Lanjut ke konten

MITOS KELOMPOK

Istilah kelompok dalam kamus PNPM-MPd sudah tidak asing lagi. Familiar sekali perkataan:  “UPK akan menyalurkan dana pada Kelompok ataupun pembinaan ke Kelompok”. Kelompok disini adalah sekumpulan orang yang bersepakat dan bekerjasama membangun sumber pelayanan keuangan dengan tujuan ingin meningkatkan usaha produktif dan perekonomian seluruh anggotanya beserta keluarganya. Tentunya di PNPM-MPd Kelompok tersebut terbagi kepada dua jenis yaitu Kelompok Simpan Pinjam Khusus Perempuan (SPP) dan Usaha Ekonomi Produktif (UEP).

Bermula pada tahun 2009, UPK Kecamatan Sindang mendapatkan amanah untuk mengelola Dana BLM yang diperuntukkan untuk SPP. Dana awal tersebut terserap sebesar Rp. 354.000.000. Sampai tahun 2012, UPK Sindang sudah melakukan perguliran sebanyak 8 kali dengan dana total yang digulirkan sebesar Rp. 2.612.000.000. Terdiri dari perguliran tahun 2011 sebesar Rp. 997.000.000 dengan 69 kelompok pemanfaat dan pada tahun 2012 sebesar Rp. 1.615.000.000 dengan 98 kelompok pemanfaat. Eskalasi tersebut dapat dibilang membanggakan sekali dilihat dari usia UPK Kecamatan Sindang yang baru seumur jagung.

Meskipun demikian, tidaklah hal tersebut seiring sejalan dengan perkembangan kelompok. Setidaknya ketika saya sebagai Fasilitator Kecamatan masuk pada tahun 2010 sampai dengan sekarang tahun 2012. Banyak sekali permasalahan terkait kelompok mulai dari kemacetan, pertengkaran dalam kelompok, penyelewengan oleh pengurus kelompok sampai permasalahan “Mitos Kelompok”. Walaupun begitu, apresiasi juga diberikan pada pengurus UPK Kecamatan Sindang, Kelembagaan (BKAD, BUPK, TV Perguliran) serta KPMD Pemberdayaan dalam pembinaan kelompok yang sinergis serta pencapaian perkembangan kelompok yang hampir 90% termasuk Kelompok Berkembang.

Ketertarikan saya kali ini tertuju pada Mitos Kelompok. Sebenarnya tidak ada dalam literatur PNPM-MPd terkait Mitos Kelompok ini.  Istilah tersebut sengaja saya buat terkait hal-hal yang tidak termasuk kategori Permasalahan Kelompok sesuai PTO. Setidaknya menurut saya hal ini nyata ada di setiap kelompok.

Sebagai awal titik masuk saya dalam pembinaan kelompok adalah ketika verifikasi kelompok. Ketika diverifikasi oleh TV Perguliran, selalu tercetus “yang penting mah lancar pak” atau “urang mah tos ibu-ibu tong disuruh ngisian pembukuanlah lieur” bahkan “abdi mah isin ditempel spanduk kelompak ngaraos ngutang ka UPK” perkataan tersebut terlontar baik dari kelompok baru ataupun lama. Sontak hati terkejut sekaligus sedih kenapa sampai terlontar perkataan tersebut. Beranjak dari kejadian tersebut, evaluasi dan pembinaan kelompok kedepannya menjadi agenda yang serius dan perlu diluruskan.

Sebenarnya UPK Kecamatan Sindang dan Kelembagaan rutin membina kelompok sesuai pakem prosedur PTO dan SOP Kelompok, akan tetapi tidak serta merta membuat kelompok mengikuti aturan main tersebut. Menurut asumsi saya, pembinaan konvensional tersebut hanyalah menyentuh permukaannya saja, tetapi belum menyentuh dan mengubah pendirian alam bawah sadar kelompok. Hal ini terkait dengan setidaknya tiga (3) mitos tersebut.

