bernegara seperti layaknya pangeran2 kerajaan dsb. Lambat atau cepat apabila tidak diatasi secara bijaksana bukan sesuatu yang tidak mungkin bisa terjadi perang Bharatayuda dibumi kita tercinta, walaupun kita semua tidak menginginkan, dan adalah sangat alami barangkali juga sebagai hukum alam bahwa selalu akan muncul kelompok moralis yang dengan segala resikonya untuk memerangi pihak yang dianggap menyimpang dari tindakan yang jujur dan terpuji dari waktu ke waktu.

Tulisan ini dibuat dengan maksud agar tercapai suatu Pemerintahan (siapapun yang melaksanakan) yang berorientasi sepenuhnya untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat secara luas.

Sergio Khatulistiwa
Quebec – Canada

Referensi:

1. Ki Ageng Mangir
2. Ir. Sri Mulyono Djojosupadmo , Apa dan Siapa Semar, 1975,P.T. Gunung Agung

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 25, 2012 in WACANA

 

Lagu Inyong kieh

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 5, 2012 in WACANA

 

DALAM berfilosofi, orang Jawa seringkali menggunakan unen-unen untuk menata hidup manusia. Makna dari ungkapan-ungkapan Jawa ini seringkali tidak dipahami oleh sebagian besar keturunan etnis Jawa di era modern ini. Maka tidak salah, jika muncul sebutan, “Wong Jowo sing ora njawani”.
Filosofi Jawa dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Warisan budaya pemikiran orang Jawa ini bahkan mampu menambah wawasan kebijaksanaan.
Berikut 10 dari sekian banyak falsafah yang menjadi pedoman hidup orang Jawa.
1. Urip Iku Urup
Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik.

2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara
Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.
3. Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.
4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha
Berjuang tanpa perlu membawa massa. Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan,kekayaan atau keturunan. Kaya tanpa didasari kebendaan.

5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri. Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.
6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
Jangan mudah terheran-heran. Jangan mudah menyesal. Jangan mudah terkejut-kejut. Jangan mudah ngambeg, jangan manja.
7. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.
8. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah. Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.
9. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.
10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna
Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti.
(Diantika PW/CN27)

 
Leave a comment

Posted by pada Desember 26, 2011 in WACANA

 

PERUBAHAN SOSIAL DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

( Disarikan dari modul-modul Pelatihan Tim FFPM )

PERUBAHAN SOSIAL
Secara historis Revolusi Industri di Inggris (1760 – 1830) dan Revolusi Perancis (1789–1794) sebagai revolusi politik memberikan gambaran besar tentang perubahan sosial. Kedua revolusi tersebut dikenal sebagai perubahan yang mengejutkan, karena merubah tatanan, peranan masyarakat, tradisi serta struktur masyarakat, dan sebagainya. Perubahan itu berangsur-angsur dan kontinyu sehingga mempunyai manfaat langsung bagi masyarakat.

Perubahan sosial dilihat sebagai proses yang menyeluruh di masyarakat dan menjadi dasar
bagi keberlanjutan perubahan-perubahan sosial yang terjadi kemudian. Belling dan Totten (1980) menyatakan bahwa perubahan sosial di Eropa sejak akhir abad ke-18 telah diawali dengan berkembangnya penggunaan, penyebaran hasil pemikiran dan teknologi baru, misalnya: senjata modern, seni cetak, ide-ide persamaan, lembaga perwakilan dan sebagainya.

Transformasi masyarakat Eropa dan gaungnya sejak saat itu terus menebarkan pengaruh di bidang-bidang sosial, ekonomi dan politik ke seluruh dunia. Perubahan sosial dapat meliputi nilai, norma, status dan peranan, sikap, tingkah laku, lembaga, organisasi, fungsi, hubungan-hubungan sosial, aspek materil dan imateril, dan seterusnya (Soemardjan dan Soemardi 1974, Oghburn, Davis, Manheim, 1979). Pada dasarnya perubahan sosial yang dilakukan oleh manusia sendiri itu bisa memperbaiki kondisi sosialnya (Locke, Simon). Perkembangan dan kemajuan hidup masyarakat merupakan satu evolusi, yaitu dari kehidupan sederhana menuju pada kehidupan yang komplek. Cara yang ditempuh didasarkan pemikiran bahwa perubahan harus melalui satu perencanaan dan menuju pada arah dan harapan yang dikehendaki (Comte). Sekalipun demikian perubahan sosial biasanya terjadi dan berlangsung dengan sendirinya.