Pertama, perkataan “yang penting mah lancar pak” perlu diluruskan kembali. Kita jangan terlena dengan perkataan tersebut. Bagi kelompok yang berpendapat demikian memang bagus, tetapi hanya bersifat jangka pendek saja. Sebab ini menyiratkan kelompok beserta anggotanya menuju penghalalan segala cara dan sekaligus mengajarkan tindakan yang tidak bertanggungjawab.

Menanggapi soal ini, cerita “Ayam mengerami telur” cocok untuk sampaikan; “Alkisah ada seekor ayam betina yang sedang mengerami telurnya, ternyata dari tiga telur tersebut dua diantaranya menjadi anak ayam, tetapi satu lainnya menjadi ular. Ternyata dua selalu dierami, tetapi yang satunya tidak bahkan dimakan oleh ular kecil. Anak ayam pasti mengikuti induknya, tetapi ular sebaliknya bisa mematuk atau bahkan memakannya”. Hal ini juga berkaitan erat dengan kondisi kelompok apabila pengurus kelompok tidak bisa mengatur, memahami permasalahan anggota bahkan membiarkannya maka lambat laun masalah pasti akan muncul dari anggota kelompoknya sendiri.

Kedua, perkataan “urang mah tos ibu-ibu tong disuruh ngisian pembukuanlah lieur” menjadi bumerang bagi kita sendiri. Tindakan awal yang perlu dilakukan diantaranya pastikan jumlah dan usia kelompok tersebut. Kebanyakan kategori kelompok tersebut mempunyai anggota yang berusia sekitar 35 – 55 an. Tekankan bahwa pembukuan hanyalah berupa catatan-catatan yang sederhana dan tidak menyita waktu kelompok bahkan seperti halnya catatan pemasukan dan pengeluaran ibu-ibu sehari-hari. Selain itu, dipastikan juga yang menjadi bendahara dipilih berdasarkan usia yang lebih muda.

Cerita “Idola saya adalah Soekarno bukan Bapak saya” selalu disampaikan kepada kategori kelompok ini: “Bahwa idola saya dari dulu adalah Soekarno meskipun belum pernah bertatap muka, tetapi kita mengenalnya melalui catatan dan buku yang tersebar dan terdokumentasikan dengan baik. Apakah saya berdosa karena mengidolakan Soekarno bukan Bapak saya? Sebab tidak ada satupun catatan yang tersisa dan terdokumentasikan dari Bapak saya. Apakah saya bersalah?”

Ketiga, perkataan, “abdi mah isin ditempel spanduk kelompak ngaraos ngutang ka UPK” ini menyiratkan kurangnya kepercayaan diri kelompok bahkan menunjukkan ekspresi malu menjadi nasabah UPK. Usaha kelompok adakalanya maju ataupun mundur, tidak bisa diperkirakan. Bahkan seorang pengusaha besar sekalipun mengalami hal yang sama. Bandingkan saja pengusaha besar saja meminta suntikan dana alias ngutang sampai miliaran bahkan triliunan dan resikonya pun besar. Hal ini sama saja dengan kelompok sebagai pengusaha kecil, tidak harus malu atau kurang pede bila disebut sebagai nasabah UPK. Sebenarnya selama kelompok mempunyai usaha yang jelas dan menerapkan tanggung renteng tidak ada yang harus dikawatirkan. Itulah cerita “Pengusaha vs Kelompok” sebagai jawaban saya ketika berkunjung ke kelompok.

Gambaran besarnya, ada dua (2) poin yang harus mulai dibenahi oleh kita. Pertama, ubahlah gaya bahasa ketika melakukan pembinaan ke kelompok. Alangkah lebih baiknya menggunakan bahasa persuasif (mengajak) bukan menyuruh serta menekankan AMBAK (“apa manfaatnya bagiku”) terlebih dahulu.  Hal ini berdampak pada cara berpikir, menanamkan nilai-nilai baru sekaligus mengubahnya melalui tindakan yang nyata. Kedua, ubahlah pola ceramah atau penjelasan yang menjemukan dengan sebuah cerita kiasan. Mengingat kebanyakan kelompok merupakan warga desa yang hampir rata-rata tamatan SD/ SMP.