Masyarakat merupakan sekumpulan orang-orang (individu) yang saling berhubungan, terikat nilai dan norma, menjalankan peranan dan fungsinya masing-masing serta berusaha untuk mewujudkan harapan dan cita-cita, baik perseorangan maupun bersama. Sebuah masyarakat memiliki unsur statis dan unsur yang bersifat dinamis. Unsur statis sebagaimana disebut di atas, yaitu: nilai, norma, status dan peranan orang, organisasi, lembaga, struktur sosial dan sebagainya; merupakan unsur yang menggambarkan satu kesatuan.

Perubahan sosial berpengaruh pada unsur-unsur tersebut. Perubahan dalam salah satu atau beberapa unsur berpengaruh terhadap tata kehidupan masyarakat. Unsur dinamis terlihat dari proses interaksi sosial, hubungan sosial, fungsi sosial, dan sebagainya. Unsur statis dan dinamis dimaksudkan sebagai gambaran bahwa masyarakat merupakan sosok kehidupan yang dinamis yang mengandung unsur-unsur statis. Oleh sebab itu dinamika masyarakat sebagai bentuk perubahan untuk kemajuan berbeda satu dengan yang lain atau tidak sama. Perubahan sosial yang dikenal, yaitu perubahan yang direncanakan dan perubahan yang terjadi dengan sendirinya, keduanya menunjukkan keadaan dan dinamika masing-masing.

Saat ini perubahan sosial dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu: perubahan yang disengaja (direncanakan) atau “intended change, contact change” dan perubahan yang tidak disengaja (terjadi dengan sendiri) atau “intended change, immanent change.” Perubahan yang sengaja dilakukan oleh pihak-pihak luar masyarakat melalui peranan agent of change (agen pembaharuan) yang dampaknya terlebih dulu diperkirakan oleh pihak-pihak yang hendak melakukan perubahan dalam masyarakat. Dan perubahan sosial yang tidak sengaja terjadi atau berlangsung karena kehendak atau berdasarkan dinamika masyarakat sendiri, bisa dikatakan hampir tanpa pengaruh dari pihak luar. Perubahan ini berlangsung di luar jangkauan pengawasan dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan. Namun sering dijumpai di mana perubahan yang tidak sengaja berjalan seiring
dengan perubahan yang disengaja; di mana keduanya saling mempengaruhi. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya dua perubahan sosial tersebut dapat diidentifikasi secara internal dan eksternal. Perubahan sosial yang disengaja (direncanakan) didasarkan pada:

• Faktor internal yang bersifat biologis. Satu di antaranya penduduk yang mencakup: kepadatan, migrasi, tenaga kerja, dan lain-lain. Kepadatan penduduk menyebabkan makin ciutnya pemilikan lahan pertanian, menyebabkan kemiskinan di pedesaan. Kemiskinan menimbulkan kegiatan migrasi penduduk desa-kota, beralihnya pekerjaan dari buruh tani, petani ke non usaha tani, makin meningkatnya penyerapan tenaga kerja wanita di sector non-domestik seperti industri barang dan jasa, dan sebagainya.
• Faktor internal yang adalah kebudayaan (sistem budaya) meliputi: sistem nilai, kepercayaan, norma/kaidah, kebiasaan dan pola hubungan sosial, dan sebagainya.

Mekanisme dan fungsi kerja sistem kebudayaan merupakan kontrol sosial, pengawasan sosial terhadap sikap, tingkah laku dan tindakan warga masyarakat. Gejala melemahnya pengawasan sosial di masyarakat menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Faktor eksternal, yaitu berkembangnya penggunaan dan penyebaran teknologi modern di masyarakat. Contohnya, perkembangan industri besar, sedang dan kecil yang menggunakan alat-alat berteknologi modern. Faktor teknologi ini merupakan hal penting bagi muncul dan berkembangnya kebudayaan baru di masyarakat. Kebutuhan hidup yang meningkat, menyebabkan meningkatnya jumlah maupun ragam lembaga pelayanan, organisasi dari banyak bidang kehidupan masyarakat, misalnya kebutuhan akan pendidikan, kesehatan, sosial, politik, hukum, ekonomi, dan sebagainya.

Faktor teknologi dalam hubungannya dengan perubahan sosial dipandang secara berbeda. Salah satunya melihat teknologi sebagai penentu utama bagi terjadinya perubahan sosial (determinisme teknologi). Pandangan lain melihat teknologi sebagai salah satu dari banyak faktor penyebab perubahan sosial. Yang lainnya menganggap teknologi sebagai variabel penghubung saja dari perubahan sosial. Ketiga pandangan tersebut memposisikan teknologi sebagai alat yang penggunaannya sangat ditentukan oleh kemauan dan kebutuhan manusia dan masyarakat.