Sebuah Catatan M. Hikmat F.

Antara Blusukan dan Gaya Formalitas

Terlepas dari pro-kontra “blusukan” gaya jokowi, “blusukan” seharusnya menjadi inspirasi  bagi pemimpin negeri ini untuk lebih dekat lagi dengan masyarakat meskipun dengan berbagai pendekatan yang berbeda.. Untuk bisa melakukan “blusukan” bagi seorang pemimpin tidak semudah seperti yang dilakukan oleh Jokowi.  harus memiliki kesiapan mental yang sangat tinggi dengan tetap menyeimbangankan kecerdasan emosional pada saat melihat realitas, aspirasi, kritikan dll, serta tetap menggunakan kecerdasan inteletualnya, sehingga konsep ide gagasan yang sudah di rancang tetap konsisten dalam koridor ketentuan perundangan atau aturan yang berlaku, di tengah ketidak tahuan masyarakat terhadap kondisi realitas yang sedang dihadapi pemimpinnya, karena cenderung masyarakat melihat dari sisi instannya peneyelesaian terhadap suatu masalah yang di hadapi.

Tidak mudah pula bagi semua  yang bernama pemimpin publik mampu “blusukan” kalau pun turun ke lapangan tetap saja terkesan angkuh, tidak tulus, meski mulut dan perkataan di buat sedemikian indah, tetapi keikhlasan akan memperlihatkan bagaimana ketulusan seorang pemimpin bisa diterima oleh  rakyat, hal ini tercermin bagaimana gaya berkomunikasi, gaya  gerak gerik  panca indera terhadap respon spontan yang terjadi di lapangan/masyarakat. Menurut Ust. Aa Gym Respon spontan itu adalah akhlak.  Akhlak dibangun dari kedalaman  individu terhadap diri dan penciptanya, hubungan sosial, dan hubungan dengan semesta alam. Sehingga agak sulit sepertinya pemimpin publlik yang sejak dari awal dan  tidak terlahir dari rakyat atau tidak memahami rakyat kemudian mencoba mengadopsi sebuah gaya blusukan sebagai pendekatan.

“Blusukan” oleh sebagian pengamat politik di sebut juga bagian politik pencitraan, tetapi rakyat atau masyarakat akan bisa melihat lebih dalam dari para pengamat politik yang biasa berceloteh di TV dan berdebat membahas sesuatu yang entah bermanfaat atau tidak? Masyarakat mampu merasakan getaran pemimpin melalui sebuah proses resonansi komunikasi masyarakat yang tidak terbatas teropini oleh kekuatan media, dan inilah nilai keikhlasan masyarakat yang terbebas dari kepentingan kekuasaan atau kepentingan politik. Ketajaman ini bisa di lihat dan dirasakan masyarakat, karena ia tidak menjadi bagian pertarungan kepentingan, dan sangat berbeda dengan pengamat atau elite politik ia tidak akan ikhlas  dalam dalam meberikan pendapat dengan  kejujuran nurani atau kepentingan.

Kualitas “Blusukan” oleh seorang pemimpin akan di rasakan menjadi  sinergi dengan kehendak rakyat jika pemimpin itu betul betul merasa bagian dari masyarakat itu sendiri, ia senantiasa berada di masyarakat, mencintai masyarakat , belajar bersama masyarakat dari apa yang  mereka ketahui, maka akan muncul kekuatan kerja antara pemimpin  dan masyarakatnya menciptakan tujuan bersama  yang di cita-citakannya, maka seorang pemimpin hendaklah ia seorang fasilitator bukan kekuasaan.

Pemimpin dengan tipe kekuasaan biasa melakukan kegiatan bersifat seremonial  melalui proses mobilisasi masyarakat atau rakyat, dan ini lah yang terjadi pada umumnya di negeri ini,  rakyat berbondong-bondong dimobilisasi kekuatan keuasaan hanya untuk mendengar orasi/pidato seorang pemimpin. Pendekatan seperti ini memang sangat efektif karena tidak butuh energi banyak berbeda dengan  blusukan  yang tentunya membutuhkan stamina tinggi  dan energi yang lebih banyak, tetapi  berapa besar pengorbanan masyarakat yang dipaksan hadir berbondong-bondong hadir ke tempat pertemuan.  Kehadiran pemimpin  ke masyarakat melalui bentuk pengerahan masal cenderung bersifat politis dan di bumbui kepentingan pejabat hirarkis yang memilki strukturan kekuasaan dan kekuatan untuk menggerakan masyarakat, pemimpin seperti ini berarti sudah terjebak dalam politisasi kepentingan struktural dibawahnya, yang berharap memdapatkan simpati dan pujian pemimpinnya. Padahal masyarakat semakin kurang mengapresiasi, karena cenderung terpaksa dan rakyat berkorban untuk bisa hadir dalam kegiatan yang di mobilisasi. Ini tentunya mengulang proses  orde baru dalam tatanan hubungan pemerintah dengan masyarakat. Dan ini merupakan budaya kolonial dan feodal yang dahulu sering dilakukan oleh pembesar negara terhadap rakyatnya, meskipun terdapat beberapa pembesar kesultanan/kerajaan yang juga pernah “blusukan” katakan seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX, menurut cerita masyarakat jogyakarta, seringkali bertemu sri sultan di pasar dengan melakukan penyamaran.

Kedua model baik pendekatan blusukan dan pendekatan mobilisasi ini penulis yakini menjadi trend pemimpin saat ini di era dimana politik menjadi panglima saat ini.  Kesadaran dan Kecerdasan pemimpin seharusnya bisa menangkap apa yang menjadi nilai-nilai baik dan buruk daripendekatan yang sudah dilakukan saat ini.

KEPEMIMPINAN

Pemimpin adalah seorang yang akan memimpin seseorang atau beberapa orang. Seorang pemimpin akan selalu menjadi teladan bagi bawahannya, dan seorang memimpin harus mempunyai beberapa disiplin ilmu atau kemampuan untuk menjalankan tugasnya sebagai pemimpin. Menurut hakikatnya seseorang dapat menjadi seorang pemimpin jika orang tersebut pernah dipimpin oleh orang lain, dasar philosofi tersebut telah di tentukan oleh pengaruh manusia sebagai manusia sosial. Dan menurut para ahli bahwa seorang pemimpin yang baik adalah seseorang yang pernah merasakan dipimpin oleh orang lain, karena atas dasar inilah seorang pemimpin dapat mengetahui dan merasakan bagaimana dipimpin oleh atasannya, serta ia pun akan mengetahui berbagai kekurangan dan kelebihan selama ia dipimpin oleh orang lain. Pengalaman tersebut menurut para ahli dapat menjadi barometer ketika ia menjadi seorang pemimpin

Tujuan Kepemimpinan

  1. Memahami dan mengenali kekuatan dan kelemahan diri pribadi dan orang lain.
  2. Memiliki keterbukaan terhadap timbal balik pendapat orang lain, serta meningkatkan kesadaran akan potensi yang dimiliki
  3. Memahami berbagai perspektif dalam teori kepemimpinan
  4. Mengembangkan perilaku kooperatif dan konstruktif dalam bekerjasama untuk mencapai tujuan.
  5. Mengembangkan potensi-potensi pribadi yang dimiliki dalam menjalankan fungsi dan peran sebagai pemimpin.