Secara umum dapat diidentifikasi adanya sejumlah faktor yang mendorong terjadinya proses perubahan dalam pengertian yang luas, sebagai berikut:
• Adanya hubungan dengan kebudayaan lain.
• Sistem pendidikan maju yang berhasil.
• Sikap menghargai hasil karya orang.
• Adanya keinginan untuk maju.
• Toleransi terhadap tindakan yang berbeda.
• Sistem pelapisan sosial yang terbuka, longgar.
• Komposisi penduduk yang heterogen.
• Rasa tidak puas terhadap bidang-bidang kehidupan masyarakat tertentu.

Dari pengalaman yang ada, terdapat saluran-saluran perubahan sosial secara umum, misalnya: jalur lembaga pemerintahan, ekonomi, pendidikan dan agama. Dan kenyataan menunjukkan bahwa saluran-saluran perubahan tersebut saling berhubungan atau terkait. Contohnya, kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) telah menimbulkan perubahan mendasar kegiatan ekonomi masyarakat, naiknya biaya pendidikan, kesehatan, konsumsi, dan seterusnya. Ragam konsekuensi yang timbul karena perubahan sosial cukup tinggi. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial sebagaimana telah disebutkan dapat memiliki konsekuensi yang luas di masyarakat. Faktor biologis yang menyebabkan perubahan sosial dapat digambarkan, misalnya: jumlah penduduk yang besar dan tingkat kepadatan yang tinggi di pedesaan seperti digambarkan dalam hasil penelitian Penny dan Singarimbun (1973) di Desa Sri Harjo Bantul. Data menunjukkan 84% (n=164 keluarga) memliliki tanah kurang dari 0,2 hektar, dan sekitar 2% yang memiliki tanah seluas 0,8 hektar. Data tersebut menggambarkan bahwa kepadatan penduduk di desa itu menyebabkan kemiskinan. Faktor kebudayaan juga menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Sebagai gambaran dikemukakan persepsi baru (memudarnya) pandangan masyarakat Jawa:
”mangan ora mangan waton kumpul”, mendorong transmigrasi penduduk Jawa ke luar Jawa, pergi merantau untuk bekerja di luar Jawa dan sebagainya. Faktor teknologi yang menyebabkan timbulnya perubahan sosial diilustrasikan dalam program Keluarga Berencana (KB). Sosialisasi penggunaan alat kontrasepsi untuk mengatur kelahiran bagi pasangan kawin telah menurunkan rata-rata jumlah anak di Indonesia dari enam orang per keluarga menjadi tiga orang per keluarga. Program Bimas pertanian melalui Panca Usaha Tani (bibit, pupuk, obat, pengairan dan pengolahan lahan) di masa lalu, telah menyebabkan meningkatnya produksi padi per satuan hektar dari empat ton per hektar menjadi delapan ton per hektar, terutama di Jawa. Di sisi lain teknologi tersebut merampas kesempatan kerja pedesaan terutama dari usaha tani dan mendorong penduduk usia muda pedesaan mengadu nasib di perkotaan. Banyak contoh kasus yang memberikan gambaran tentang konsekuensi perubahan sosial di masyarakat.

PERUBAHAN SOSIAL DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

Pengembangan merupakan upaya untuk mendorong terjadinya perubahan social yang sistematik, terencana dan terkontrol. Perencanaan dan pengawasan yang teratur menjadi cara pendekatan untuk menggerakkan masyarakat agar terjadi perubahan ke arah perbaikan taraf hidupnya.

Perubahan sosial (perbaikan) tersebut mencakup segi kehidupan bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Nilai sosial budaya sebagai yang intrinsik benar-benar dijunjung tinggi dan dihormati, sedangkan hal-hal baru (dari luar) sebagai hal yang bersifat ekstrinsik perlu disaring dan diserap untuk memperkaya pengetahuan dan wawasan. Hal-hal tersebut berguna atau bermanfaat bagi kehidupan yang menjunjung tinggi harkat sosial dan kemanusiaan.

Persoalan lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa setiap masyarakat memiliki
sifat dinamis yang tidak sama, karena masing-masing memiliki perbedaan kondisi dan sifat
internal maupun eksternal. Setiap masyarakat memiliki ciri-ciri kekal (permanen) yang dalam hubungannya dengan upaya pemberdayaan bisa membantu dalam mencermati sifat positif atau negative bagi upaya untuk mengembangkan kehidupannya. Ciri-ciri tersebut harus ditemukan (diidentifikasi) keberadaan dan fungsinya di masyarakat. Beberapa di antaranya dapat ditemukan dalam ikatan nilai dasar (rootedness), kohesi sosial, kapital sosial dan individu,
serta rasa memiliki warga masyarakat.

 
Leave a comment

Posted by pada Desember 26, 2011 in WACANA

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.