Kepemimpinan

Kepemimpinan (Leadership) merupakan inti sari manajemen. Dengan kepemimpinan yang baik, proses manajemen akan berjalan lancar dan orang yang terlibat dalam kepemimpina kita akan bergairah akan melaksanakan tugas-tugasnya. Gairah kerja produktivitas kerja, dan proses manajemen suatu organisasi akan baik, jika tipe, gaya, cara atau style kepemimpinan yang diterapkan manajemennya yang baik.

Fungsi-funsi Kepemimpinan

  1. Pengambilan keputusan dan merealisasikan keputusan itu
  2. Pendelegasian wewenang dan pembagian kerja kepada para bawahan.
  3. Meningkatkan daya guna dan hasil guna semua unsur manajemen.
  4. Memotivasi bawahan, supaya bekerja efektif dan bersemangat
  5. Mengembangkan imajinasi, kreatifitas dan loyalitas bawahan.
  6. Pemrakarsa, pengiatan dan pengendalian rencana.
  7. Mengkoordinasian dan mengitregrasian kegiatan-kegiatan bawahan.
  8. Penilaian prestasi dan pemberian teguran atau penghargaan kepada bawahan.
  9. Pengembangan bawahan melalui pendidikan atau pelatihan,
  10. Melaksanakan pengawasan melekat (waskat) dan tindakan-tindakan perbaikan jika perlu.
  11. Memelihasa aktivitas-aktivitas perusahaan sesuai denga izinnya.
  12. Mempertanggungjawakan semua tindakannya kepada pemilik, anggota dan pemerintah.
  13. Membina dan mempertahankan kelangsungan hidup organisasi.
  14. Pemberian kompensasi, ketenangan dan keselamatan bagi karyawan.
  15. Dan lain sebagainya.

 Unsur-unsur Kepemimpinan 

  1. Pemimpin ( Leader = Head ) adalah orang yang memimpin
  2. Bawahan ( pengikut ) adalah orang-orang yang dipimpin.
  3. Organisasi adalah alat dan wadah untuk melakukan kepemimpinan.
  4. Tujuan ( objective ) adalah sasaran yang ingin dicapai.
  5. Lingkungan adalan internal dan eksternal organisasi.

Macam-macam Wewenang Pemimpin

  1. Formal Authory ( Wewenang Resmi ) adalah wewenang yang sah yang dimiliki seorang pemimpin.
    1. Top down authory, adalah wewenang yang berasal dari kekuasaan pemimpin puncak kepemimpin yang lebih rendah
    2. Bootom-up, adalah wewenang yang mendasarkan diri pada teori penerimaan ( acceptance theory ).

2.  Personal Authority ( Kewibawaan) adalah wewenang  karena  wibawa yang dimiliki seorang pemimpin . Misalnya karena kecakapan, pendidikan, kepribadian, usia sehingga ia dapat mempengaruhi kehidupan kelompok dan kepuasan bawahannya.

Wewenang resmi (Formal Authority) ini dapat didelegasikan, sedangkan kewibawaan (Personal Authority) tidak dapat didelegasikan. Personal Authority akan mendukung Formal Authority, artinya jika seorang pemimpin berwibawa maka pelaksanaan tugas-tugasnya akan lebih lancar dan mendapat dukungan yang berarti dari bawahannya.

Hal-hal yang menyebabkan seseorang menjadi seorang pemimpin adalah :

  1. Tradisi (Warisan), artinya seseorang menjadi pemimpin karena warisan (keturunan), misalnya raja atau ratu Inggris dan Belanda.
  2. kekuatan Pribadi, artinya seseorang menjadi pemimpin karena kekuatan pribadinya, baik karena kecakapannya maupun kekuatan fisiknya.
  3. Pengangkatan atasan, artinya seseorang menjadi pemimpin karena diangkat oleh pihak atasannya.
  4. Pemilihan, artinya seseorang menjadi pemimpin berdasarkan hasil pemilihan anggota. Hal ini didasarkan pada konsep penerimaan atau acceptance theory, anda menjadi pemimpin dan akan mentaati instruksi dan pengarahan anda.

Pemimpin hasil pemilihan biasanya lebih baik, karena pemilih akan mempertimbangkan hal-hal berikut:

  1. Keinginan, keseriusan dan kemauan calon untuk memimpin.
  2. Kecakapan dan kecerdasan calon membuat konsep dan dengan uraiannya yang logis.
  3. Kecakapan, kreatifitas dan keefektifan calon untuk berkomunikasi.
  4. Tingkah laku, kejujuran dan moral calon yang baik.
  5. General knowledge, Special knowledge, pendidikan dan pengalaman calon.
  6. Kemampuan menciptakan dan menjalin hubungan-hubungan yang baik internal maupun eksternal organisasi si calon.

Cara-cara atau gaya kepemimpinan yang dilakukan seorang pemimpin dalam mempengaruhi bawahannya tidak sama. Hal ini disebabkan oleh latar belakang si pemimpin, organisasi, pengikut dan lingkungan.

Gaya-gaya kepemimpinan yaitu:

  1. Kepemimpinan Otoriter, yaitu falsafah pemimpin bawahan adalah untuk pemimpin dan menganggap dirinya yang paling berkuasa.
  2. Kepemimpinan Partisipatif, yaitu Falsafah pemimipin, pemimpin adalah untuk bawahan, dan bawahan diminta untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan dengan memberikan informasi, saran dan pertimbangan
  3. Kepemimpinan Delegatif, yaitu Seorang pemimpin medelegasikan wewenang kepada bawahanya dengan agak lengkap. Sehingga bawahan itu dapat mengambil keputusan dan kebijakan dengan agak bebas atau leluasa dalam melaksanakan pekerjaannya.

Teori tiga dimensi kepemimpinan ini didasarkan atas tiga komponen penting yaitu :

  1. Orientasi tugas, Dilihat dari kualitas keinginannya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan
  2. Orientasi hubungan, Dilihat dari kualitas perhatiannya terhadap hubungan dengan orang lain, baik hubungan vertical horizontal, tetapi ada juga hubungannya hanya bersifat formal saja.
  3. Oerintasi efektifitas, Dilihat dari kemauannya untuk memperoleh produktifitas yang tinggi.

Tipe dan gaya kepemimpinan:

  1. Deserter, pemimpin yang perhatiannya terhadap produksi maupun kesejahteraan bawahannya sangat rendah
  2. Bureaucrat, Pemimpin yang selalu mentaati prosedur dan peraturan organisasi.
  3. Missionary, pemimpin yang hanya berorientasi pada orang yang melaksanakannya
  4. Developer, pemimpin yang memiliki orientasi atas efektifitas dan hubungan baik dengan orang lain
  5. Autocrat, pemimpin yang mempunyai orientasi pada tugas saja
  6. Benevolent Autocrat, pemimpin yang memiliki orientasi pada tugas dan efektifitas
  7. Compromiser, pemimpin yang memiliki orientasi pada tugas dan hubungan baik dengan orang lain
  8. Executive, Pemimpin yang memiliki tiga sifat : orientasi pada tugas, orientasi pada hubungan baik dan orientasi pada efektifitas      Kepemimpinan Organisasi

Secara sederhana kepemimpinan dapat dipahami sebagai proses dinamis mempengaruhi dan memperkembangkan orang, kelompok atau komunitas untuk mencapai suatu tujuan bersama Dari pengertian ini terdapat beberapa unsur kepemimpinan yang perlu dipahami;

  1. Adanya yang dipimpin; pribadi, anggota kelompok, atau komunitas masyarakat
  2. Adanya pemimpin selaku motor utama dalam mengkoordinir seluruh perangkat organisasi untuk dapat bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Untuk menjadi pemimpin yang baik, ada beberapa kualifikasi yang harus dipenuhi, tetapi karena keterbatasan ruang, tidak akan dibahas di sini.
  3.  Adanya kegiatan yang menggerakan atau melibatkan orang. Kegiatan tersebut merupakan proses organisatoris untuk mewujudkan cita-cita organisasi
  4. Adanya tujuan yang hendak dicapai. Tujuan organisasi perlu ditegaskan sejak awal, karena setiap proses dan aktivitas organisasi akan didorong pada pencapaian tujuan tersebut. Tujuan organisasi bisa dikelompokan menjadi tiga, yaitu tujuan jangka pendek, tujuan jangka menengah, dan tujuan strategis jangka panjang.
  5. Adanya proses dalam kelompok.  Proses dalam kelompok yang dimaksudkan di sini adalah terciptanya suatu mekanisme kerja organisasi dalam kerangka vitalisasi organisasi.

Kepemimpinan Eektif

Memahami istilah dan kata efektif akan lebih dikaitkan kepada kemampuan untuk merancang, mengatur, melaksanakan dalam bentuk kerja yang lebih relevan, tepat pada sasaran, dan tidak membuang-buang waktu. Dalam konteks ini lebih sering dipergunakan istilah Pengorganisasian dan Organizer (Pemimpin) yaitu orang yang melakukan pengorganisasian

Efektivitas kepemimpinan ditentukan oleh beberapa faktor penting diantaranya adalah sebagai  berikut :

  1. Mampu melakukan penempatan orang-orang yang tepat dalam sebuah Tim Kerja yang solid dan bisa diandalkan. (right man on the right place)
  2. Mampu menciptakan dan membentuk Tim Kerja yang efektif
  3. Mampu merancang program kerja yang baik, konkrit serta produktif
  4. Mampu memadukan secara serasi potensi sumber daya manusia dan potensi sumber daya lainnya secara serasi untuk pencapaian tujuan.
  5. Mampu menentukan Sasaran & Target yang relevan berdasarkan orientasi program kerja yang dibuat serta dengan pengaturan dan periodisasi waktu yang relevan.

Menjadi Pemimipin yang Baik

Pembahasan kepemimpinan yang telah diuraikan diatas perlu dibarengi dengan kemampuan individual pemimpin untuk Menilai dirinya sendiri. Hal tersebut mengingat bahwa seorang Pemimpin setidak-tidaknya memiliki beberapa kriteria yaitu :

Kredibilitas

Kemampuan untuk dapat dipercaya orang lain.  Untuk itu seorang pemimpin yang baik setidaknya memiliki :

  • Sifat yang jujur
  • Memiliki integritas yang tinggi
  • Mempunyai tanggung jawab
  • Konsisten
  • Tidak korup
  • Mematuhi kesepakatan bersama.

Kualitas

kemampuan individual pemimpin, yang akan ditentukan berdasarkan

  • Cara dan pola berpikir yang kritis, jernih, dan konstruktif.
  • Kreatif dalam berpikir dan bertindak
  • Sikap terbuka dan transparan khususnya dalam setiap perkembangan

Akseptabilitas

yakni kemampuan untuk melakukan interaksi dan komunikasi dengan orang lain dan lebih bersifat manajerial seperti :

  • Memprioritaskan produktivitas kerja
  • Sikap Pro-aktif, Edukatif dan dapat memotivasi kreativitas
  • Melakukan penjabaran konsep
  • Menetapkan dan melakukan langkah-langkah strategis dan taktis

 

Darah Juang

http://profnazly.blogspot.com/2011/10/lagu-perjuangan-mahasiswa-darah-juang.html

menghitung kebutuhan genteng

Sejarah Sumedang

Hasil evaluasi PNPM Mandiri

Video

Sejarah sangiang

Sejarah Majalengka

Video

PNPM Creatif Desa Jatipamor Kec. Panyingkiran Kab Majalengka

%d blogger menyukai ini: